Satu Dekade Gus Dur: Dangdut, Kebudayaan, dan Solidaritas

Tim Editor

Peringatan Haul ke-10 Gus Dur. (Gabriella/era.id)

Jakarta, era.id - Sudah satu dekade Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur ini pulang ke pangkuan Ilahi. Peringatan Haul Gus Dur ke-10 ini pun digelar. Keluarga secara khusus mengangkat tema 'Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan'.

Menurut istri Gus Dur, Sinta Nuriyah, tema itu diangkat untuk mengingatkan masyarakat bahwa sosok almarhum suaminya bukan hanya sebagai kepala negara maupun kiai semata. Tapi lebih dari itu, Gus Dur adalah seorang budayawan sejati.

"Gus Dur selama ini orang hanya mengenal ia sebagai presiden dan kiai. Lebih dari itu banyak tidak ada yang mengenal Gus Dur siapa," ujar Sinta di kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (28/12/2019).

"Padahal Gus Dur juga seorang politikus, seorang demokratis, humanis yang humoris dan satu lagi Gus Dur adalah seorang budayawan," tambahnya sembari tersenyum mengenang alamarhum suaminya.

Ruh budayawan dalam diri Gus Dur, kata Sinta, dibuktikan lewat pemikiran-pemikiran serta laku hidupnya yang selalu menjaga kebudayaan.


Peringatan Haul ke-10 Gus Dur. (Gabriella/era.id)

Sinta yang malam itu mengaku merindukan Gus Dur mengatakan, melalui gagasan pribumisasi Islam, Gus Dur tak hanya memahami agama dari luar saja, tetapi nilai-nilai agama yang perlu ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan budaya Arab yang harus disamaratakan dan diterapkan dalam kehidupan beragama.

"Menjaga kebudayaan pada hakikatnya menjaga kemanusiaan itu sendiri. Dan gerakan silahturahmi dilakukan terus-menerus untuk mempertahankan tradisi, meski digerus oleh sekelompok orang atas nama agama," papar Sinta.

Namun, setelah 10 tahun setelah kepergian Gus Dur, Sinta mengaku masih bersedih sebab nilai-nilai yang ditanamkan Gus Dur mulai luntur. Gerakan pemberangusan tradisi dan budaya terus terjadi, seperti penghancuran patung-patung dan pelarangan tradisi upacara adat atas nama agama.

Hal ini, disebut Sinta sebagai defisit kebudayaan yang sedang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, keluarga secara khusus mengangkat tema kebudayaan sebagai upaya menjaga kemanusiaan kita.

"Karena tanpa kebudayaan manusia tidak lagi menjadi manusia. Ruang budaya harus dibuka selebar-lebarnya, sehingga kita bisa terbebas dari kepengapan akan kotak-kotak keyakinan," kata Sinta.

Dangdut, Kebudayaan, dan Solidaritas

Pesan yang sama juga diutarakan oleh putri keempat Gus Dur yaitu Inayah Wahid yang didapuk sebagai ketua acara satu dekade Haul Gus Dur. Inayah mengatakan, ayahnya selalu mengatakan bahwa kebudayaan adalah soal solidaritas.

Lewat kebudyaan, kata Inayah, kita diajaran untuk bertoleransi dan bersolidaritas. Hal itu diandaikan dengan tubuh, di mana satu bagian tubuh terluka bagian tubuh yang lain akan merasa kesakitan juga.

"Itu sebabnya beliau selalu minta saya untuk sering-sering mengdengarkan lagu dangdut. Maka saking seringnya dulu minta saya denger lagu dangdut," ujar Inayah.

Lalu apa hubungannya antara lagu-lagu dangdut dengan budaya? Inayah lantas mengulang pesan sang ayah kepada dirinya yang mengatakan bahwa dengan lagu dangdut kita bisa memahami masyarakat Indonesia.

"Bagi Gus Dur, dangdut bukan cuma soal karya. Tapi juga bagian dari realisasi curhat kesedihan atas berbagai kesedihan yang dihadapi sehari-hari. Terbukti hingga hari ini, apa yang memeprsatukan rakyat Indonesia bukanlah agama apalagi politik," kata Inayah.


Paduan Suara Queen Mary dari Gereja Katolik Santo Petrus Paulus, Temanggung. (Gabriella/era.id)

Ruang budaya, kata Inayah, tidak hanya soal kritik ke pihak lain, tapi juga kritik kepada diri sindiri. Hal ini adalah wujud nyata yang kerap dilakukan Gus Dur.

"Bapak itu orangnya santuy, Gus Dur bisa dengan sangat santainya menertawakan dirinya sendiri. Joke yang baik bagi Gus Dur bukan joke yang menjatuhkan orang lain tapi yang bisa menertawakan diri sendiri," pungkasnya.

Solidaritas dan toleransi yang menjadi benang merah di perayaan satu dekade Haul Gus Dur pun diperlihatan secara nyata. Tak hanya ribuan Gusdurian dari berbagai kalangan kelas sosial maupun agama saja yang hadir dalam acara tersebut.

Tak juga hanya dengan ditandai kehadiran pemuka-pemuka lintas agama maupun politikus yang duduk berdampingan di atas panggung.

Energi tolerenasi yang belakangan mulai luntur dari wajah bangsa Indonesia justru terasa ketika Paduan Suara Queen Mary dari Gereja Katolik Santo Petrus Paulus, Temanggung, Jawa Tengah tampil dengan membawakan tiga lagu yang notabene bukan lagu gereja.

Dengan alunan biola dan suara merdu, Queen Mary membawakan lagu Tombo Ati, Cublak-Cublak Suweng, dan Syiir Tanpo Waton. Ketiga lagu tersebut, seolah menyadarkan publik bahwa lewat karya budaya, ada sekat-sekat pemisah yang hilang dan menjadikan hidup lebih berharmoni dalam keberagaman.

Tag: keluarga gus dur gusdurian

Bagikan: