Mengelola yang Terbengkalai Jadi Fungsional

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Indonesia memiliki rapor yang tak begitu baik dalam hal riset dan pengembangan. Bahkan dalam laporan Global Innovation Index 2017, dari 127 negara, Indonesia menempati posisi ke-82 dan tertinggal jauh dari negara tetangganya Singapura yang masuk posisi tujuh besar.

Laporan ini mengungkapkan tendensi sebuah negara dalam melakukan riset dan pengembangan. Namun jangan salah, ternyata banyak juga karya dan riset penelitian lahir dari tangan kreatif anak bangsa. Bahkan tak sedikit dari karya-karya itu mendapat atensi pemerintah.

Sebut saja, produksi mobil Esemka yang digadang-gadang akan menjadi mobil pertama karya anak bangsa. Lima tahun telah berlalu, sejak mobil itu diperkenalkan dan digunakan Jokowi saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.

Mobil Esemka dikabarkan tengah memproduksi unit kendaraannya dan 200 mobil telah terjual di dalam negeri. Nama mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Abdullah Mahmud Hendropriyono diberi mandat Presiden Joko Widodo untuk memproduksi mobil nasional itu.

Tak hanya bidang otomotif darat yang terus dikembangkan oleh pemerintah Indonesia. Nyatanya, Presiden ketiga BJ Habibie menjadi orang pertama yang menggagas pembuatan pesawat asli dalam negeri. Bahkan pesawat perdana buatan Indonesia ini pernah mengudara untuk pertama kalinya pada 1995.

Namun sayang, produksi pesawat N250 harus tertahan pada 1998. Saat itu, Presiden Soeharto atas rekomendasi lembaga pemberi kredit International Monetary Fund (IMF) meminta proyek N250 dihentikan.

Beberapa dekade kemudian, Presiden Jokowi meresmikan sebuah pesawat N219 yang dinamai Nurtanio. Pesawat yang disebut jokowi sebagai produk anak bangsa itu dibuat PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Pesawat N219 alias Nurtanio itu, bahkan sudah banyak menerima pesanan sejak diperkenalkan dalam ajang International Singapore Airshow 2018. 

Keberhasilan Nurtanio di kancah internasional itu, menjadi semangat baru bagi BJ Habibie. Dia kembali menggagas ide untuk memproduksi pesawat berjenis turboprop yang dinamai R80.

Upaya Habibie mewujudkan kemandirian industri dirgantara itu membuat masyarakat riuh bersemangat. Terlebih karena proyek pesawat ini melibatkan banyak orang untuk modal pembuatannya.

Tercatat di situs pengumpul dana kitabisa.com, dana yang sudah dikumpulkan untuk membuat R80 sudah mencapai Rp8,8 miliar.

Halang rintang produksi dalam negeri

Selain mobil Esemka dan pesawat R80, nyatanya pemerintah pernah memproduksi mobil listrik ketika memanfaatkan momentum APEC di Bali pada 2013. Waktu itu ada keinginan agar peserta APEC dari berbagai negara itu menggunakan mobil listrik buatan anak bangsa.

Alih-alih berhasil, proyek prestisius itu malah berakhir di meja hijau. Lantaran mobil yang diberi nama Selo itu mengalami kecelakaan di Magelang, Jawa Timur. Sejak kejadian itu, pemerintah mengurungkan niatnya untuk memamerkan Selo di ajang internasional.

Menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dahlan Iskan pun ikut ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pengadaan mobil listrik itu. Menurutnya untuk memproduksi mobil listrik dengan merek Selo itu harus melewati proses izin yang berbelit-belit.

Disebut negara sampai harus merugi Rp32 miliar untuk memproduksi mobil listrik Selo. Sejak saat itu, pemerintah mulai enggan untuk menggarap riset dan pengembangan karya anak bangsa.

Tag: chipset teknologi 7nm mengenang stephen hawking

Bagikan: