Tudingan Ambulans Penyuplai Batu Membawa Masalah

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Informasi mobil ambulans yang dituding menyuplai batu dan bensin pada aksi demonstrasi berujung rusuh, malam tadi, simpang siur. 

Informasi ini menjadi viral setelah Twitter dan Instagram TMC Polda Metro Jaya mengunggah video yang memperlihatkan mobil ambulans berlogo PMI dan Puskesmas Pademangan Jakarta Utara yang disebut oleh perekam video sebagai pembawa batu.

Mobil tersebut dibawa ke Mapolda Metro Jaya pada Kamis dini hari sekitar pukul 02.14 dari dekat Gardu Tol Pejompongan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Saat ini, unggahan video di Twitter dihapus pada hari ini, Kamis pukul 10.50 WIB. Namun, video tersebut masih bisa dilihat di akun Instagram TMC Polda Metro Jaya hingga pukul 14.30 WIB.


Tangkap layar unggahan TMC Polda Metro di Twitter (Foto: Istimewa)

Informasi ambulans membawa batu dibantah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan PMI. Dia meyakini, petugas ambulans dari Pemprov DKI Jakarta menjalankan tugas sesuai prosedur dari Dinas Kesehatan.

Meski begitu, Anies membenarkan ada lima ambulans yang disita polisi tadi malam. Satu dimiliki Pemprov DKI Jakarta, dan empat lainnya miliki PMI. Namun, dia mempertanyakan penyitaan ini.

"Kami berkeyakinan bahwa petugas ini menjalankan tugasnya sesuai dengan SOP yang ada. Mereka berada dalam situasi tadi malam, di lapangan, situasi yang tidak sederhana. Karena itu kita tidak usah terburu-buru menyimpulkan apapun," kata Anies, Kamis (26/9/2019).

Pemprov DKI Jakarta telah menurunkan 40 mobil ambulans untuk membantu para korban kerusuhan di Jakarta, baik untuk menolong massa aksi, aparat kepolisian, maupun masyarakat yang terluka. Aksi mereka sudah dilakukan sejak gelombang demonstrasi pada Selasa (24/9).

"Dinkes DKI Jakarta telah mengkoordinasikan 40 ambulans untuk bekerja, selama sejak Selasa kemarin. Petugas-petugas ini membawa misi kemanusian, ada begitu banyak warga masyarakat yang terselamatakan oleh kerja ambulans ini," ujar Anies.

Ia bilang, situasi yang dilalui oleh para tenaga medis di lapangan, bukanlah situasi yang mudah. Apalagi, mereka harus bekerja dalam keadaan di mana semua orang menjauh. Ia pun mengatakan bahwa kesempatan seperti ini bisa saja terjadi fitnah kepada para tenaga medis. 

"Saya ingin garis bawahi, dalam situasi sulit kemarin, di saat orang menjauh, petugas ambulans itu mendekat. Saat semua orang menghindari, ambulans mendekat. Ini bukan kerja yang sederhana, bukan sesuatu yang gampang. Karena itu potensi mereka kena fitnah selalu ada," tuturnya.

Terpisah, Kepala Markas PMI Jakarta Timur Euis Komalasari menceritakan arogansi aparat kepolisian saat mengadang tim medis dan menuding ambulans mereka membawa batu untuk membantu perusuh melancarkan aksi melawan kepolisian.

Dini hari tadi, di depan lobby menara BNI Pejompongan, Ambulans PMI Kota Jakarta Timur sedang bertugas siaga pelayanan ambulan di lokasi demonstrasi bersama.

Pada saat tim medis ambulan PMI Kota Jakarta Timur sedang memberikan pertolongan pertama pada korban kerusuhan, tiba-tiba ada sweeping dari oknum Anggota Brimob dan membuka paksa ambulan, memukul-mukul dan menarik paksa pasien untuk keluar dari ambulans.

"Dengan alasan mencari batu dan bensin yang disimpan dalam ambulan untuk pendemo Oknum Anggota Brimob melayangkan pukulan dengan tongkat kayunya kepada semua tim medis PMI yang ada di dalam ambulan," tutur Euis dalam keterangan tertulis.

"Petugas PMI terkena pukulan di bagian kepala bahkan salah satu perawat kami jatuh tersungkur ke belakang stretcher karena didorong dan kemudian diinjak oleh salah satu oknum anggota Brimob," lanjut dia.

Tak hanya itu, kaca mobil belakang ambulans PMI Kota Jakarta Timur dipecah dan dirusak oleh anggota Brimob yang mengakibatkan kaca mobil ambulan berhamburan masuk ke dalam ambulan.

Kemudian, dua orang petugas ditarik paksa ke luar dan kaca samping kiri ambulan dipecahkan juga oleh oknum Anggota Brimob. Setelah itu, ambulans dibawa ke Mapolda Metro Jaya.

"Demikian laporan kronologis ini dibuat sesuai dengan pernyataan dari salah satu perawat PMI Kota Jakarta Timur sebagai saksi hidup yang mengalami tindakan kekerasan dan menyaksikan tindakan pengerusakan terhadap Ambulan PMI Kota Jakarta Timur," kata Euis.


Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono (era.id)

Siang ini, Polda Metro Jaya, lewat Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, mengakui adanya kesalahan informasi soal ambulans DKI Jakarta yang dituding membawa batu pada kerusuhan Kamis dini hari tadi. 

Argo menyatakan, kejadian itu bermula ketika anggota Brimob mengejar pelaku kerusuhan. Saat itu, lanjtunya, para pelaku kerusuhan lari masuk ke dalam ambulans dengan membawa kardus berisi batu, kembang api dan juga bom molotov. 

"Anggapan dari anggota Brimob di sana diduga mobil itu yang digunakan untuk perusuh. Tapi ternyata perusuh yang masuk ke mobil untuk mencari perlindungan dengan membawa batu, bom molotov dan kembang api," kata Argo. 

Akibatnya, ambulans itu disita. Argo mengatakan, ambulans yang dibawa ke Polda Metro Jaya berjumlah 6 unit. Satu di antaranya milk Pemprov DKI, tepatnya ambulans Puskesmas Kecamatan Pademangan. Sedangkan sisanya merupakan milik Palang Merah Indonesia atau PMI.

Selain membawa ambulans, polisi juga membawa petugas di dalamnya. Ada 31 orang petugas ambulans PMI yang dibawa dan 3 petugas dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Seluruh petugas tersebut juga telah dipulangkan oleh Polda Metro Jaya.

Tag: polri pemprov dki jakarta demo hipmi

Bagikan: