Menelisik Kemiripan Gaya Kampanye SBY-Obama

Tim Editor

Ilustrasi (Rahmad/era.id)

Setelah di artikel sebelumnya mengulas kemiripan lagu-lagu Indonesia dengan lagu-lagu band luar negeri, kali ini era.id akan mengulas beberapa kemiripan kampanye Susilo Bambang Yudhoyono dengan kampanye Barack Obama. Artikel ini masih menjadi bagian dari tema kami pekan ini, Era Mirip-Mirip.

Jakarta, era.id - Banyak yang mengatakan, gaya kampanye Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pemilu 2009 yang berlangsung di Hall D1 Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, 4 Juni mirip-mirip dengan kampanye Obama di Pemilu Amerika Serikat 2008. Mulai dari gaya komunikasi kampanye SBY, hingga penguasaan panggung, seolah 'plek ketiplek' meniru pola kampanye Obama.

Posisi podium pidato misalnya, sama-sama dipasang di tengah-tengah yang menjadi pusat perhatian bagi seluruh peserta yang mengitari. Belum lagi pernak-pernik poster, banner, dan foto-foto SBY-Boediono yang terpampang di seluruh sisi Hall D1 PRJ di mana salah satunya adalah sebuah poster besar bertuliskan pesan pemerintahan bersih. Nah, di kampanye Obama juga ada bendera Amerika Serikat yang besar dan disandingkan dengan kata ‘hope’ alias harapan dengan ukuran yang juga besar.

Kata-kata dukungan dalam kampanye SBY juga terpampang di banyak poster berukuran sekitar A4 hingga A3, di antaranya; 'SBY-Boediono', 'Lanjutkan', 'Pilih Nomor 2', dan ‘I Love SBY’. Sementara di kampanye Obama, ada poster bertuliskan ‘I Love Obama’ dan ‘Yes We Can’. Intinya, nuansa Obama sangat kuat dalam kampanye yang digelar SBY.

Selain itu, pemilihan warna merah dan biru sebagai ‘corporate color’ atau warna yang digunakan pada setiap desain marketing SBY juga mirip dengan warna kampanye Obama. Bandingkan saja kedua logo untuk calon presiden ini yang sama-sama berbentuk lingkaran dan didominasi warna merah-biru.

Tak sampai di situ, situs untuk menyokong Obama dan SBY pun terasa mirip satu sama lain. Memang tidak persis sama, tetapi boleh dikatakan nuansa situs tersebut sangat lah mirip. Fitur untuk log in, foto SBY, dan kata-kata motivasi design template secara keseluruhan sedikit banyak sangat mirip dengan situs Obama.
 
Terkait kemiripan ini, ada baiknya kita melipir ke buku bertajuk Resistensi Gaya Hidup (2006) yang ditulis Yasraf A. Piliang. Di dalamnya, ia menjelaskan sebuah terminologi yang disebut dengan 'imagologi' atau yang lebih familiar disebut pencitraan. 

Pencitaraan adalah ilmu yang menjelaskan soal citra atau imaji serta peran teknologi pencitraan dalam pembentukannya. Di dunia nyata, imagologi merujuk kepada Society of The Spectacle, yakni masyarakat yang mengedepankan citra ketimbang teks atau oral untuk membangun relasi sosialnya.

Lebih lanjut Yasraf menjelaskan, ada dua jenis imagologi. Pertama, berupa tanda-tanda yang menyerupai atau secara fisik ada kemiripan dengan apa yang direpresentasikannya seperti foto, patung, lukisan diri, dan bentuk fisik lain. Kedua, lebih kepada citra khayalan atau citra ilusif yang belum tentu menggambarkan sosok aslinya.

Imagologi politik lebih cocok kepada jenis yang kedua, pencitraan yang dilakukan lebih kepada pengaburan realitas itu sendiri demi kepentingan politik tertentu. Mudahnya, seperti melihat orang yang terlihat sangat menarik di sosial media namun ternyata aslinya biasa saja.

Kemenangan kampanye Obama pada 2008 mungkin menjadi inspirasi terbesar sehingga memengaruhi calon presiden lain untuk melakukan strategi serupa agar menang di kontestasi pemilu. Apalagi, pada masa itu, baik SBY dan Obama sama-sama dipandang sebagai orang yang ‘baik’ dan tengah berupaya meneruskan kebijakan di negaranya masing-masing pada periode ke-2.

Pada akhirnya, baik SBY maupun Obama memang mendapatkan mandat dari rakyat untuk memimpin di periode kedua. Setidaknya, bukan hanya kampanyenya yang mirip, tetapi hasil dari kampanye mereka pun menghasilkan hal serupa.


Ilustrasi kampanye SBY-Obama (Rahmad/era.id)

Ketua DPP Partai Demokrat, Didik Mukrianto tidak membantah atau membenarkan tentang anggapan kampanye SBY mirip dengan Obama. Buat dia, yang paling penting bagaimana pesan yang mau disampaikan bisa diterima secara utuh oleh rakyat. Caranya bisa bermacam-macam. Salah satunya dengan metode kampanye dan penyampaian visi misi calon yang dikemas dengan menarik.

"Dengan produk yang baik dan dikemas dengan marketing tools yang baik, tentu akan memudahkan kami untuk menjual atau selling values kepada publik," kata Didik kepada era.id.

"Namun demikian, kalau orang mengasosiasikan mirip dengan kampanye Obama, tentu kami hargai pandangan itu," tandasnya.

Tag: era mirip-mirip

Bagikan: