Menguji Kesaktian Generasi Muda Pendukung Gatot

Tim Editor

Jenderal Gatot Nurmantyo (Leo/era.id)

Jakarta, era.id - Pemilu kian dekat, sejumlah tokoh politik berusaha menarik hati para pemilih--khususnya kaum milenial--yang merupakan pemilih potensial pada Pemilu 2019. 

Untuk menggambarkan diri mereka 'muda banget', para politikus rela berdandan ala anak muda. Misalnya, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang mengenakan celana jin dan menaiki vespa. Atau Ketua Umum PPP Romahurmuziy dengan permainan bass-nya. Bisa jadi, itu untuk dikenal anak muda. 

Berbeda dengan Cak Imin dan Romi, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo punya cara berbeda dalam menggambarkan dirinya 'muda banget'. Tanpa harus menggunakan pakaian dan kendaraan remaja masa kini, Gatot, mendapat dukungan untuk maju sebagai capres 2019 dari organisasi Generasi Muda Milenial (GMM).

Uniknya, GMM merupakan organisasi baru yang berumur satu pekan dan belum pernah melakukan pertemuan langsung dengan Gatot. GMM masih menunggu kepulangan Gatot yang sedang menjalankan ibadah umrah, di mana nantinya mereka akan mendorong Gatot masuk partai politik jika ingin nyapres pada Pemilu 2019.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Jayabaya, Lely Arriene menjelaskan, media komunikasi politik terdiri dari empat poin penting; yaitu interpersonal, organisasi, media massa/sosial dan kelompok kepentingan. Dia menilai, GMM merupakan bagian dari kelompok kepentingan yang mendukung Gatot untuk menjadi capres. Lely menilai keberadaan GMM yang mendukung Gatot merupakan hal wajar, terlepas apakah kelompok itu yang sengaja dibuat atau tidak. 

"Kelompok (GMM) boleh saja, apakah GMM yang mencari simpati Gatot atau sebaliknya, bisa jadi itu kelompok kepentingan dalam pencalonan Gatot, kayak dulu ada Projo," ujar Lely kepada era.id lewat sambungan telpon, Senin (23/4/2018).

Lely melihat gaya komunikasi politik yang mendekatkan dengan milenial tidak hanya dilakukan Gatot, namun juga oleh yang lain. Dia menilai, dukungan yang diberikan GMM hanyalah cara lama yang sebelumnya pernah dipraktikkan kelompok-kelompok kepentingan lainnya. 

Terakhir, kata Lely, yang paling penting dalam mendorong Gatot maju di Pemilu 2019 nanti, bukan suara kelompok kepentingan, tapi kendaraan politik yang bersedia mengantarnya. 

"Meski ada 100 juta milenial, kalau enggak ada (partai) yang mengusulkan dia jadi presiden, gimana mau jadi presiden?" tutup Lely.

Tag: gatot nurmantyo capres pemilu 2019 nikah milenial

Bagikan: