Cerita Korban Ledakan Bom Thamrin

Tim Editor

Korban ledakan bom Thamrin saat bersaksi

Jakarta, era.id - Salah satu korban ledakan bom Thamrin, John Hansen, hadir dalam persidangan ketiga dengan terdakwa Aman Abdurrahman alias Oman Rachman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarman. John bercerita peristiwa ledakan bom yang meninggalkan bekas luka di telinganya itu.

"Hitungannya detik ledakan pertama dan kedua terjadi. Posisi saya berada cukup dekat dengan lokasi ledakan kedua sehingga pembuluh darah telinga saya pecah dan mengalami kesulitan mendengar," kata John saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera, Jakarta, Selasa (27/2/2018).

Majelis hakim Akhmat Zaini, bertanya kepada John, apakah melihat korban setelah ledakan kedua itu terjadi. 

"Ada korban tidak?" tanya hakim dengan suara agak tinggi karena John mengalami kesulitan pendengaran akibat ledakan itu.

"Kalau kelihatannya sih mungkin ada 50 lebih orang yang ada di dalam Starbucks. Saya panik dan suara teriakan orang pun kedengaran kecil banget," kata John.

Setelah ledakan kedua terjadi, John dibawa sopir pribadinya ke rumah sakit. Hingga kini dia masih menjalani pengobatan karena telinga kirinya mengalami infeksi pendengaran. John juga mengaku selalu khawatir bila datang lagi ke gerai kopi asal Amerika di Thamrin itu.

"Masih suka ada rasa takut. Jadi masuk ke Starbucks takut, lewat Thamrin juga was-was," ungkapnya.



Sepanjang keterangan saksi, terdakwa Oman terlihat menunduk diam. Dirinya hanya sesekali melihat para saksi dengan wajah datar. Selain John, ada dua saksi lainnya yang dihadirkan jaksa penuntut umum. Keduanya berasal dari Polda Metro Jaya, Ipda Dody Maryadi dan Ipda Suhadi. Dody mengetahui adanya ledakan bom Thamrin melalui laporan radio polisi.

"Pos Sarinah meledak! Pos Sarinah meledak," tiru Dody saat mereka apa yang ia dengar saat itu.

Setibanya di lokasi, Dody berpapasan dengan seorang pelaku teror bom Thamrin yang sempat dikiranya anggota polisi 'preman'. Namun pelaku tersebut malah menembaknya.

"Peluru tembus ke arah badan bagian kanan saya," jelas Dody sambil menunjukan lokasi peluru yang menembus tubuhnya.

Saksi lainnya yaitu Suhardi menceritakan, bagaimana dirinya mengevakuasi para korban ledakan bom Thamrin. Dirinya bahkan tak sadar jika satu peluru nyasar tertembak di punggungnya.

"Saya berada di perempatan Sarinah dekat Bawaslu, awalnya saya pikir pecah ban tapi setelah mendengar ledakan kedua saya langsung pikir ini bom, jadi saya langsung bergegas ke lokasi," tuturnya.



Dari radio polisi, Suhardi mendapat perintah untuk segera mensterilkan lokasi arus lalu lintas dari Tanah Abang ke Sarinah. Dirinya juga mendengar beberapa kali letusan senjata api di belakangnya.

"Di pos Sarinah saya sterilkan jalan, habis itu, saya lari gunakan motor untuk bawa korban. Tapi orang-orang pada bilang, 'darahnya banyak banget pak'. Pas saat itu saya baru sadar kalau saya ketembak," jelas Suhardi sambil memegang punggung untuk menunjukkan lokasi ia tertembak.

Dalam kasus ini, Oman didakwa menggerakkan orang lain dan merencanakan sejumlah teror di Indonesia termasuk Bom Thamrin 2016. Oman dinilai telah menyebarkan paham yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan objek-objek vital. Oman dijerat Pasal 14 Jo Pasal 6 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. 

Tag: ledakan bom thamrin

Bagikan: