Mengenal Adat Penamaan Masyarakat Bali

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Polemik dua anak dalam Program Keluarga Berencana (KB) kembali digulirkan calon gubernur Bali, Wayan Koster. Kata Koster, Program KB berpotensi menghilangkan dua generasi dalam adat Bali.

Pembatasan jumlah dua anak, menurut Koster, tak cocok diterapkan di Bali. Alasannya, kalau Program KB membatasi jumlah dua anak, maka beberapa nama yang jadi identitas adat generasi di Bali terancam hilang. 

"Kalau program KB dua anak, berarti ada generasi Bali yang hilang yakni Nyoman (atau Komang) dan Ketut. Bali kehilangan kultur dan budaya," kata Koster, sebagaimana dikutip dari Antara, Kamis (15/3/2018).

Mengenal adat penamaan masyarakat Bali

Nama orang Bali pada umumnya diawali dengan panggilan-panggilan yang mencirikan kasta (wangsa) dan urutan kelahiran. Menurut Sastra Kanda Pat Sari --salah satu konsep yang mendasari spiritualitas masyarakat Bali, ada empat nama adat yang menandai kelahiran setiap anak.

Ada Wayan atau Gede atau Putu yang biasanya digunakan untuk nama anak pertama, Made dan Kadek untuk nama anak kedua, Nyoman atau Komang untuk nama anak ketiga, dan Ketut untuk nama keempat.

1. Wayan/Putu/Gede

Nama Wayan biasanya digunakan sebagai nama anak pertama. Diambil dari kata wayahan yang artinya paling tua, lebih tua, atau biasa juga disebut paling matang.

Selain Wayan, anak pertama masyarakat Bali juga kerap dinamai Putu atau Gede. Dua nama itu biasa digunakan oleh masyarakat Bali di belahan barat dan utara.

Putu diambil dari kata cucu. Sedangkan Gede berarti besar, menggambarkan kedewasaan dalam usia dalam konteks urutan kakak beradik. Bagi anak perempuan, biasanya masyarakat Bali menambahkan sebutan Luh untuk nama anak mereka.

2. Made/Nengah/Kadek

Anak kedua dalam masyarakat Bali biasanya diberi awalan Made. Diambil dari kata madya atau tengah. Di sejumlah daerah di Bali, anak kedua biasanya juga diberi nama depan Nengah yang juga berarti tengah.

Selain itu, sebutan Kadek juga biasa digunakan untuk nama anak kedua. Kadek merupakan serapan dari kata Adi, yang juga berarti adik/adek.

3. Nyoman/Komang

Nama Nyoman dan Komang biasanya diberikan untuk anak ketiga. Panggilan Nyoman konon diambil dari kata nyeman yang artinya lebih tawar, mengacu pada susunan lapisan kulit pohon pisang, yakni lapisan sebelum kulit terluar memiliki rasa lebih tawar. Sebutan Nyoman juga kerap disebut sebagai serapan kata "anom-an' yang bermakna muda. 

Dalam perkembangannya, nama Komang juga banyak digunakan sebagai nama anak ketiga masyarakat Bali. Secara etimologis, Komang berasal dari kata uman yang bermakna sisa atau akhir. Nah, menurut keyakinan, tiga anak dipercaya sebagai jumlah paling ideal.

4. Ketut

Nama Ketut adalah serapan dari kata ke dan tut, atau ngetut yang maknanya mengikuti atau mengekor. Selain itu, nama Ketut juga sering dikaitkan dengan kata kuno kitut, yang berarti sebuah pisang kecil di ujung terluar dari satu sisir pisang.

Ketut sering dimaknai sebagai berkah tambahan --diluar jumlah ideal tiga anak yang diyakini.

Tag: polemik dua anak di bali keluarga berencana

Bagikan: