Merenungi Aparat yang Masih Belum Bersahabat dengan Jurnalis

Tim Editor

Kepolisian Hong Kong melakukan tindakan represif kepada jurnalis yang meliput demonstrasi. (Stand News via Twitter)

Jakarta, era.id - Sebuah peluru karet tiba-tiba melesat cepat menembus kacamata pelindung yang digunakan Veby Mega Indah. Jurnalis asal Indonesia itu harus menelan pil pahit, kehilangan satu penglihatannya saat meliput aksi protes di Hongkong, Minggu (29/9).

Dikutip dari BBC, Veby diketahui bekerja untuk media Suara Hong Kong News berbahasa Indonesia. Saat bentrokan pecah antara aparat keamanan dan pedemo, posisi Veby sedang berada di jembatan pejalan kaki yang menghubungkan HK Immigration Tower dengan Exit A4 dari Stasiun MTR Wanchai.

Polisi Hong Kong seketika membabi-buta memberondong peluru karet ke arah demonstran dan jurnalis. Padahal Veby dan jurnalis lainnya saat itu jelas-jelas memakai identitas jurnalis dengan rompi serta helm yang bertulisan 'PRESS'. Tak hanya peluru karet, sebelumnya aparat juga menembakkan water cannon dan gas air mata untuk memukul mundur massa.

Aksi protes masyarakat di Hong Kong kembali berujung bentrok pada Minggu kemarin. Padahal hari itu menjadi perayaan penting bagi China dalam peringatan 70 tahun Partai Komunis berkuasa. Namun, gelombang massa terlanjur memenuhi jalan-jalan di Hong Kong.

Baca Juga: Perjuangan Tanpa Kekerasan Mahatma Gandhi
 

Dikutip dari South China Morning Post, salah seorang jurnalis bahkan berteriak kepada aparat keamanan "Jangan tembak! Kami jurnalis." Tapi tetap saja, polisi menembakkan proyektil peluru karet itu dan salah satunya menembus mata kanan Veby.

Saat itu, ia merasakan darah mengalir di wajahnya. Jurnalis 39 tahun ini mengeluh sangat sakit dan pusing. Dahi dan matanya kanannya bahkan bengkak. Sejurus kemudian, Veby terkapar di tanah dan dikelilingi oleh rekannya sesama jurnalis.

20 menit berikutnya, petugas layanan pemadam kebakaran tiba. Veby yang masih sadar namun tak bisa bergerak langsung dibawa ke rumah sakit dengan ambulans. Pada 30 September, kantor berita Antara melaporkan kondisi jurnalis Indonesia itu masih memelurkan obervasi lanjutan atas luka tembaknya, meski dikatakan Veby dalam kondisi yang sudah stabil dan berangsur membaik.

Namun, pengacara Veby, Michael Videler mengatakan kepada BBC pada Rabu (2/10) bahwa Veby mengalami kebutaan pada mata kananya akibat tembakan polisi. Keterangan yang sama juga diperoleh Jerome Taylor, wartawan kantor berita AFP di Hong Kong dalam kicauannya yang mengutip Vidler.

"Para dokter yang merawat Veby hari ini menginformasikan bahwa cedera yang dialami akibat terkena tembakan polisi menyebabkan kebutaan permanen pada mata kanannya. Dia telah diinformasikan bahwa pupil matanya robek akibat kuatnya benturan. Persentase kerusakannya hanya dapat dinilai setelah operasi," sebut Vidler. Ia juga mengklaim bahwa telah menerima bukti dari pihak ketiga yang mengindikasikan proyektil yang membutakan Veby adalah peluru karet.

Berdasarkan keterangan Vidler, proyektil tersebut menghantam kaca mata pelindung yang dikenakan Veby dari jarak 12 meter. Kuatnya tembakan itu mengakibatkan cedera parah di mata kanannya, luka sayat di dekat mata kanan yang harus menerima jahitan.
 

Tindakan represif kepolisian

Menanggapi hal ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengecam penembakan polisi Hong Kong terhadap jurnalis asal Indonesia. AJI mendesak polisi Hong Kong mengusut tuntas peristiwa kekerasan yang terjadi pada jurnalis Hong Kong News tersebut.

"Kepolisian setempat harus bertanggung jawab atas cedera yang dialami Veby. Ini bukan hanya ancaman bagi Veby tetapi juga mengancam wartawan lokal dan internasional yang meliput aksi demonstrasi di Hong Kong”, ujar Ketua AJI Jakarta Asnil Bambani dalam siaran pers, Kamis (3/10/2019).

Perlakuan represif aparat kepolisian bukan hanya terjadi di Hong Kong, tapi juga di Indonesia yang beberapa waktu lalu juga dilanda gelombang aksi protes menuntut produk hukum yang gagal seperti Rancangan Undang-Undang (RUU). Di Hong Kong, aksi protes berawal dari RUU Ekstradisi yang memungkinkan seorang pelanggar hukum akan dikirim ke daratan China untuk diadili sesuai hukum yang berlaku. Sedangkan di Indonesia, aksi protes juga terjadi di sejumlah wilayah yang menuntut RUU, seperti revisi UU KPK, RKUHP, RUU PKS, dan sebagainya.

Amnesty Internasional pada 20 September bahkan menuduh polisi Hong Kong melakukan penyiksaan dan pelanggaran lainnya dalam menangani aksi demonstrasi. Namun pihak kepolisian Hong Kong mengatakan mereka telah menahan diri.

Sejumlah jurnalis kerap dilaporkan mendapat intimidasi dari beberapa oknum kepolisian selama meliput demontrasi dan kerusuhan. Bahkan beberapa di antaranya juga ada yang mendapat kekerasan fisik, salah satunya wartawan era.id, Mery Handayani.

Baca Juga: Menagih Janji Polisi Hentikan Intimidasi kepada Jurnalis


Polisi memukul jurnalis Antara di Makassar, Darwin Fathir, saat meliput demo mahasiswa di depan Gedung DPRD Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (24/9). (Foto: Agus Dian/Warganet-AJI Makassar)

Reporter era.id, Mery Handayani sempat mendapat tindakan persekusi dari aparat ketika merekam kericuhan saat polisi membubarkan massa di dekat pintu keluar arah Resto Pulau Dua. "Saat itu lagi lihat polisi sedang membubarkan massa dan nangkap orang, pas itu langsung mengeluarkan HP untuk merekam," tutur Mery pada (26/9).

Selain itu, kekerasan juga terjadi pada Jurnalis Kompas, Nibras Nada Nailur yang mendapat tindakan represif polisi untuk menghapus foto dan video yang direkam saat reportase di JCC Senayan. Jurnalis Katadata, Tri Kurnia dipukuli aparat saat merekam kericuhan di sekitar Palmerah-Gelora Bung Karno.

Ada juga, jurnalis IDN Times, Vanny El Rahman juga ditendang dan dipaksa menghapus foto serta video saat meliput aksi demonstrasi di flyover Slipi, dan jurnalis MetroTV, Febrian Ahmad yang dianiaya massa yang identitasnya tidak jelas pada 24 September, dikutip Tirto.

Tindakan represif aparat tidak berhenti di situ, pada 25 September, jurnalis kompas.id dipukul dan dituding menjadi bagian dari massa aksi di Bentara Budaya Jakarta. Vanny Fitria dari Narasi TV juga diintimidasi, mendapat kekerasan fisik, dan gawainya dirampas saat merekam aksi kerusuhan.

Sementara itu, pada 30 September, Haris Prabowo dari Tirto juga menerima intimidasi dan dituduh sebagai massa aksi. Ia juga dipiting polisi di bawah flyover Benhil karena mengambil selongsong gas air mata untuk keperluan liputan.

Tag: demo kekerasan wartawan

Bagikan: