Kembalinya Warga Pengungsi ke Wamena

Tim Editor

Foto kepulangan pengungsi kembali ke Wamena (Paul Tambuan)

Jayapura, era.id – Sebanyak 106 pengungsi di Jayapura akhirnya kembali ke Wamena ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua, untuk menata ulang kehidupannya yang telah dirintis bertahun-tahun. Ratusan pengungsi ini pulang dengan menumpang pesawat Hercules milik TNI AU dari Lanud Silas Papare Jayapura.

Pantauan era.id di Jayapura, umumnya kebanyakan dari pengungsi tersebut dari kalangan migran (warga pendatang -red). Kepulangan para pengungsi itu dilepas oleh Menkopolhukam Wiranto, yang memastikan kondisi di Wamena sudah kembali kondusif.

“Jangan takut lagi untuk kembali ke Wamena dan kita bisa lihat bahwa warga sudah rindu untuk kembali memulai usaha yang sudah dirintis bertahun-tahun lamanya. Masyarakat yakin bahwa penghidupan mereka ada di sana,” Kata Wiranto yang didampingi Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian saat memberangkatkan pengungsi di Base Ops Lanud Silas Papare, Jayapura, Rabu (9/10/2019).

Wiranto juga menegaskan, aparat gabungan TNI dan Polri bersama pemerintah akan memberikan jaminan keamanan bagi pengungsi yang kembali ke Wamena, hingga saatnya kembali beraktifitas seperti biasa. “Saya harapkan pasca kejadian yang lalu, kita semua tetap menjaga persaudaraan dan kedamaian di Wamena,” ujarnya.

Sejumlah pengungsi memilih kembali pulang ke Wamena dengan beragam alasan. Salah satunya tuntutan pekerjaan dan usaha yang sudah dirintisnya selama ini. 

“Kalau kembali ke kampung di Sulsel kita harus bangun lagi dari nol, (sementara) di Wamena sudah ada yang kita kenal jadi bisa kita bangun hubungan baik kembali, apalagi sekarang saya sudah tua,” jelas Amir (63) yang sudah 14 tahun hidup di Wamena.

Demikian juga yang dirasakan Samuel Rante, 30 tahun, pengungsi yang memilih kembali ke Wamena. Sehari-hari ia bekerja sebagai  supir lintas ke berbagai kabupaten di wilayah pegunungan tengah Papua, sehingga perlu kembali lagi ke Wamena untuk melanjutkan kehidupannya.

“Aparat (keamanan) bilang sudah kondusif makanya kita balik, saya biasa sopir ke Tolikara dan daerah lain,”  kata Samuel yang mengaku telah 8 tahun mengais rejeki di Wamena.



Kembalinya aktivitas belajar 

Kegiatan pertama semua sekolah di Wamena, Jayawijaya paska kerusuhan lalu yang mulai aktif kembali sejak Senin (7/10), lebih banyak difokuskan pada aktivitas pemulihan trauma. Selain belum semua siswa kembali hadir, terutama yang berasal dari distrik-distrik sekitar Wamena kembali, guru-guru yang mayoritas berasal dari luar Papua juga masih berada di daerahnya.

Menurut Sekretaris Dinas Pendidikan Jayawijaya, Bambang Budiandoyo, kebijakan untuk memulai sekolah di Wamena sejak Senin lalu merupakan hasil kesepakatan pemerintah daerah dengan seluruh kepala sekolah, komite sekolah, dan juga seluruh kepala distrik.

"Bagaimanapun sekolah harus segera dibuka, meskipun belum langsung belajar. Kegiatan utamanya masih bersifat rekreatif dan pendataan mengenai jumlah siswa dan guru yang datang. Pemulihan trauma siswa jadi fokus utama sekolah," kata Bambang kepada wartawan

Menurut data dinas pendidikan Kabupaten Jayawijaya di Wamena sendiri, dari 61 sekolah yang ada di kota itu sebanyak 25 sekolah dari berbagai jenjang PAUD, SD, SMP dan SMA/SMK yang terkena dampak atau mengalami kerusakan. 

"Langkah antisipasi juga sudah kami siapkan untuk kegiatan belajar mengajar. Kami memiliki teman-teman guru dari Indonesia Cerdas berjumlah 30 orang yang siap didistribusikan ke sekolah-sekolah yang kekurangan guru agar mendorong proses belajar-mengajar," ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Polda papua mencatat 33 orang meninggal dunia dan 78 orang luka-luka dalam kerusuhan di Wamena, pada 23 September 2019 lalu. Sebagian besar korban meninggal akibat terjebak dalam bangunan yang dibakar oleh massa perusuh. 

Selain menimbulkan korban jiwa, kerusuhan di Wamena menyebabkan 465 pertokoan dan tempat usaha yang dirusak dan dibakar, 224 kendaraan roda empat dan roda enam dan 150 kendaraan roda dua dibakar. Sementara 165 rumah dan 20 perkantoran rusak dan dibakar perusuh.

Kerusuhan di Wamena memicu gelombang pengungsi ke Jayapura. Tercatat 16.000 pengungsi telah keluar dari Wamena. Sebagian dari mereka telah kembali kampung asal masing-masing, akibat mengalami trauma. Ribuan pengungsi ini pulang dengan bantuan transportasi gratis dari TNI-Polri serta berbagai relawan. (Paul Tambunan)
 

Tag: kkb papua

Bagikan: