Kata Polisi, Perusuh Bikin Masyarakat Jakarta Marah

Tim Editor

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo (Wardhany/era.id)

Jakarta, era.id - Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan, membuat masyarakat Jakarta jenuh dan terganggu. Aksi demonstrasi yang sudah terjadi beberapa hari ini biasanya rusuh di kala sore hingga malam hari.

"Dapat dikatakan masyarakat Jakarta dikatakan marah juga. Demo yang rusuh ini mengganggu seluruh kehidupan masyarakat Jakarta juga. Bagaimana orang sakit parah mau ke rumah sakit terhambat oleh demo, macet di mana-mana,"  kata Dedi di Mabes Polri, Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (1/10/2019).

Lebih jauh, dia mengatakan, pelaku kerusuhan yang terjadi di dekat gedung DPR, bukanlah gerakan pelajar dan mahasiswa yang beraksi di siang hingga sore hari.

Dia melihat, aksi kerusuhan ini mirip dengan yang dilakukan perusuh pada 21-22 Mei di depan Gedung Bawaslu RI, Sarinah, Jakarta Pusat.

"Sudah bukan murni mahasiswa dan pelajar, tapi sudah perusuh seperti 21-22 Mei kemarin. Mereka menyerang aparat dan bakar fasilitas publik," kata dia.

Selama dua hari ini, 30 September-1 Oktober, polisi sudah menangkap 649 orang yang diduga berperan sebagai perusuh. Dari 649 perusuh itu, 380 orang ditangkap oleh Polda Metro Jaya. Kemudian, sebanyak 36 orang ditangkap oleh Polres Jakarta Utara, 63 orang ditangkap oleh Polres Jakarta Pusat, dan 170 orang diringkus oleh Polres Jakarta Barat.

"Mereka semua sedang kami periksa dengan status terperiksa," ujar Dedi.


Infografis oleh Ilham/era.id

Dari hasil pengusutan pihak kepolisian, diketahui ada sejumlah massa yang sengaja menyusup ke tengah pelajar dan mahasiswa yang menuntut penolakan terhadap UU KPK dan RKUHP berlangsung. Tujuan penyusup itu, kata Dedi untuk menyebarkan provokasi. Para perusuh ini, kata Dedi, mendapatkan bayaran untuk aksinya.

"Kita sudah melakukan pengamanan, khususnya di Jakarta Utara kemarin sudah merilis ada 36 orang yang diamankan terkait penyusupan dengan menggunakan seragam sekolah," jelas Dedi.

"Anak tersebut tatoan semuanya dan mereka dibayar bervariasi, antara Rp20-40 ribu dan sudah disiapkan juga bom molotov yang dipersiapkan oleh mereka dalam rangka memang menciptakan demo yang damai itu menjadi demo yang rusuh," imbuhnya.

Karenanya, dia meminta masyarakat tak terprovokasi dan propaganda di media sosial yang berujung adu domba.

Tag: polri demo

Bagikan: