Perubahan Nama Jl Mampang Ditentang Tokoh Betawi

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. (Yasir/era.id)

Jakarta, era.id - Rencana perubahan nama Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, menuai penolakan dari sejumlah tokoh Betawi. Perubahan nama menjadi Jalan AH Nasution dikhawatirkan menghilangkan memori kolektif budaya masyarakat Betawi dengan adanya pembangunan tanpa wawasan sejarah.

"Dalam nama itu tersimpan sejarah dan kearifan tradisi masyarakat lokal Betawi," kata sejarawan dari Universitas Indonesia, JJ Rizal, kepada era.id, Rabu (31/1/2018).

Sikap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait perubahan nama tersebut sangat disesalkan. Hal itu tidak sesuai dengan janji kampanye gubernur yang dilantik pada 17 Oktober 2017 lalu.

"Semakin terasa ironis karena warga Betawi yang dalam janji politiknya akan diangkat harkat martabatnya dirayakan kebudayaannya ternyata malahan sebaliknya," ujar dia.

Saat ini banyak terjadi perubahan nama jalan di ibu kota. Misalnya, di Pondok Gede, Jakarta Timur, ada nama Kampung Dua Ratus karena luasnya 200 hektare, tetapi saat ini sudah hilang dan masuk Kelurahan Halim. Seperti juga Kampung Pecandran dan Kampung Petunduan yang bukan hanya namanya, tetapi kampungnya pun sudah hilang.

"Begitu banyak penghilangan nama jalan dan kampung Betawi karena pengabaian arti simbolik yang menyejarah," ungkap dia.


Kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. (Foto:Yasir/era.id)

Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Jakarta, Yahya Andi Saputra, meminta rencana tersebut dibatalkan agar generasi mendatang lebih memahami jati dirinya sebagai masyarakat Betawi.

"Saya berharap, Pak Anies bisa lebih memahami dan mengapresiasi kearifan lokal dan toponomi Jakarta. Hal ini karena transmisi itu penting, agar generasi mendatang dapat memahami jati dirinya dan jelas identitasnya," ucap Yahya.

Pernyataan kedua tokoh tersebut juga tertulis dalam petisi Perkumpulan Betawi: "Kita Menolak Pergantian Nama Jalan Mampang dan Buncit serta Sekitarnya dengan Nama Jalan Jendral Besar AH Nasution."

Petisi tersebut didukung sejumlah tokoh Betawi di antaranya Ketua Umum Sikumbang Tenabang Roni Adi, penulis betawikita.id Fadjriah Nurdiarsih, Ketua Umum Baca Betawi Asep Setiawan, rapper betawi Muhammad Amrullah (Kojek), pustaka Betawi Rachmad Sadeli, penulis buku Betawi G.J Nawi, Ketua Umum Tjondet Kita Foundation Lantur Maulana, peneliti kajian budaya Halimah, dan tokoh lain. 

Tag: perubahan nama jalan kepemimpinan anies-sandi

Bagikan: