Beredar Rekaman Percakapan 2 Orang Bahas Fee Proyek

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Jagat maya dihebohkan dengan beredarnya rekaman percakapan telepon yang diduga berbicara mengenai pembagian fee proyek. Ada dua orang --pria dan wanita-- yang terlibat dalam percakapan tersebut.

Rekaman ini pertama kali diunggah oleh akun instagram om_gadun, Jumat (27/4/2018). Dengan caption 'Dashyaaatttt...!!!! Mau kelanjutanhya? Om butuh 1000 likes #MafiaMigas #RIwayarpertaminakiNI', om_gadun mengunggah sebuah video yang berisi rekaman percakapan dengan cover tulisan 'Rini Soemarno' dan ' Sofyan Basir'.
 
Tidak berapa lama, giliran akun twitter @digembok yang ikutan mengunggah juga rekaman percakapan ini. Malah @digembok sampai membuat dalam 3 part. 

"Gue nemu rekaman ini. (part 1) cc: @KPK_RI Suaranya Rini dengan Sofyan Basir Dengerin Yuk Ngomongin Persen-persenan#RIwayatpertaminakiNI," tulis akun dengan jumlah follower 90 ribu ini.
 

Dalam rekaman itu, si empunya suara perempuan berbicara dengan lawannya mengenai pertemuan dengan seseorang yang disebut mereka sebagai "Pak Ari" untuk membahas pembagian fee.

"Saya juga kaget kan Bu, saya mau cerita ke Ibu, beliau kan panggil saya, pagi kemarin kan saya baru pulang," kata pria tersebut.

Lalu dijawab oleh yang perempuan, "Yang penting ginilah, udahlah, kan yang harus ambil kan dua, Pertamina sama PLN."

"Betul," timpal pria itu.

"Ya, dua-duanya punya saham lah Pak, gitu," sambung perempuan lagi.

"PLN. Waktu itu saya ketemu Pak Ari juga, Bu. Saya bilang 'Pak Ari mohon maaf, masalah share ini kita duduk lagi lah, Pak Ari....'" lanjut sang pria.

"Saya terserah bapak-bapak lah, saya memang kan konsepnya sama sama Pak Sofyan," balas perempuan.


Screenshot akun twitter @digembok

Pria: "Saya kemarin bertahan, Bu, kan beliau ngotot. 'Kamu gimana sih, Sof?' Lho kan, Pak, kalo enggak ada PLN kan Bapak enggak ada juga tuh buat bisnis."

Pria: "Kan saya ketemu Pak Ari juga, Bu." 

Perempuan: "Menurut saya banyak yang nerusin, cuma saya bilang sama kakak saya yang satunya, biasanya kalau dia sudah enggak mau ngomong, saya ngomong sama yang satunya supaya nyambung ke sana gitu kan."

Pria: "Betul, betul."

Perempuan: "Jadi masalah-masalah off-take, kalau tidak dapat off-take dari sana juga tidak dapat pendanaan gitu lho, itu aja." 

Pria: "Ya engak apa juga bu, cuma (fee) 15 persen berdua. Saya bilang, 'ya enggak nett lah Pak, saya bilang, jangan segitulah Pak, kan malu saya sebagai Dirut PLN masa dapat 7,5 persen.' saya bilang gitu."

Perempuan: "Bener, bener." 

Pria: "Saya bilang begitu. 'Kamu jangan dagang di situ, kamu dagang listrik. Iya Pak, tapi nanti kan orang bertanya sama saya." 

Perempuan: "Ya, benar, enggak apa kan sama saja. Apapun biar bagaimana BUMN ini kan tetap kita jaga, kan akhirnya itu komitmennya komitmen dari BUMN untuk mereka itu supaya IRR (international rates of return) masuk itu tidak terlepas dari kita juga karena yang utama yang beli kan adalah PLN. Sama, tapi terutama PLN... Pertamina juga dong." 

Pria: "Bukan Pertamina supply Bu, Iya, oh enggak beli juga Bu? beli." 

Pria: "Karena dia kan customer juga." 

Pria: "Oh iya ya."

Tim redaksi mencoba menghubungi Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media BUMN, Fajar Harry Sampurno untuk mengonfirmasi rekaman ini. Fajar mengaku belum tahu soal rekaman pembicaraan orang yang diduga Rini dan Sofyan itu.

"Waduh saya belum, video yang mana, soal apa?" tanya dia balik kepada era.id.

Hal yang sama juga kami coba tanyakan kepada pihak Istana. Melalui juru bicara kepresidenan, Johan Budi, istana tidak tahu menahu soal isi rekaman yang sedang beredar luas di media sosial tersebut. Kami juga sudah mengontak salah satu staf khusus Menteri BUMN, Wianda Pusponegoro. Namun teleponnya hingga berita ini diturunkan, tidak aktif.


Screenshot dari akun @om_gadun

Tag: bumn pln pertamina

Bagikan: