Hoaks Berujung Kematian di Wamena

Tim Editor

Photo by Hasan Almasi on Unsplash

Jayapura, era.id - Entah apa yang sedang dipikirkan si penyebar hoaks ucapan rasisme oknum guru terhadap seorang siswanya di Wamena, Papua. Satu yang pasti, akibat berita hoaks itu, 16 orang meninggal dunia sia-sia.

Belasan orang itu dipastikan meninggal dalam aksi anarkisme di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (23/9) sekitar pukul 09.00 WIT. Mereka yang jadi korban umumnya adalah pendatang dan warga asli setempat. Masih ada juga 65 orang lagi yang luka-luka dan sedang dirawat di rumah sakit umum daerah Jayawijaya.  

Dandim 1702/Jayawijaya, Letkol Inf Chandra Dianto menjelaskan, ada sekitar 1.500 warga yang mengungsi ke Markas Kodim 1702/Jayawijaya. Sementara 3.000 warga lainnya juga mengungsi ke Polres Jayawijaya. Mereka ditampung di tenda-tenda yang disediakan oleh aparat keamanan.

"Untuk makanan, saat ini agak kesulitan dan kita gunakan stok yang ada di Kodim. Situasi masih mencekam," kata Dandim Chandra lewat gawainya, Senin malam (23/9/2019). 

Ia mengatakan, ribuan warga ini memilih mengungsi lantaran trauma atas tindakan anarkis massa yang membakar sebagian rumah dan harta benda miliknya. Mereka masih dikejar bayang-bayang ketakutan dan terancam kelaparan.




"Anggota kami selalu standby 24 jam untuk mengantisipasi aksi susulan yang dimungkinkan terjadi pada malam hari atau pagi besok," tandasnya.

Sebelumnya, kabar desas desus di media sosial yang memuat dugaan rasial oleh oknum guru terhadap seorang siswanya telah membuat sekelompok pelajar beringas di Kota Wamena, pagi tadi. Sekitar 200 pelajar yang merupakan siswa SMA PGRI itu sempat tawuran dengan pelajar dari sekolah lainnya lantaran menolak bergabung dalam aksi tolak rasisme, lalu melakukan aksi anarkisme.

Akibatnya, sejumlah pertokoan dan rumah warga serta sejumlah kendaraan, jadi objek amukan massa. Bupati Jayawijaya, Jhon Richard Banua sempat menenangkan massa dan meminta mereka untuk tidak termakan isu hoaks tersebut. Bukannya tenang, massa malah makin brutal. Kantor Bupati Jayawijaya, Kantor Bappeda, Kantor Diskominfo, dan beberapa kantor dinas pemerintahan lainnya, termasuk kantor PLN dibakar. 

Kapolda Papua Irjen Pol Rudolf Alberth Rodja memastikan informasi yang beredar di media sosial terkait rasial oleh oknum guru itu adalah tidak benar. Tim siber Polda Papua dengan kerjasama Polres Jayawijaya masih memburu para penyebar hoaks tersebut.

"Guru tersebut sudah kami konfirmasi bahwa dia tidak pernah mengeluarkan kata-kata rasis. Jadi kami berharap masyarakat Wamena dan Papua tidak mudah terprovokasi oleh berita-berita hoaks yang belum tentu kebenarannya," imbau Rodja. (Paul Tambunan)

 

Tag: kkb papua

Bagikan: