Roda Kecil dalam Mesin Pembunuh Nazi

Tim Editor

    Gerbang masuk kamp konsentrasi Stutthof milik Nazi. (Wikimedia)

    Jakarta, era.id - Seorang remaja berusia 17 tahun memilih untuk menyaksikan penyiksaan dan pembantaian yang dilakukan setiap hari kepada kaum Yahudi oleh serdadu-serdadu Nazi. Kala itu, dia bekerja sebagai penjaga sekaligus penembak jitu Schutzstaffel (SS) di kamp konsentrasi Stutthof. 

    Terletak sekitar 34 Km dari Gdansk, salah satu kota terbesar di Polandia Timur, kamp Stutthof menjadi pengasingan konsentrasi pertama Adolf Hitler yang dibangun di luar Jerman yang didirikan pada 1939. Dari kejauhan tempat ini tampak damai. Pemandangan hutan dengan pohon-pohon yang menjulang membuat tempat ini terlihat sangat indah. 

    Tapi itu tak berlaku ketika memasuki wilayah ini. Rasa mencekam, kengerian, ketakutan bahkan kesedihan seakan mengekor di belakang. Di tempat ini, 75 tahun yang lalu, ribuan orang Yahudi dibantai habis-habisan oleh serdadu-serdadu Nazi. Meski tak terkenal seperti Auschwitz, kamp konsentrasi Stutthof menyimpan kisah kekejaman pasukan Hitler. 

    Hitler memang membenci Kaum Yahudi. Saat itu mereka digiring masuk ke kamp konsentrasi ini. Kamp konsentrasi Stutthof dijaga oleh seribuan anggota pasukan Schutzstaffel (SS), organisasi keamanan dan militer besar milik Nazi yang didirikan pada April 1925. 


    Gerbang masuk kamp konsentrasi Stutthof milik Nazi. (Wikimedia)

    Salah satunya anggotan pasukan SS ini adalah remaja berusia 17 tahun. Ia adalah Bruno Dey, pemuda yang menjadi salah satu penembak jitu Schutzstaffel. Setiap harinya di antara musim panas 1944 dan musim semi 1945, Dey secara teratur naik ke menara-menara pengawas di kamp konsentrasi Stutthof untuk bertugas. Dari sini, ia melihat setiap detail penyiksaan dan pembantaian secara brutal oleh pasukan Hitler.

    Di dalam kamp ini, mereka kaum Yahudi dipaksa bekerja siang malam hingga kelelahan. Mereka kelaparan dan disiksa di kamar gas hingga tiang gantungan. Mereka juga ditembaki lalu mayatnya di bawa ke ruang krematorium, sebuah ruangan dengan tungku yang digunakan untuk menghancurkan mayat. Pandangan mengerikan dan jeritan-jeritan kaum Yahudi ini telah menjadi makanan sehari-hari bagi Dey yang berjaga di atas menara. 

    Roda penggerak dalam mesin pembunuh

    Lebih dari tujuh dasawarsa kemudian Dey diadili. Dey yang saat ini berusia 93 tahun itu tampak ringkih duduk di kursi roda, ia dibantu putrinya memasuki ruangan di pengadilan. Dey menutupkan mukanya dengan kertas berwarna merah untuk menghindari sorotan kamera. 

    Di pengadilan yang digelar pada Kamis kemarin, ia dituntut atas 5.230 pembunuhan. Jaksa penuntut negara bagian mengatakan bahwa sebagai penembak jitu SS dia tidak hanya menjaga tetapi juga membunuh tahanan di kamp. Sekarang, 74 tahun setelah kamp dibebaskan, ia akan diadili di Pengadilan Negeri Hamburg. 

    Karena saat kejadian Dey masih di bawah umur, sebuah pengadilan anak saat ini akan berusaha menentukan apakah ia tak hanya mencegah para tahanan melarikan diri, tetapi juga terlibat dalam menghentikan pemberontakan dan mengagalkan pembebasan tahanan.

    Meski belum ada bukti keterlibatan langsung Dey dalam pembunuhan di kamp Stutthof, jaksa perpendapat bahwa sebagai penjaga kamp dari Agustus 1944 hingga 1945 ia membantu dalam semua pembunuhan yang terjadi selama periode itu. Jaksa juga menyebutnya sebagai "Roda kecil dalam mesin pembunuh", demikian dikutip dari Time, Jumat (18/10/2019).

    "Terdakwa bukan hanya penyembah ideologi Nazi. Tetapi tak ada keraguan bahwa ia tidak pernah secara aktif menantang penyiksaan rezim Nazi," ujar jaksa. 

    Dey tidak menyangkal bahwa dia adalah salah seorang penjaga di kamp konsentrasi Stutthof. Namun membantah bahwa ia telah bersalah atas tuduhan yang dia hadapi. Dia mengatakan, dirinya sama sekali bukan alat untuk membunuh.
     

    Baca Juga: Para Pesepak Bola dengan 'Hormat Nazi'

    Dey yang merupakan seorang tukang roti tak menyangka dirinya menjadi penjaga di Stutthof. Ia mengatakan bahwa dirinya dianggap tak layak untuk pertempuran di pasukan reguler pada tahun 1944 pada usianya 17 tahun. Ia kemudian direkrut menjadi datasemen penjaga SS dan dikirim ke Stutthoff. 

    Tidak seperti pada dekade-dekade sebelumnya, kini jaksa di Jerman tidak perlu membuktikan keterlibatan langsung seseorang dalam pembunuhan individu untuk dapat dihukum atas kejahatan Nazi. Kini tuduhan juga dapat diajukan terhadap individu karena menjadi kaki tangan untuk membunuh.

    Kasus Dey ini bukanlah yang pertama. Dalam beberapa tahun terakhir jaksa telah berhasil menghukum penjaga kamp konsentrasi dengan argumen bahwa mereka membantu mengoperasikan kamp-kamp seperti Auschwitz dan Sobibor. Pada 2011, John Demjanjuk seorang mantan penjaga di kamp kematian Sobibor, dijatuhi hukuman lima tahun penjara. 

    Di bawah Adolf Hitler, Nazi membangun kamp konsentrasi di seluruh daerah taklukannya. Kamp konsentrasi Nazi pertama dibangun besar-besaran di Jerman setelah kebakaran Reichstag pada tahun 1933, dan ditujukan untuk menahan tahanan politik dan lawan rezim.

    Tag: jerman kalah hormat nazi

    Bagikan :