Demo Buruh Tak Bawa Narasi Lengserkan Jokowi

Tim Editor

Demonstrasi Buruh (Gabriella Thesa/era.id)

Jakarta, era.id - Terik matahari dan kepulan debu tak menghentikan langkah, Mundiah, menuju gedung DPR/MPR RI. Wakil Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) itu datang bersama 50 ribu rekannya sesama buruh untuk menyuarakan aspirasinya kepada wakil rakyat yang baru kemarin dilantik.

Kami mengukuti perjalanan perempuan paruh baya itu menuju senayan. Dandanannya mencuri perhatian. Kacamata hitam berbingkai merah muda dengan masker merah marun yang menutupi hidung dan mulutnya.

Mundiah kemudian mengemukakan tuntutannya. Pertama, menolak revisi UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; menolak kenaikan iuran BPJS Kesehatan; dan menuntut revisi PP No. 78 tahun 2015 tentang Pengupahan.



"Ini bukan karena tertarik demo, tapi ini memang tujuan kita," kata Mundiah saat berbincang dengan era.id.

Baca Juga : Buruh Tuntut Kesejahteraan ke Ketua DPR Baru

Menurut Mundiah, aturan soal pesangon dan pengupahan saat ini sangat merugikan buruh dan pekerja. Pesangon dan upah tertuang dalam revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 2015 tentang Pengupahan. Dalam hal ketentuan pesangon, misalnya, kalangan buruh menolak keras usulan perubahan atas masa kerja minimal 9 tahun.

"Terutama pesangon dan upah karena itu memang bagi kami. Pekerja atau buruh ya ruhnya kan kita. Karena dengan upah pesangon pada saat nanti kita pensiun tidak kita dapatkan, lantas apa modal kita," katanya.

Meskipun aksi unjuk rasa hari ini diikuti oleh ribuan buruh dan pekerja, Mundiah dengan tegas mengatakan bahwa mereka datang dengan tuntutan yang jelas dan tidak ditunggangi oleh siapa pun.

Dia mengatakan, tidak ada satu pun tuntutan buruh soal ganti presiden. "Kita paham dengan tuntutan kami. Tuntutan kita sudah jelas, jangan kemana-mana, misalnya mohon maaf ya, lengserkan presiden. Kami tidak di posisi itu," tegasnya.

Aksi unjuk rasa buruh ini dikomandoi Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan merupakan aksi damai. Mereka rela berpanas-panasan menyusuri jalan sepanjang Jalan Gatot Subroto untuk menyuarakan tuntutan mereka.

Dari mobil komando, terdengar harapan mereka untuk bisa berdialog dengan Ketua DPR baru, Puan Maharani yang notabene putri kandung Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

"Kami ingin bertemu Ketua DPR baru, Puan Maharani, anak Megawati yang katanya pro wong cilik. Kita tes isi hati Puan hari ini," ujar salah seorang orator dari mobil komando.

Tag: hari buruh internasional

Bagikan: