Cerita ke Malaysia di Tengah Korona: Pergi Senang, Pulang Dikarantina

| 16 Mar 2020 19:35
 Cerita ke Malaysia di Tengah Korona: Pergi Senang, Pulang Dikarantina
Ilustrasi (Gerd Altmann/Pixabay)
Jakarta, era.id - Penyakit COVID-19 sudah mewabah di hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Meski demikian, Indonesia hingga saat ini belum meningkatkan status dan menutup akses perjalanan dari dan ke luar negeri. 

Tanggal 5 Maret 2020, seorang wanita yang kami samarkan identitasnya ini pergi ke Malaysia. Saat itu, pemerintah baru saja mengumumkan dua kasus positif korona. 

Gue ke sana karena udah terlanjur beli tiket dan enggak bisa di refund. Mulai dari tiket pesawat sampai ke hotel tuh sudah terlanjur di pesan semua sebelum ada korona di Indonesia,” ujar putri (bukan nama yang sebenarnya) ini saat berbincang kepada era.id, Minggu (15/3). 

Dengan kewaspadaan yang tinggi, wanita berusia 24 tahun ini memutuskan untuk tetap pergi bersama pacarnya. Selain itu, dia juga telah mengajukan surat cuti kepada pihak kantor, yang juga langsung mendapat cecaran pertanyaan. 

“Pihak kantor sempat nanya dan bercanda juga. Nasihatin gue suruh jaga kesehatan dan enggak aneh-aneh selama di sana,” lanjutnya. 

Saat hari keberangkatan, tak ada cek kesehatan di Bandara Soekarno-Hatta. Hal yang berbeda nampak saat tiba di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Menurutnya saat tiba di KLIA, pihak bandara sudah menggunakan alat yang cukup canggih untuk mendeteksi suhu tubuh. 

Drama perjalanan Putri di mulai saat dia tiba di bagian imigrasi. Putri yang menggunakan masker untuk pencegahan korona sempat ditanya-tanya kenapa ia pakai masker. Salah kaprah pemakaian masker di Indonesia menjadi penyebab pihak imigrasi curiga ia sedang sakit. 

“Pihak bandara sana sempat menanyakan gue, ‘kenapa pakai masker? Kamu korona?’. Di sana, orang yang pakai masker justru dicap sebagai pengidap korona, padahal gue antisipasi hal itu,” tutur Putri. 

Selain itu, menurut Putri di bagian imigrasi cukup ketat, bahkan wisatawan yang berasal dari China disediakan jalur khusus tersendiri dan terpisah dari wisatawan negara lainnya. 

“Yang ditakutin sama pihak sana itu pemegang paspor China. Mereka dikasih jalur khusus dan kaya dibentak-bentak gitu pakai bahasa Mandarin, which is gue enggak tahu ngomong apaan. Walaupun mereka dari China, bukan berarti mereka itu pengidap korona sih,” kata Putri menjelaskan situasi imigrasi di KLIA. 

Meski sempat mendapatk pertanyaan dari pihak bandara, Putri dan kekasihnya pun merasa tenang bisa dengan mudah masuk ke Malaysia. Dia menggambarkan situasi di sana tidak seheboh di Indonesia, yang juga sedang menangani kasus COVID-19 ini. Bahkan warga di sana cukup tenang dan santai melakukan aktivitasnya sehari-hari. 

Gue nonton berita nasional di TV sana pun mereka biasa aja, enggak heboh dan berlebihan,” katanya. 

Putri dan kekasihnya pun kembali ke Indonesia pada tanggal 8 Maret 2020. Saat tiba di Bandara Soekarno Hatta, mereka sempat melakukan pengecekan suhu tubuh dengan alat termometer manual. Selain itu, dia juga diberikan kartu cek kesehatan (kartu kuning) oleh petugas bandara. Nantinya kartu kuning tersebut berfungsi sebagai data perjalanan dan laporan kepada petugas kesehatan jika terjadi masalah kesehatan. 

“Jujur penanganan di Indonesia itu masih kurang efektif, terlebih kayak kartu kuning ini. Lo cuma isi kartu kuning, pakai hand sanitizer, dan cek suhu pakai yang ditembak itu (thermal gun). Kartu kuning itu kalau lo enggak sehat setelah perjalanan, lo harus ke dokter dan bawa kartu kuning itu. Di Indonesia enggak terlalu ketat banget sih,” ujarnya. 

Usai liburan yang menyenangkan tersebut, sayangnya Putri harus menjalani karantina selama 14 hari sejak kembalinya ke Indonesia. Hal ini pun dianjurkan oleh pihak kantornya, yang juga memberikan izin dirinya untuk melakukan pekerjaan dari rumah. 

Gue emang punya previlage buat WFH (work from home) tapi enggak selama ini juga sih. Cuma ya dari kantor menyarankan gue buat karantina diri sendiri. Kalau urusan gaji, harusnya gaji gue enggak dipotong ya, kan yang anjurin juga kantor,” tutupnya. 

Saat ini, status korona di Indonesia sudah mencapai 117 kasus, dengan lima korban meninggal dan pasien sembuh sebanyak delapan orang. 

Rekomendasi