Beban Tas Sekolah Anak dan Kelainan Tulang Belakang

Tim Editor

Ilustrasi

Jakarta, era.id - Seperti pagi biasanya, Wulandari selalu bangun lebih pagi dari suami dan anak laki-lakinya, Andika. Sebelum sang anak berangkat ke sekolah, Wulandari rutin mengecek perlengkapan sekolah Andika, termasuk memastikan anaknya yang masih duduk di kelas 4 sekolah dasar itu tak membawa beban terlalu berat di dalam tas sekolahnya.

Wulandari tahu kebiasaan membawa tas sekolah dengan beban yang terlalu berat bisa berdampak buruk bagi tumbuh kembang dan kondisi kesehatan Andika. Karenanya, ada beberapa cara yang dilakukan Wulandari untuk menjaga Andika dari beban berat tas sekolah, misalnya dengan membiasakan Andika hanya membawa buku yang sesuai dengan jadwal pelajaran di tiap-tiap harinya.

"Paling mendisiplinkan itu (jadwal pelajaran), membawa buku yang sesuai dengan jadwal pelajaran hari itu. Jadi anak enggak perlu membawa beban berlebih," tutur Wulandari kepada era.id, Minggu (30/4).

Meski begitu, Wulandari mengakui, di hari-hari tertentu, beban berat tak dapat dihindari oleh Andika. Untuk menyiasati hal tersebut, dia menyiapkan sebuah tas jinjing buat Andika membawa perlengkapan ekstranya. Tujuannya, agar beban bawaan tak hanya dipikul punggung sang anak.

"Di hari yang ada pelajaran olah raga tuh biasanya kan, aku pasti bawain minum, bawain makan, baju olah raga," tutur apoteker di sebuah perusahaan obat itu.

Wulandari sejatinya telah berkali-kali meminta Andika menggunakan tas berbentuk koper agar tubuh kecilnya tak terbebani. Namun, berkali-kali itu juga Andika menolak dengan alasan yang sama.

"'Teman laki-laki lain pakainya tas gemblok, kok'," tutur Wulandari menuturkan ulang perkataan Andika.

Peran sekolah

Di SDN 12 Kalibata, Jakarta Selatan, Nur Auliah berdiri di depan gerbang sekolah, menyalami satu per satu anak didiknya. Sesekali, sang kepala sekolah terpaksa membongkar isi tas anak muridnya. Bukan apa-apa, Nur ingin seluruh anak didiknya terhindar dari risiko buruk membawa beban terlalu berat dalam tas sekolah.

Cocok dengan apa yang diterapkan Wulandari, Nur akan memastikan anak muridnya hanya membawa perlengkapan yang dibutuhkan siswa di setiap harinya. Nur juga akan menegur setiap anak yang kedapatan membawa beban terlalu berat di dalam tas sekolahnya.

"Saya kasih tahu anaknya, saya tanya pasti, hari ini ada pelajaran apa saja. Itu (teguran) supaya anak (murid) kita bicara ke orang tua mereka bahwa enggak baik bawa beban terlalu besar. Perlu (mendisiplinkan bawaan) sesuaikan dengan jadwal pelajaran harian," tutur Nur.

Selain melakukan pemeriksaan rutin, Nur juga memfasilitasi anak-anak dengan loker di luar kelas. Hal itu dilakukan supaya anak tak perlu repot membawa banyak perlengkapan sekolah dalam perjalanan pulang dan pergi mereka. Meski begitu, niat baik pihak sekolah tak selalu disambut baik oleh para siswa. Toh, tetap saja Nur masih sering menemui anak didik yang membawa beban terlalu banyak di dalam tas mereka.

Di sekolah lain di SDIF Al Fikri, Depok, istilah beban berlebih pada tas anak tak dikenal. Sejak sekolah berdiri, SDIF Al Fikri telah menerapkan kebijakan yang tak membebani anak dengan persoalan semacam ini. Maka, tak ada anak yang membawa pergi dan pulang buku pelajaran mereka. 

