Bisnis Haji Macet, Arab Saudi Tertunduk Lesu

Tim Editor

Masjid Agung Mekah yang kosong (Twitter/Ian Bremmer)

Riyadh, era.id - Bagi beberapa orang, pembatalan ibadah haji tahun ini memupuskan salah satu mimpi mereka. Namun, kejadian ini juga pukulan telak bagi Arab Saudi yang bergantung pada bisnis perjalanan haji.

Musim haji adalah fenomena saat 2,5 juta orang dari seluruh penjuru dunia membanjiri sudut-sudut kota Mekah. Namun, peristiwa tahunan yang sedianya terjadi di akhir Juli, pada tahun ini akan berkurang drastis menjadi 1.000 orang yang kesemuanya adalah penduduk Arab Saudi sendiri. Hal ini dikarenakan negara tersebut masih mengkarantina diri akibat pandemi COVID-19.

Tak hanya membuat banyak umat Islam kecewa, hal ini jadi bencana bagi sektor ekonomi Arab Saudi.
 
Film dokumenter tentang kota Mekkah, Arab Saudi (Youtube)

Muhammad Tarif dari Masjid Cavan di Irlandia, seperti dilaporkan DW, berkata mimpi teman-temannya untuk pergi ke Mekah harus tertunda untuk terealisasi. "Tidak hanya sedih, mereka lebih dari sedih. Ini seperti seseorang yang bakal mengunjungi rumah Allah dan kemudian batal pergi," kata Tariq.

Batalnya rencana perjalanan haji ke Mekah bagi masyarakat Muslim di negara Eropa terasa lebih berat daripada libur musim panas yang harus dibatalkan, kata Sean McLoughlin, kata profesor antropologi Islam di Universitas Leeds.

"Dari sudut pandang industri, perjalanan haji adalah sesuatu yang memiliki unsur komersialisasi dan sangat politis. Namun, bagi kebanyakan peziarah biasa, perjalanan haji adalah sesuatu yang sangat bermakna."

Tahun ini, ketika musim haji dibatalkan, lembah Mina dan menara-menara hotel berbintang yang mengelilingi Masjid Besar Mekkah pun seperti hampa. Penduduk lokal yang bergantung pada bisnis bernilai 12 milyar dolar (Rp172 trilyun) juka merasakan kerugian.

"Tentu saja kami kecewa," kata Hashim Tayeb, yang terpaksa menutup toko parfum yang berada di depan masjid agung. Banyak restoran, salon, dan bisnis lainnya, "sangat terdampak, terutama para agen perjalanan," kata Tayeb.

Namun, Tayeb mengaku bahwa keputusan pembatalan haji adalah pilihan yang paling aman. Gelombang wabah baru yang dimulai saat para peziarah saling bersinggungan selama lima hari penuh bakal jadi kutukan bagi negara tersebut.
 

Badan Moneter Dunia (IMF) memprediksikan kontraksi ekonomi 6,8% bagi Arab Saudi pada tahun ini karena di saat bersamaan terjadi anjloknya harga minyak dan kerugian yang diakibatkan oleh pandemi virus korona.

Pemotongan anggaran negara dan kenaikan pajak barang konsumsi hingga tiga kali lipat akan sangat dirasakan di Arab Saudi. Di saat yang sama, konsumsi masyarakat di bulan APril telah turun 34% dibandingkan dengan tahun lalu.

Tag: haji 2020

Bagikan: