Bio Farma Bagi-bagi Resep Bikin Vaksin ke Negara-negara Afrika

Tim Editor

    Foto Ilustrasi: Vaksin (Pixabay)

    Bandung, era.id - Indonesia punya keahlian dalam bidang bioteknologi yang diakui secara global. Produk-produk bioteknologi BUMN bidang famasi, Bio Farma, banyak dipakai oleh negara luar. Tak aneh rasanya kalau negara lain datang untuk belajar bioteknologi ke Indonesia.

    Negara yang kini sedang belajar bioteknologi ialah Senegal. Anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) itu melalui Institut Pasteur de Dakar mengikuti program Reverse Linkage (RL) yang diselenggarakan oleh Islamic Development Bank (IsDB), Bappenas, Kemenkes, BPOM dan Bio Farma, 2-6 Desember 2019.

    Acara tersebut mengusung tema Development of A Reverse Linkage Project Between Senegal (Institute Pasteur de Dakar) and Indonesia (Bio Farma) in Vaccine Production. Sebelumnya, Tahun 2018 telah dilaksanakan acara dengan program yang sama untuk negara Maroko dan Tunisia.

    Deputi Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan Bappenas, Slamet Soedarsono, bilang program Reverse Linkage merupakan kerja sama pembangunan antara IsDB dan sesama negara anggota IsDB yang memiliki kemampuan dalam menyediakan keahlian teruji, pengetahuan (know-how), penerapan teknologi, serta best practices yang berorientasi pada hasil untuk mengakselerasi pembangunan ekonomi dan sosial.

    "Bio Farma akan membagikan pengalamannya untuk membuat vaksin yang berkualitas sesuai dengan ketentuan dan standar dari WHO, dan inti dari kegiatan ini adalah untuk menciptakan kemandirian di kalangan negara-negara Islam", ujar Slamet Soedarsono, melalui keterangan tertulisnya, Rabu (4/12/2019).

    Sementara Direktur Operasi Bio Farma M. Rahman Rostan bilang, pihaknya sangat berterima kasih kepada Pemerintah dalam hal Kemenkes dan BPOM karena melaui dua lembaga tersebut produk Bio Farma bisa digunakan lebih dari 140 negara.



    Foto: Institut Pasteur de Dakar, Senegal, mengikuti program Reverse Linkage yang diselenggarakan oleh Islamic Development Bank (IsDB), Bappenas, Kemenkes, BPOM dan Bio Farma. (Dok. Bio Farma)


    Kata Rahman, kolaborasi selama ini yang dijalankan baik oleh Kemenkes maupun BPOM telah membawa Bio Farma menjadi rujukan untuk membuat vaksin yang sesuai dengan standar dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).

    “Karena Kepercayaan global terhadap vaksin RI bukan hanya karena Industrinya yang sudah memenuhi kualitas global, juga karena fungsi pengawasannya dari NRA/BPOM yang sudah memenuhi standard internasional dan mendapat pengakuan dari WHO,” katanya.

    Salah satu kerja sama Bio Farma dengan Kemkes RI ialah penyediaan vaksin untuk kebutuhan vaksin dalam negeri. Selain itu, Bio Farma juga ditunjuk sebagai Laboratorium rujukan untuk negara OKI. Dan OKI menunjuk Bio Farma sebagai CoE pada Desember 2017.

    “Diharapkan dengan adanya program Reverse Linkage ini, Bio Farma bisa menambah pangsa pasar tidak hanya di negara anggota OKI, namun untuk seluruh pangsa pasar benua Afrika,” katanya.

    Dalam jangka panjang, program Reverse Linkage Bio Farma bisa mengirimkan para penelitinya ke negara OKI dan negara Afrika lainnya. Tujuannya, untuk berbagi ilmu dan pengetahuan sehingga negara-negara Afrika akan mampu secara mandiri menghasilkan vaksin yang berkualitas.

    Dengan demikian mereka bisa mandiri dan mampu mencapai program Sustainable development goals (SDGs) 2030. Salah satu penekanan dalam program SDGs 2030 adalah menurunkan angka kematian bayi dan ibu hamil serta pemerataan akses ke layanan kesehatan.

    Acara Reverse Linkage sendiri menghadirkan pembicara dari Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi-Kementerian Kesehatan RI, Slamet, Kepala Sub Direktorat Pengawasan Produksi Produk Biologi dan Sarana Khusus-Direktorat Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor- BPOM RI, Dwina Andayani, dan para ahli bidang Bioteknologi dari Bio Farma yang akan membahas Quality Management System, OIC Center of Excellence, Sistem Produksi downstream process (Formulation, Filling, Packaging,) di Bio Farma, dan Quality Control System.
     

    Tag: kesehatan

    Bagikan :