Cacat Desain Pesawat Jadi Penyebab Jatuhnya Lion Air JT-610

Tim Editor

Ilustrasi Boeing 737 Max 8 (Foto: Twitter @LionAirID)

Jakarta, era.id - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia dikabarkan telah menyelesaikan tahap akhir penyelidikan soal kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018. KNKT menemukan sejumlah fakta baru sebagai penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX yang menewaskan 189 penumpang itu.

Menurut draft laporan KNKT yang diterbitkan, The Wall Street Journal, Senin (23/9) para penyelidik mengidentifikasi serangkaian kesalahan pilot dan kesalahan perawatan; serta kekurangan dalam desain dan persetujuan peraturan AS. Laporan tersebut merupakan temuan pertama otoritas Indonesia yang bakal dipublikasikan secara resmi bulan November mendatang.

Menurut draf laporan itu, penyelidikan kecelakaan Boeing 737 Max dipusatkan pada sistem anti-stall yang disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang dirancang khusus untuk 737 MAX. Sistem itu secara otomatis mengambil alih pengendalian pesawat untuk mencegah hidung pesawat terangkat terlalu tinggi dalam kecepatan terlalu rendah, yang akan mengakibatkan pesawat jatuh. Sistem secara otomatis akan menukikkan hidung pesawat ke bawah dan menambah kecepatan.

Penyebab kecelakaan ini serupa dengan insiden jatuhnya pesawat Boeing 737 Max milik maskapai Ethiopian Airlines beberapa bulan kemudian. Pesawat jatuh tak lama setelah lepas landas dari Addis Ababa dan menewaskan 157 penumpang. 

"Dalam kasus itu, pilot juga berusaha menaikkan hidung pesawat, setelah sistem MCAS secara otomatis menukikkan hidung pesawat karena salah fungsi," kutip era.id dari Wall Street Jurnal, Selasa (24/9/2019).



Atas temuan itu, Juru Bicara Boeing masih enggan berkomentar lebih jauh terkait hasil investigasi sementara KNKT yang sudah dibagikan kepada Administrasi AS, FAA, dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional/NTSB. Terlebih para pejabat AS dijadwalkan mengunjungi Indonesia pada akhir September untuk membahas laporan tersebut.

Mengutip CNNIndonesia, petinggi KNKT juga menolak berkomentar terkait bocoran hasil investigasi awal yang ditulis Wall Street Jurnal. Mereka mengatakan proses penyelidikan penyebab pesawat Lion Air JT610 jatuh, sudah memasuki tahap akhir.

Sementara itu, otoritas keselamatan penerbangan AS akan menyampaikan beberapa rekomendasi mulai dari panduan kemampuan menerbangkan pesawat secara manual hingga memperbaiki desain pesawat baru oleh Federal Aviation Administration (FAA).

"Badan keselamatan transportasi AS ditargetkan pada akhir September untuk meningkatkan pelatihan di kokpit pesawat dan mekanisme pengambilan keputusan oleh awak kabin," tulis Wall Street Jurnal.


Serpihan-serpihan yang berhasil ditemukan, tampak bagian berwarna merah milik Lion Air

Hingga saat ini, otoritas Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) masih melarang seluruh armada Boeing 737 Max masih dilarang untuk mengudara. Keputusan itu diambil setelah FAA memperluas evaluasi terhadap seluruh keluarga Boeing 737 series, menyusul kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines.

Hal ini juga menyebabkan Boeing menderita kerugian besar, setelah banyaknya maskapai penerbangan yang membatalkan pesanan ratusan pesawat 737 Max series. Produsen pesawat asal Amerika Serikat (AS) tercatat merugi hampir 2,942 miliar dolar AS atau setara Rp41,18 triliun.
 

Tag: lion air jatuh pegawai kemenkeu jadi korban pesawat jatuh boeing

Bagikan: