Derita si Miskin Dikorbankan si Kaya Demi Mobil Mewah

Tim Editor

Dimas Prayitno (AFP)

Jakarta, era.id - Dimas Agung Prayitno terkejut saat petugas dari Unit Pelayanan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) ke rumahnya. Ia disangka menunggak Pajak kendaraan Bermotor (PKB) sebesar Rp170 juta untuk satu unit Rolls Royce Phantom 'miliknya'.

Tapi melihat tempat tinggal pria berusia 21 tahun itu, petugas pajak yakin ia hanya korban penghindaran pajak oleh salah satu orang kaya di Jakarta. 

"Bagaimana saya bisa membeli mobil? Lihat saja rumah saya seperti ini?" tanyanya heran.

Dimas yang berprofesi sebagai kuli bangunan ini memang tinggal di sebuah rumah kecil di dalam gang di kawasan Mangga Besar, Jakarta. Pria berpenghasilan sekitar Rp150.000 per hari ini diduga menjadi korban manipulasi data orang kaya yang ingin membeli mobil mewah tapi enggan membayar pajaknya.

Seingat Dimas, KTP-nya pernah dipinjam oleh mantan bosnya. Tetapi, tampaknya sang majikan mendaftarkan mobil mewahnya atas nama Prayitno untuk menghindari pajak.

"Pemilik hingga jatuh tempo belum membayar pajak. Kami pun menyambangi alamat yang tertera di STNK. Ternyata bukan pemilik aslinya," kata Kepala Unit Pelayanan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Jakarta Barat Joko Pujiyanto, Rabu (4/3/2020).

Penghindaran pajak yang merajalela membuat Indonesia kehilangan triliunan rupiah per tahun dalam upaya meningkatkan ekonomi menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.

Tahun lalu, Global Financial Integrity Report (GFI) memperkirakan Indonesia kehilangan sekitar Rp140 triliun potensi pendapatan negara karena penghindaran pajak dan kejahatan keuangan lainnya. Menurut GFI, Indonesia juga merupakan salah satu negara terburuk di dunia dalam hal lalu lintas dana ilegal.

Ada sekitar 350 unit mobil mewah di Jakarta yang terdaftar bukan atas nama pemilik aslinya. Mirisnya, banyak warga berpenghasilan rendah seperti Dimas yang didaftarkan oleh para orang kaya pemilik kendaraan berharga di atas Rp1 miliar itu.


Dok. Bea Cukai

Manipulasi Pajak

Apa yang menimpa Dimas hanya sebagian kecil dari masalah penggelapan pajak.

Pada akhir tahun 2019, Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Ashkara dipecat setelah diduga menyelundupkan sepeda motor Harley Davidson dan sepeda Brompton lewat pesawat yang baru dibeli maskapai pelat merah tersebut.

Ari diduga memanipulasi data dengan menggunakan nama bawahannya di dokumen penerbangan untuk menghindari deteksi dan pajak.


Penyeludupan Harley (Gabriella Thesa/era.id)

Beberapa hari kemudian, Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan membongkar penyeludupan kendaraan mewah dengan modus impor batu bata. Perkiraan total nilai seluruh kendaraan penyelundupan kurang lebih mencapai Rp21 miliar dan potensi kerugian negara sekitar Rp48 miliar.

"Isi kontainer pengiriman terdaftar sebagai batu bata tetapi kami menemukan mobil sebagai gantinya," ujar Menkeu Sri Mulyani saat itu.


Penyeludupan Mobil Mewah (Dok. Bea Cukai)

Mendaftarkan mobil, perusahaan atau properti lain atas nama orang-orang berpenghasilan rendah dan bawahan adalah modus yang dipakai oleh orang kaya Indonesia untuk menghindari pajak. 

"Pihak berwenang harus melihat pemiliknya bukan orang-orang yang biasa mendaftarkan kekayaan itu," kata peneliti Indonesia Tax Justice Forum, Nurkholis Hidayat seperti dikutip dari AFP, Rabu (4/3/2020).

Indonesia menjadi salah satu negara dengan rasio pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) terendah secara regional sebesar 10,7 persen pada 2019. Bank Dunia pada bulan Januari menyerukan usaha pemungutan pajak yang lebih baik.

Sementara itu, pemerintah bakal memperbaiki sistem dan regulasi perpajakan lewat RUU Omnibus Law Perpajakan.   

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut RUU Omnibus Law merupakan insentif yang diberikan pemerintah terhadap pengusaha. Para pengusaha diharapkan dapat mengembangkan bisnisnya sehingga membantu peningkatan ekonomi Indonesia. 

“Ini semua juga sinyal kepada pengusaha jangan terlalu banyak pikiran untuk lobi dengan membayar birokrat untuk simplify pajak. Jadi gunakan semua pikiran dan hati untuk menciptakan nilai tambah yang kompetitif,” kata Sri Mulyani di depan para pengusaha di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tag: bayar pajak

Bagikan: