Alasan Mengapa Tak Boleh Sebut Terorisme Isu Agama

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi

Proses penanganan peristiwa pengeboman masih dilakukan hingga berita ini kami tulis pada 17.20 WIB. Pembaruan masih sangat mungkin kami lakukan. Versi aktual dari peristiwa ini dapat kamu ikuti di sini: Bom Surabaya

Jakarta, era.id - Pengeboman tiga gereja di Surabaya kembali mencuatkan isu persatuan ke tengah masyarakat. Seperti biasa, provokasi yang selalu disuarakan orang-orang brengsek dari peristiwa semacam ini selalu sama, yakni isu toleransi antarumat beragama yang dibuat seakan-akan jadi masalah yang enggak ada habisnya di Indonesia.

Padahal, sungguh, sejak dulu kita masyarakat Indonesia sudah sangat terbiasa memelihara sikap toleransi dan kerukunan terhadap sesama. Bagi kita, berbagi ketupat dan kue natal adalah hal yang sangat lumrah.

Lalu, kenapa masih ada di antara kita yang melihat isu terorisme sebagai persoalan agama? Padahal, jika melihat korban bom tiga gereja di Surabaya, jelas, para korban yang jatuh bukan cuma umat gereja. Dua polisi dan satu petugas keamanan pun turut jadi korban. Lagipula, setiap dari kita harusnya sepakat, bahwa terorisme adalah definisi sempurna dari matinya nilai agama di dalam diri manusia.

Sesaat pascaledakan yang menewaskan 11 orang dan melukai 43 orang --termasuk dua polisi, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengingatkan, enggak ada satu pun agama yang mengajarkan kebencian, apalagi membunuh.

"Pelaku aksi bom itu adalah orang-orang yang tidak memegangi nilai-nilai agama, karena tidak ada agama mana pun yang ajarkan aksi terorisme," kata Lukman lewat keterangan tertulis yang diterima era.id, Minggu (13/5/2018).

Untuk itu, Lukman meminta kita untuk tenang dan tetap menjaga prasangka baik pada setiap saudara sebangsa yang lain, sekali pun mereka meyakini aliran-aliran agama yang berbeda dengan kita. Selain itu, Lukman juga meminta kita menjaga sikap dalam bermedia sosial. Jangan sampai komentar dan postingan kita malah memicu keributan dan perpecahan lain.

"Jangan mengomentari aksi ini dengan perdebatan yang memicu konflik. Sebaliknya, mari saling menguatkan sesama anak bangsa yang ingin Indonesia aman dan damai," ujarnya.


Infografis "Bom Di Tiga Gereja Surabaya" (era.id)

Respons himpunan keagamaan

Berbagai himpunan keagamaan di seluruh Indonesia pun telah sepakat untuk enggak melihat aksi terorisme, termasuk pengeboman tiga gereja di Surabaya sebagai konflik agama. Bahkan, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) sendiri telah terang-terangan menyuarakan imbauan untuk tetap menjaga perdamaian antarumat beragama sekali pun gereja diserang.

Dalam konferensi pers yang dilakukan beberapa saat setelah ledakan, PGI membulatkan sikap mereka ke dalam enam poin, di mana empat poin di antaranya bertalian dengan persoalan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. 

Pada poin kedua misalnya, PGI menyatakan sepakat, enggak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan. Kesesatan berpikirlah yang menurut PGI membawa para penganut agama itu melakukan tindak terorisme. Sebab, nilai yang diajarkan agama, diyakini PGI pasti adalah ajaran tentang kemanusiaan, damai, dan cinta kasih.

Baca Juga : Pelaku Bom Surabaya Berasal dari Kelompok JAD

Terkait poin di atas, dalam poin ketiganya, PGI meminta para pemimpin agama untuk lebih serius mewaspadai kelompok-kelompok teroris yang kerap menjadikan rumah ibadah sebagai cara mereka menjaring kombatan.

"PGI menilai deradikalisasi yang dilakunan Badan Nasional Penanggulangan Teorisme (BNPT) akan sia-sia jika masyarakat memberi panggung pada pemuka agama yang menganut paham radikal," tutur Sekretaris Umum PGI, Gomar Gultom di Graha Oikumene, Jakarta.

Selain PGI, Majelis Ulama Indonesia (MUI) perwakilan Provinsi Jawa Timur juga menyuarakan sikap yang sama. MUI meminta masyarakat menyingkirkan pemikiran bahwa aksi terorisme sebagai persoalan agama, apalagi sampai mengaitkan tindak terorisme dengan umat dan ajaran agama Islam.

Baca Juga : Yang Perlu Diketahui soal Bom Gereja Surabaya

Ketua Umum MUI Jawa Timur, KH Abdusshomad Buchori menegaskan, terorisme bukanlah bagian dari ajaran agama Islam. Menurut Abdusshomad, sangat berbahaya apabila isu terorisme terus dilihat sebagai konflik keagamaan. Ketertiban dan ketenteraman masyarakat, bahkan persatuan dan kesatuan bangsa jadi taruhannya.

"Tindakan terorisme berpotensi mencederai rasa persatuan dan kesatuan, serta menimbulkan kecemasan dan gangguan terhadap ketenteraman dan ketertiban masyarakat," tutur Abdusshomad.

Bersatu lawan terorisme
 
Di Rumah Sakit Bhayangkara, saat mengunjungi korban ledakan bom, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu melawan terorisme. Siapapun kamu, apapun agamamu, mari merapat! Begitu kira-kira seruan presiden.
 
Jokowi juga mengingatkan agar masyarakat berhenti melihat persoalan terorisme sebagai konflik agama. Sebab, jelas, terorisme adalah kejahatan kemanusiaan yang tak berkaitan dengan ajaran agama manapun.

"Teror semua adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, tidak ada kaitan dengan agama apa pun, semua agama menolak terorisme, apapun alasannya," kata Jokowi.

Baca Juga : Presiden Ajak Kita Bersatu Lawan Terorisme
 
Lebih lanjut, Jokowi mengatakan, perlawanan terhadap terorisme adalah hal yang wajib dilakukan setiap individu masyarakat yang menganut nilai-nilai agama dan kebhinekaan.

"Saya mengajak masyarakat untuk melawan terorisme yang menentang nilai agama, sebagai bangsa yang menunjung nilai agama dan kebhinnekaan" ujar Jokowi.
 
"Mari kita jaga persatuan, kesatuan, dan waspada. Kita harus bersatu melawan terorisme."

Tag: bom surabaya teroris teror bom di as

Bagikan: