Counter Attack dari Presiden Jokowi

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Presiden Jokowi (Setneg.go.id)

Jakarta, era.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang biasanya kalem ketika diserang beragam isu mulai membuka suara. Dengan lantang Jokowi menjawab berbagai persoalan yang ditujukan kepadanya mulai dari isu Indonesia bubar 2030, utang negara, PKI, hingga gerakan #2019GantiPresiden.

Hal itu disampaikan Jokowi, saat berpidato di acara Konvensi Nasional Galang Kemajuan Tahun 2018, di Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 7 April 2018. Di hadapan ribuan relawannya Jokowi meminta agar tetap optimis dalam membangun Indonesia.

"Selalu percaya Indonesia ini akan menjadi bangsa yang maju, bangsa yang sejahtera dan makmur pada masa-masa yang akan datang," kata Jokowi, Sabtu (7/4/2018).

Diakuinya membangun Indonesia tidaklah mudah, banyak rintangan dan tantangan serta ujian yang dihadapi. Menurutnya untuk melakukan itu semua bukanlah cara yang instan, Jokowi pun meminta masyarakat untuk tidak berfikir pesimis bahwa Indonesia akan bubar.

"Tahapan-tahapan yang kita lalui tidak ringan, ujian-ujian yang berat dan tidak mudah selalu ada, tapi pasti ada jalan keluarnya supaya kita tahan uji makanya kita harus kerja keras. Jangan malah berbicara pesimis 2030 Indonesia akan bubar," jelasnya.

Hal itu menjawab isu-isu Indonesia bubar pada 2030 yang pernah disampaikan Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Jokowi menegaskan sikap optimistis harus terus ditumbuhkan pemimpin untuk menghadapi tantangan yang muncul akibat perubahan dunia yang begitu cepat. 

"Pemimpin itu harus memberikan optimisme kepada rakyatnya, pemimpin itu harus memberikan semangat, meskipun tantangannya berat dan enggak gampang," imbuh Jokowi.



Isu Asing, Aseng Sampai Kaus Ganti Presiden

Jokowi juga mengklarifikasi soal tudingan antek asing, aseng dan PKI yang kerap dialamatkan kepadanya. Namun isu-isu tersebut gagal dan terus berganti tiada hentinya.

"Banyak yang dari kita ingin melemahkan bangsa kita dengan cara-cara yang tidak beradab. Ngomongin isu antek asing, tuding-tuding ke saya. Jokowi itu antek asing, (isunya) gagal, hilang. Habis itu ganti lagi aseng (isunya) gagal lalu hilang," ucap Jokowi.

Dia juga mengatakan isu PKI tersebut diperkuat oleh foto yang menyebut dirinya bersama tokoh PKI, DN Aidit. Foto itu marak beredar di media sosial.

"Ada lagi gambar di medsos waktu DN Aidit pidato tahun '55, saya lahir belum udah jejer sama DN Aidit coba. Masa iya ada PKI balita," katanya.

Jokowi juga menanggapi soal gerakan #2019GantiPresiden yang masif digemakan PKS.

"Sekarang isunya ganti lagi kaus. #GantiPresiden2019 pakai kaus. Masak kaus bisa ganti presiden? Yang bisa ganti presiden itu rakyat," kata Jokowi di hadapan relawan yang hadir. 




Jokowi Jawab Banyaknya Utang Negara

Tak hanya itu, Jokowi juga bicara soal utang negara selama dia menjabat sebagai Presiden RI. Jokowi menjelaskan jika sejak dirinya dilantik utang negara sudah Rp 2.700 triliun dan ditambah bunga, sehingga terus membengkak tiap tahunnya. 

"Saya dilantik utangnya sudah Rp2.700 triliun. Saya ngomong apa adanya. Bunganya setiap tahun Rp250 triliun. Kalau 4 tahun sudah tambah 1.000," papar Jokowi.

Dia pun meminta masyarakat berpikir jernih terkait isu utang negara selama dia memimpin. Dia menegaskan tidak mungkin menambah utang negara dalam jumlah besar.

"Supaya ngerti, jangan dipikir saya utang segede itu. Enak aja, pokoknya isunya dijawab ilang dan ganti lagi," katanya.

Kritik Sertifikat Tanah

Jokowi juga menanggapi kritik program sertifikat tanah untuk rakyat yang disebut program bohong. Jokowi mengingatkan jika hal itu merupakan kritik, maka harus berbasis data dan mencarikan alternatif solusi. 

Jokowi menyadari negara demokrasi kritik itu merupakan hal yang sah saja. Namun, harus dibedakan antara kritik dan nyinyir. 

"Di negara kita yang berdemokrasi ini kita boleh mengkritik. Gak apa. Tapi orang harus mengerti mana yang kritik mana yang mencemooh. Itu beda," kata Jokowi. 

"Mana yang kritik, mana yang nyinyir. Mana yang kritik mana yang fitnah. Beda itu," imbuhnya.

Jokowi meminta, jika ingin menyampaikan kritik haruslah berdasarkan data dan bukan menebar isu belaka. Dan juga harus bisa memberikan alternatif solusinya.

"Masyarakat harus mulai mengerti, bisa membedakan. Semuanya kalau mengkritik itu berbasis data dan bisa mencarikan solusi alternatif. Kalau tidak itu apa namanya," tambah Jokowi.

Tag: jokowi pilpres 2019

Bagikan: