MUI: Jangan Kaitkan Muslim dengan Penyebar Hoaks

Tim Editor

Gedung Majelis Ulama Indonesia (Foto: pusat.baznas.go.id)

Jakarta, era.id -  Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi mengapresiasi Wakapolri Komjen Polisi Syafruddin yang melarang anggota Polri menyebut pelaku tindak pidana penyebar hoaks sebagai Muslim. Menurut dia, pelaku adalah oknum dan sebaiknya tidak dikaitkan dengan agama tertentu.

"Seharusnya memang demikian," kata Zainut kepada wartawan di Jakarta, seperti dikutip Antara, Sabtu (10/3/2018).

Zainut juga meminta pihak Kepolisian agar dalam penanganan masalah kejahatan siber lebih fokus pada tindakan kriminal, dengan tidak mengaitkan kepada identitas pelakunya. Untuk itu, Zainut menilai langkah Wakapolri sudah tepat memisahkan Muslim dengan penyebar hoaks.

"Apakah itu identitas suku, ras, etnis, golongan maupun agama pelakunya. Karena dikhawatirkan mengaitkan ketersinggungan kelompok yang justru kontraproduktif dalam penanganan kasus ini," jelas dia.

Siapapun yang bersalah, kata dia, tanpa harus dilihat latar belakang agamanya untuk ditindak tegas apabila telah melakukan tindak pidana.

Tindak pidana itu sendiri bisa terkait dengan penyebaran kebohongan, ujaran kebencian, penghinaan, fitnah, adu domba dan pencemaran nama baik terhadap para pemimpin, tokoh agama dan pejabat negara.

"Untuk hal tersebut MUI mendukung langkah-langkah Kepolisian RI dalam menegakkan hukum dan meminta kepada Polri untuk mengusut tuntas kejahatan cyber crime ini secara cepat, profesional, adil dan transparan," pungkas dia.

Sebelumnya, penyidik Siber Bareskrim menangkap enam orang yang disebut sebagai anggota Muslim Cyber Army (MCA) di sejumlah lokasi yang berbeda yakni Muhammad Luth (40) ditangkap di Tanjung Priok, Jakarta Utara; Rizki Surya Dharma (35) di Pangkalpinang; Ramdani Saputra (39) di Bali; Yuspiadin (25) di Sumedang; Ronny Sutrisno (40) serta Tara Arsih Wijayani (40).

Di media sosial, kelompok ini rutin menyebarkan postingan foto video dan berita palsu berisi penghinaan, fitnah dan pencemaran nama baik terhadap pemimpin dan para pejabat negara.

Kelompok ini juga kerap memposting hal-hal bernuansa SARA di medsos, termasuk isu provokatif tentang penyerangan terhadap ulama dan kebangkitan PKI.

Tag: berita hoaks polri

Bagikan: