PPP dan PKB Rebutan Cawapres

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (era.id)

Jakarta, era.id - Istilah santri, belakangan ini, sedang naik daun. Kaum sarungan itu disebut-sebut cocok jadi calon wakil presiden di 2019. 

Munculnya wacana ini bukan tanpa sebab. Lantaran Presiden Joko Widodo dikabarkan sedang melakukan safari untuk mencari calon wakil presiden ke ketua umum partai politik pendukungnya. 

Usulan santri ini muncul lewat mulut Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romi) setelah dimintai pendapatnya oleh Presiden. 

Kala itu, Romi bilang yang cocok jadi cawapres Jokowi adalah kalangan 'hijau' yang ditafsirkan menjadi kalangan santri.

Sontak usulan ini membuat beberapa kalangan gede rasa. Apalagi, kalangan santri banyak yang berpolitik lewat partai politik. 

PPP dan PKB saling klaim

Wakil Ketua Umum PPP Amir Uskara mengatakan, usulan Romi merupakan pilihan yang paling tepat untuk saat ini. Tapi apakah usulan ini akan ditampung, Amir menyerahkan itu kepada Jokowi sebagai yang punya otoritas.

"Kami hanya menyarankan supaya didampingi oleh simbol Islam, bisa diwakili dari unsur santri," ungkap Amir.

Pengamat Politik Universitas Padjadjaran Idil Akbar menganggap usulan itu adalah 'kode' dari Romi supaya dipilih Jokowi sebagai cawapres.

"Itu sih saya lihat ada modus juga ya kalau Romi menyarankan dari kubu hijau. Dari peta politis saya kira Romi sendiri punya keinginan jadi cawapres. Arahan Romi sebetulnya berharap mendampingi Jokowi adalah ia sendiri," kata Idil.

Dia menerangkan, partai yang merujuk ke kaum santri tidak hanya PPP. Ada PKB yang lahir dari ormas Islam Nahdlatul Ulama. Karenanya, menurut Idil, bicara soal kaum santri, PKB lebih cocok.

"Nah kalau melihat dari beberapa survei kemarin saya lihat peluang paling besar itu PKB (untuk cawapres Jokowi)," kata Idil.

"PKB punya peluang sebagai calon wakil presiden Jokowi," tuturnya.

Gayung bersambut, PKB jadi kegeeran soal santri ini. Wasekjen PKB Daniel Johan langsung mengklaim, PKB adalah partai yang paling 'nyantri'

"Iya dong (PKB partai paling nyantri). Partai yang dilahirkan dari PBNU kan cuma PKB kok," kata dia.

Kader terbaik PKB langsung disodorkan menjadi cawapres. Dia adalah  Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang belakangan ini sering nongol di dekat orang-orang Istana. 

Yang paling kentara, Cak Imin --yang mendapat gelar panglima santri nasional ini-- duduk di sebelah Presiden Jokowi saat naik kereta bandara beberapa waktu lalu.

Kata Daniel, kedekatan ini jangan diartikan Cak Imin mencari muka untuk jadi cawapres. Daniel berujar, kedekatan Cak Imin dengan Jokowi sudah terjalin lama dan terus dijaga.

"Kalau dekat sama Pak Jokowi kan enggak dari sekarang, dari dulu juga sudah dekat. Termasuk dengan komunikasi menteri-menteri juga baik," kata Wakil Ketua Komisi IV DPR ini.

Tapi, PKB ternyata belum mendeklarasikan diri sebagai partai pendukung Jokowi di 2019. Jokowi baru mendapatkan dukungan dari Golkar, Nasdem, Hanura dan PPP. PDI Perjuangan selaku partai yang menaungi Jokowi pun belum mendeklarasikan diri.


(Ilustrasi: Mia/era.id)

Pendukung Jokowi berkomentar

Usulan santri dari PPP tadi tidak sepakat dengan tiga partai pendukung Jokowi lainnya. Nasdem, Hanura dan Golkar punya pandangan masing-masing.

Hanura misalnya yang masih malu-malu mengusulkan cawapres untuk Jokowi. Meski belum ada usulan, Wakil Ketua Umum Partai Hanura Gede Pasek Suardika mengatakan, partainya sudah mantap mendukung Jokowi di 2019.

"Keputusan (cawapres) tetap di tangan Pak Jokowi," kata Pasek.

Sementara Partai Golkar mengaku tidak mau buru-buru memberikan masukan kepada Jokowi terkait cawapres. Sekretaris Dewan Pakar Partai Golkar, Firman Subagyo bahkan mengatakan, PPP kepagian mengusulkan cawapres saat ini. Apalagi, pemilu baru berjalan mulai pertengahan tahun 2018.

"Kita ini kan jangan terlalu pagi untuk masalah bicara calon wakil presiden. Itu semua itu serahkan pada presiden. Karena presiden itu nanti yang punya kewenangan mencari wakilnya," ujar Firman.

Sedangkan, Nasdem lebih visioner untuk usulan cawapres. Partai yang dipimpin Surya Paloh ini mengusulkan Jusuf Kalla jika memang syarat cawapres Jokowi berasal dari kalangan santri. Apalagi, Kalla, merupakan tokoh yang lahir dan besar di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

"Dan pertama sekali yang mendukungnya dan justru menjadi pengusungnya Nasdem. Orang tersebut namanya Jusuf Kalla," ungkap Anggota Dewan Pakar Partai Nasdem Taufiqulhadi.

PDI Perjuangan menunggu

Jokowi merupakan kader PDI Perjuangan. Partai berlambang banteng ini pun tidak ambil pusing dengan usulan cawapres dari kalangan santri. 

Menurut Ketua DPP PDI Perjuangan, Hendrawan Supratikno, kursi wakil presiden berada di tangan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, selaku partai 'pemilik' Jokowi.

"Itu (cawapres) wilayah Ketua Umum," ujar Hendrawan. 

Pendapat lebih terbuka disampaikan politikus PDIP Arteria Dahlan. Katanya, PDIP merespons positif saran PPP soal cawapres dari kalangan santri. Namun, itu dikembalikan kepada kenyamanan Presiden Jokowi sebagai user-nya. 

"Bisa menjadi partner kerja, partner keluh kesah dan teman curhat juga yang enggak akan menikam dari belakang," ujar Arteria dihubungi terpisah.

Arteria menambahkan, komunikasi politik dengan partai pendukung lain juga sudah dibangun. Namun belum ada pembicaraan khusus untuk kriteria wakil presiden. 

"Tapi kita yakin siapa pun sulit menandingi Pak Jokowi dari sisi kinerja, reformasi birokrasi dan pemerintahan yang bersih," katanya.

Sejumlah survei menilai, polarisasi calon presiden untuk 2019 sudah terjadi menjadi dua kubu, Jokowi dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Karenanya, dari dua kubu ini masing-masing memunculkan nama cawapres untuk dijadikan pertimbangan.

Selain Jokowi, kabarnya, Prabowo Subianto juga mulai bersafari ke tokoh-tokoh Islam untuk mencari figur tepat cawapresnya. Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon menyampaikan Prabowo akan kembali diusung pada Pilpres 2019. Kata Fadli, Gerindra akan mengumumkan mengusung Prabowo jadi capres pada HUT ke-10 Gerindra, 6 Februari 2018.

Tag: ppp pkb pilpres 2019 pemilu 2019

Bagikan: