Benarkah Rasio Tes PCR di Jawa Barat Setara di Jerman?

| 03 Jul 2020 17:26
Benarkah Rasio Tes PCR di Jawa Barat Setara di Jerman?
Ilustrasi (Dok. Humas Jabar)
Bandung, era.id – Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan (GTPP) COVID-19 Provinsi Jawa Barat (Jabar) menyatakan Jabar telah melakukan uji usap (swab test atau PCR) dan rapid test (RDT) sebanyak 254.302 sampel. Rinciannya, tes PCR sebanyak 78.108 dan RDT sebanyak 176.174.

Dalam siaran persnya, Gugus Tugas Jabar menyebut data tersebut per 28 Juni 2020. Untuk diketahui, Gugus Tugas pertama kali melakukan tes masif COVID-19 pada 25 Maret dan masih terus berlangsung hingga hari ini. Disebutkan, dari 78.108 sampel PCR, maka rasio tes PCR Jabar per 1 juta penduduk adalah 1.584.

Ketua Divisi Pelacakan Kontak Deteksi Dini Pengujian Massal dan Manajemen Lab GTPP COVID -19 Provinsi Jawa Barat dr Siska Gerfianti bilang, rasio PCR Jabar sebetulnya sudah tinggi. Ia mengklaim rasio ini setara dengan pengetesan yang dilakukan Jerman, negara yang berhasil menekan angka kematian akibat COVID. “Kalau dengan negara lain kita setara dengan Jerman,” ujar Siska, Kamis (2/7).

Selanjutnya diungkapkan jika dibandingkan dengan kasus positif per 1 juta penduduk, tes masif di Jabar terbilang efektif. Saat ini indeks risiko COVID-19 Jabar berada di angka 62, yang artinya tiap 1 juta penduduk ada 62 orang positif COVID-19. Secara nasional, angka positif Jabar ada di peringkat 28 atau peringkat tujuh dari tujuh provinsi di Pulau Jawa-Bali.

Siska melanjutkan, selama tiga bulan terakhir gugus tugas fokus tes PCR di 10 kabupaten/kota kawasan Bodebek dan Bandung Raya. “Pertama kita lakukan Maret pada Pekan Swab Massal, itu kami keluarkan 15.500 tes PCR serentak,” kata Siska.

Dengan even yang sama, tes PCR massal dilanjutkan di 17 kabupaten/kota dengan pencapaian Jabar berhasil memeriksa dengan PCR hingga 3.000 sampel. “Kemarin sisanya 17 kota dan kabupaten totalnya ada 25.000 test kit PCR,” sebut Siska. 

“Sekarang pun sebenarnya kami juga fokus Bandung Raya dan Bodebek karena kasusnya masih tinggi,” tambahnya.

Untuk keperluan tes PCR selama ini, sebanyak 45.000 test kit dibeli sendiri oleh Pemda Provinsi Jabar, ditambah dari bantuan pemerintah pusat, dan 10.000 sumbangan dari pihak ketiga. Saat ini Jabar masih memiliki stok 70.000 tes kit PCR yang disimpan di Balai Laboratorium Provinsi Jawa Barat (Labkes) di Jalan Sederhana, Kota Bandung.

Dalam waktu dekat, Pemda Provinsi Jabar juga akan membeli 150.000 test kit PCR sebagian impor sebagian buatan dalam negeri. Pembelian sendiri ini diperlukan untuk kepentingan efektivitas kerja. “Kadang datangnya bantuan tidak paket full. Datang dulu reagent ekstrasi, nyusul mesin PCR nanti nyusul barang lainnya,” sebut Siska.

Siska berharap tes PCR Jabar semakin cepat mendekati standar WHO. Dia mengapresiasi kesadaran masyarakat dalam melakukan tes PCR semakin baik seiring dengan sosialisasi dan edukasi. Diakui ada saja warga yang menolak tes PCR dengan berbagai macam pertimbangan. “Tapi sebagian besar warga happy-happy aja,” tutup Siska.

Benarkah klaim rasio tes PCR Jabar sama dengan Jerman? Mengutip artikel “Fakta dari Fiksi Terkait Penanganan Krisis Korona di Jerman” di Deutche Welle (DW), sampai pada Selasa 7 April lalu Kementerian Kesehatan Jerman menyatakan bahwa pihaknya melakukan tes kepada 300.000 orang per minggu. Jerman berpenduduk sekitar 82 juta orang. Jerman telah melakukan lebih banyak tes daripada Italia, pusat pandemi COVID-19 di Eropa.

Tes di Jerman menunjukkan bahwa angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan di Jabar. Jumlah 300.000 orang tersebut dilakukan per minggu. Sementara jumlah tes di Jabar merupakan hasil akumulasi dari tes masif pertama yang dilakukan sejak 25 Maret sampai akhir juni atau setara tiga bulan.

Tingginya jumlah tes di Jerman membuat negara ini berhasil menekan angka kematian akibat COVID. Jumlah kasus positif di Jerman pada 7 April tersebut dilaporkan sebanyak 105.000 kasus. Tingkat kematian Jerman dalam pandemi ini masih tetap rendah, sekitar 1,5 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara anggota Uni Eropa (EU) lainnya, seperti Spanyol (9,5 persen), Italia (12 persen).

 

Rekomendasi