"Dari kami berdiri hingga hari ini, kami tidak pernah meminta siswa pulang pergi membawa buku. Kami tidak pernah meminta siswa membawa pulang bukunya. Jadi memang sistem pembelajaran kami, buku itu untuk men-support mereka belajar di rumah," ungkap Kepala Sekolah SDIF Al Fikri, Nury Fibriany kepada era.id, Senin (30/4/2018).

Di luar kebijakan yang memang dari sananya sudah dibuat untuk memberikan fasilitas maksimum pada anak, risiko gangguan pertumbuhan tulang punggung pada anak akibat membawa beban berlebih sejatinya telah disadari sejak lama oleh SDIF Al Fikri. Dahulu, hal ini bahkan pernah menjadi bahasan antara sekolah dan orang tua murid.

"Kalau kami di sekolah, anak itu membawa itu tas itu isinya bukan buku pelajaran. Kita enggak ada kantin, tidak ada sistem jajan. Jadi bawaannya hanya itu, ditambah satu buku komunikasi. Mereka tidak pernah bawa buku berat. Karena kita tidak belajar dengan buku paket," tutur Nury.

Risiko kelainan tulang

Risiko kesehatan dan gangguan tumbuh kembang tulang punggung anak akibat membawa beban terlalu berat pernah dikemukakan oleh sejumlah dokter ortopedi dan terapis fisik dari berbagai negara. Kidshealth.org pernah menulis, risiko pertama adalah lordosis atau tulang melengkung ke belakang. Risiko kedua, kifosis atau bungkuk, serta skoliosis yakni kondisi di mana tulang melengkung ke samping.

Menurut penelitian lain yang pernah dilakukan American Academy of Ortopedic, anak-anak usia 11 hingga 13 tahun adalah yang paling rentan terkena gangguan pertumbuhan tulang punggung. Berdasar hitungan yang dilakukan, didapat angka bahwa beban ideal yang boleh dipikul seorang anak adalah 10 hingga 15 persen dari total berat tubuhnya. Artinya, jika berat badan seorang anak 40 kilogram, maka ia hanya boleh membawa beban seberat 4-6 kilogram.

Penelitian itu menyebut, ketika sebuah tas punggung dengan berat berlebih dipikul dengan cara yang tidak benar, maka berat beban itu akan menarik badan si anak ke belakang. Untuk menyeimbangkan hal itu, biasanya secara alamiah seorang anak akan membungkukkan badannya ke depan atau melengkungkan punggungnya. Hal itu diyakini dapat membuat posisi tulang belakang menjadi terganggu dan berpotensi menimbulkan nyeri pada bahu, leher, hingga punggung.


Infografis "Beban Berlebih pada Tas Anak" (Retno Ayuningtyas/era.id)

Lalu, bagaimana dengan tas selempang yang hanya ditopang dengan satu bahu? 

Menurut ahli, membawa beban berlebih menggunakan tas selempang sama berbahayanya dengan tas gemblok, karena dapat menyebabkan nyeri punggung bagian bawah dan menekan bahu hingga leher. Karenanya, para ahli memaparkan sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut, yaitu:

1. Gunakan bahan tas yang terbuat dari kanvas

2. Pilihlah tali bahu yang empuk

3. Pilih tas yang memiliki pelindung atau sandaran punggung

4. Manfaatkan ikatan pinggang pada tas gemblok.


Tas berbahan kanvas dapat mengurangi sedikit beban pada anak ketimbang tas berbahan kain poliester, kain corduroy atau kain dinir. Lalu, pemilihan tali bahu yang empuk diyakini dapat mengurangi sakit yang kerap timbul pada bagian pundak dan persendian dekat ketika akibat beban berlebih pada tas anak.

Tas yang memiliki pelindung atau sandaran punggung disebut-sebut dapat menjaga posisi punggung anak tetap pada posisi ideal. Selain itu, pelindung punggung dapat melindungi anak dari bahaya lain seperti tusukan benda tajam seperti pensil, penggaris, gunting atau barang bawaan lain.

Sementara itu, tas berikat pinggang dapat membantu mendistribusikan beban berat ke seluruh tubuh. Hal ini penting agar beban berat tak hanya dipikul oleh tulang punggung.

Tag: era pendidikan riwayat pendidikan tri mumpuni

Bagikan: