Bahaya Tak Kasat Mata di RPTRA Ibu Kota

Tim Editor

RPTRA Kalijodo, Jakarta Barat (Yohanes Sebastian)

Jakarta, era.id - Kandungan logam beracun timbal ditemukan pada cat yang melapisi fasilitas-fasilitas permainan di sejumlah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Jakarta. Bukan tak mensyukuri keberadaan kawasan-kawasan ramah anak itu. Namun, segala material yang membahayakan tumbuh kembang anak tentu tak mungkin dibenarkan.

Beberapa waktu lalu, yayasan publik Nexsus3 menerbitkan Laporan Nasional Timbal dalam Peralatan Bermain di Jakarta. Laporan tersebut didasari pada penelitian yang dilakukan selama September sampai Oktober 2019 di 32 taman bermain yang tersebar di lima wilayah administrasi Ibu Kota.

Hasilnya, Nexsus3 menemukan rata-rata kandungan timbal di sejumlah taman bermain yang mencapai lebih dari 4.000 part per milion (ppm). Temuan ini menunjukkan bahaya yang mengintai anak. Sebab, batas aman paparan kandungan timbal pada anak adalah 90 ppm.

Di Jakarta Pusat, tim menemukan logam kuning dengan besaran timbal 4.100 ppm pada alat bermain jungkat-jungkit di taman bermain Apartemen Menteng Square. Di Jakarta Barat, ada temuan logam kuning dengan besaran timbal 4.170 ppm pada alat bermain luncuran ayunan di taman bermain RPTRA Jeruk Manis, Kebon Jeruk.

Di Jakarta Selatan, ada temuan logam kuning dengan besaran timbal 4.070 ppm pada jembatan taman bermain umum Sekitar Jalan Cinere, Lebak Bulus. Di Jakarta Timur, ada temuan logam kuning dengan besaran timbal 4.100 ppm pada alat bermain perosotan dan 4.050 ppm pada terowongan merangkak di taman kanak-kanak sekitaran Jalan Pulau Kelapa, Pulo Gebang. 

Di Jakarta Utara, ada temuan logam kuning dengan besaran timbal 4.090 ppm pada alat bermain ayunan dan 4.080 ppm pada alat bermain panjatan di taman kanak-kanak sekitaran Jalan Mawar Jingga, Kelapa Gading.

"Saat ke lapangan, kita tanya ke pengelola taman saat mengecat menggunakan merek apa. Lalu kita juga melihat ada bekas kaleng cat di situ untuk memastikan merek yang digunakan. Dari situ, kita buat laporan cat apa yang digunakan pada setiap taman," kata penasihat yayasan Nexsus3 Yuyun Ismawati, Selasa (29/10/2019).



RPTRA Rasela di Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara (Twitter/@KominfotikJU)


Tak kasat mata

Menurut Yuyun, masalah yang lebih besar dari kandungan timbal adalah minimnya kesadaran masyarakat soal bahaya kandungan timbal itu sendiri. Menurutnya, bahaya timbal tak dapat diidentifikasi secara kasat mata. Maka, tak heran jika perhatian terhadap persoalan ini luput dari mata orang awam. Apalagi, informasi kandungan timbal hanya dapat dilihat dari keterangan yang tertera pada kaleng cat.

Segala ketidaktahuan ini diperparah oleh minimnya edukasi yang dilakukan otoritas terhadap publik. Pemerintah, secara bersinergi, mulai dari pusat hingga daerah tak boleh lagi tutup mata soal persoalan ini. Selain edukasi, pemerintah wajib melindungi anak dengan penggunaan material yang lebih ramah dalam pengadaan taman bermain anak.

Pemerintah bukannya tak tahu persoalan ini. Konon, pemerintah bahkan telah mengetahui jumlah merek cat yang memiliki timbal tinggi. Namun, lobi-lobi sektor industri masih sulit dikalahkan. "Sebenarnya, KLHK dan Kemenperin tuh sudah tahu dari 2012. Tapi karena lobi-lobi industri cat dan coating di Indonesia sangat kuat, mereka enggak mau diregulasi. Jadi, hal itu tetap jalan," kata Yuyun. 

Demi mensterilisasi kandungan timbal yang terlanjur ada di sejumlah taman, Yuyun bilang pihaknya sudah mengadakan pertemuan dengan Pemprov DKI. "Pemprov DKI minta kita scan semua RPTRA. Ada 308 RPTRA, karena kemarin yang kita scan baru 20. Kemudian, dibikin jadi laporan kandungan timbal yang tinggi berapa dan rendah," ucap dia.

Tag: tumbuh kembang anak perlindungan perempuan dan anak

Bagikan: