Mantan Presiden Prancis Jacques Chirac Tutup Usia

Tim Editor

    Mantan Presiden Prancis Jaquies Chirac. (Foto: Twitter/GeorgeWeahOff)

    Jakarta, era.id - Kabar duka datang dari Prancis, mantan Presiden Jacques Chirac yang memimpin dari 1995 hingga 2007 meninggal dunia di usia 86 pada Kamis pagi waktu setempat, (26/9/2019).

    "Presiden Chirac meninggal dengan tenang pagi ini dikelilingi orang yang dicintainya," ucapnya menantunya, Frederic Salat-Baroux, dikutip dari Reuters.

    Kabar kematian Chirac ini mengejutkan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker. Melalui juru bicaranya, ia menyampaikan penghormatan atas kerja keras bagi Prancis maupun Eropa.

    "Eropa tak hanya kehilangan negarawan besar, namun Presiden Juncker juga kehilangan teman baiknya," demikian bunyi pernyataan dikutip BBC.

    Jaqcues Chirac lahir pada tahun 1932 dari Abel François Chirac adalah seorang eksekutif sukses di sebuah perusahaan pesawat terbang dan ibunya Marie-Louise Valette. Ia menjabat sebagai kepala negara pada periode 1995 hingga 2007. Ini menjadikannya sebagai Presiden Prancis terlama kedua pasca perang setelah Francois Mitterrand. 

    Selama masa kepemimpinan Chirac, banyak kebijakan yang menimbulkan kontroversi hingga puncaknya ketika dia menyatakan penolakan terhadap penggunaan jilbab oleh seorang muslim perempuan di sekolah-sekolah Prancis dan perusahaan publik.

    Chirac berpendapat bahwa penggunaan jilbab dapat menyebabkan permusuhan. Hal ini lantas menimbulkan gelombang protes yang tidak hanya datang dari Prancis tapi dari negara Islam lainnya karena apa yang dilakukan Chirac ini dinilai merupakan suatu diskriminasi.

    Dilansir BBC, Chirac juga sempat menjabat sebagai perdana menteri Perancis, tetapi masa jabatannya dilanda dengan serangkaian skandal korupsi. Pada tahun 2011, ia dijatuhi hukuman karena telah mengalihkan dana publik ketika menjabat sebagai walikota Paris.

    Meski demikian, ia juga kerap menorehkan momen bersejarah ketika dirinya marah dan menentang kebijakan Amerika Serikat soal kebijakan Perang Irak pada 2003. 

    "Perang selalu menjadi pilihan terakhir. Itu selalu menjadi bukti kegagalan. Itu juga selalu menjadi solusi terburuk karena membawa kematian dan kesengsaraan," kata Chirac, sepekan sebelum pasukan koalisi pimpinan AS menginvasi Irak, dikutip Guardian.

    Selain itu, peran besar Chirac adalah saat dirinya menjadi presiden pertama pasca perang yang meminta maaf atas kejahatan Prancis. Ia telah mendamaikan bangsa dengan mengakui bahwa Prancis secara keseluruhan bertanggung jawab atas pengumpulan sekitar 76 ribu orang Yahudi yang dikirim ke kamp kematian Nazo selama Perang Dunia II.

    Tag: prancis

    Bagikan :