Peringatan 20 Tahun Reformasi : Mengenal Neo Cendana

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Infografis anak-anak Soeharto (era.id)

Untuk memperingati 20 tahun reformasi, era.id menyiapkan beragam konten dalam bentuk teks, video, infografis, serta podcast. Kali ini, kami sajikan profil mengenai anak-anak Presiden Soeharto, dan artikel lain terkait reformasi dapat kamu baca di sini.

Jakarta, era.id –
Pada 20 tahun lalu, Presiden Soeharto lengser setelah berkuasa selama 32 tahun. Sang jenderal lengser setelah terjadi gelombang demonstrasi dan kerusuhan di banyak titik di Indonesia pada Mei 1998.

Kini, rezim sudah berganti dan alam demokrasi di Indonesia semakin baik meski perlu beberapa penguatan. Putra-putri Soeharto yang lama tak terdengar kabarnya juga mulai muncul sebagai pengusaha dan pimpinan partai politik.

Soeharto memiliki enam putra-putri, yakni Siti Hardijanti Rukmana, Hutomo Mandala Putra, Sigit Harjojudanto, Siti Hediati Heriyadi, Bambang Triatmodjo, dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Pada artikel ini, kami akan menyampaikan profil tiga putra-putri Soeharto. Profil ketiga anaknya yang lain akan kami sampaikan dalam artikel berbeda.


Siti Hardijanti Rukmana 

Perempuan yang lebih akrab disapa Mbak Tutut Soeharto itu merupakan anak sulung Presiden Soeharto. Sebagai anak sulung, kerap kali sang ayah berusaha 'menuntun' Tutut untuk menapaki dan meneruskan karier politik dia bangun puluhan tahun.

Sekitar 1980-an, Tutut memotori terbentuknya salah satu organisasi remaja berbasis agama Islam bernama Kirab Remaja Nasional. Tujuannya untuk menjadi wadah organisasi yang mencetak generasi yang beriman pada era tersebut. 

Sampai saat ini dia masih aktif dalam organisasi tersebut, terakhir dia masih menjabat Pembina Purna Pasukan Utama Kirab Remaja Nasional.

Baca Juga : 20 Tahun Reformasi : Saat Pers Terbelenggu

Saat rezim Orde Baru masih berkuasa, Tutut kerap terjun ke dunia politik atas arahan dan izin Soeharto. Tutut juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia menggantikan Ibnu Sutowo pada 1992 sampai dengan 1998.

Selain itu, Tutut juga pernah terjun langsung dalam pemerintahan demi memoncerkan kepentingan rezim tersebut, sebagai Menteri Sosial pada Kabinet Pembangunan VII, menggantikan Endang Kusuma Inten Soeweno. 

Namun, Tutut hanya menjadi Mensos selama dua bulan hingga Soeharto lengser pada 21 Mei 1998.

Lunturnya kekuasaan rezim Orde Baru, tidak membuat perempuan kelahiran 23 Januari 1949 itu mengendurkan ambisinya dalam dunia politik.

Pada 2002, Tutut mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), sebagai kendaraan politiknya pada Pilpres 2004. Saat itu, kerabat dekat cendana, yaitu, Hartono yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, dilantik sebagai Ketua Umum PKPB.

Namun, partai tersebut tidak mujur nasibnya karena gagal mendapatkan kursi di parlemen. 

Kegagalan PKPB tidak menyurutkan minat Tutut terhadap politik. Pada 2014, dia menjadi juru kampanye Partai Golkar. 

Kendati demikian, hingga kini, Tutut tidak pernah sekalipun menduduki jabatan publik sejak kejatuhan Soeharto.


Hutomo Mandala Putra


Pria yang dikenal dengan nama Tommy Soeharto ini merupakan anak bungsu dari penguasa Orde Baru, Soeharto. Sempat disebut sebagai anak kesayangan presiden Soeharto kala itu, lantaran Tommy kerap menggunakan beberapa fasilitas untuk memoncerkan langkahnya dalam bisnis.

Pada 11 Maret 1988, pertama kalinya Tommy dan kakak-kakaknya menghadiri upacara pelantikan sang ayah sebagai presiden untuk masa jabatan kelima. Saat itu banyak yang menilai Soeharto sedang membuka jalan politik untuk anak-anaknya.

Demi memoncerkan langkah politik trah Cendana, Tommy, bersama Tutut dan Bambang Triatmodjo bergabung dengan Partai Golkar, yang merupakan mesin penguasa kala itu. 

Tepat pada 1992, Soeharto mengangkat tiga anaknya sebagai anggota MPR hingga kekuasaannya jatuh pada 1998.

Baca Juga : 20 Tahun Reformasi : Pemakaman Korban Penembakan Trisakti

Setelah Soeharto jatuh, Partai Golkar mengumumkan telah menarik Tommy dan saudara-saudaranya dari MPR dan sempat 'ditendang' secara tidak langsung dari Partai Golkar.

Masa-masa kelam Tommy belum berakhir. Dia pernah tercatat pernah menjadi buronan untuk kasus hukum pada periode 2000-2001. Tommy bahkan disebut-sebut terlibat dalam kasus pembunuhan Hakim Agung kala itu, Syafiuddin Kartasasmita, yang getol menginvestigasi kasus-kasusnya. 

Tommy akhirnya tertangkap dan diproses hukum pada penghujung 2001. Usai segala 'drama' peradilan, pada 2008, para petinggi Partai Golkar mengizinkan Tommy dan saudara-saudaranya kembali bergabung di Partai Golkar, dengan syarat tidak terlibat masalah hukum.

Setahun berlalu, tepatnya pada 2009, Tommy maju sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar dalam Munas yang diadakan di Riau. Namun, Tommy dikalahkan Aburizal Bakrie dalam pertarungan menjadi pimpinan partai berlambang pohon beringin tersebut.

Pada 2016, Tommy dikabarkan bakal mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Partai Golkar, tapi akhirnya batal karena dia diangkat menjadi anggota Dewan Pembina Partai Golkar.

Tak lama setelahnya, Tommy memilih keluar dari Partai Golkar dan mendirikan Partai Nasional Republik (Nasrep) yang tidak terdengar gaungnya.

Pada akhir 2016, Tommy mendirikan Partai Berkarya, dengan meleburkan dua partai, yaitu Partai Beringin Karya dan Partai Nasional Republik. Setelah melewati beberapa tahap dan pemenuhan terhadap persyaratan dari KPU, Partai Berkarya berhasil menjadi peserta Pemilu 2019.



Sigit Harjojudanto 

Dari beberapa anak Soeharto yang berambisi menghidupkan kembali kekuatan keluarga Cendana, mungkin Sigit Harjojudanto adalah yang paling slow soal itu. Sigit merupakan anak kedua Soeharto, namanya kurang didengar di ranah politik dalam negeri, lantaran dia lebih memilih menjadi pengusaha dibanding terjun ke panggung politik seperti yang dilakukan saudara-saudaranya. 

Sigit lebih dikenal sebagai tokoh olahraga dan pengusaha nasional, yang mendirikan klub sepak bola Arseto Solo pada 1978. 

Kariernya dalam dunia bisnis pun cukup moncer, Sigit pernah menjadi Ketua Harian Liga Sepak Bola Utama (Galatama), Kepala Proyek PSSI, dan Ketua I PB PSSI. Atas dedikasinya terhadap dunia olahraga, terlebih jasanya membina sepak bola di Indonesia, akhirnya Seksi Olahraga (SIWO) PWI Jaya, memilihnya sebagai Pembina Olah Raga Terbaik 1983.

Baca Juga : Kerusuhan di Trisakti, di Mana Soeharto?

Selain itu, dia juga merintis PSSI Garuda, yang terdiri dari 30 pemain hasil bidikan dari beberapa turnamen sepak bola delapan klub di Yogyakarta, yang dia boyong ke Jakarta. Hasil didikannya, berhasil meraih posisi kedua pada perebutan Piala Raja 1983 di Thailand.

Namun, beberapa isu tak sedap pernah menyasar dirinya yang diduga memanfaatkan pengaruh Soeharto untuk mempermudah berbagai proses perizinan, termasuk 'melangkahi' aturan yang merintangi bisnisnya.

Forbes pernah memperkirakan kekayaan Sigit mencapai Rp4,5 triliun. Dia disebut-sebut memiliki sekitar 40 perusahaan yang bergerak di berbagai bidang. Di bawah bendera Grup Arseto, Sigit memiliki beberapa lini usaha yang merambah ke bidang perkebunan, industri kimia, pertambangan, hotel, dan penerbangan. Sampai hari ini, Sigit masih mejalankan Grup Arseto-nya.

Tag: peringatan 20 tahun reformasi presiden soeharto

Bagikan: