Peringatan 20 Tahun Reformasi: Tangis Soeharto untuk Sudono

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Presiden Soeharto (Reuters)

Jakarta, era.id - Reformasi Mei 1998 membuat Presiden Soeharto jatuh dari tampuk kekuasaan. Kekuatan ekonomi mantan orang nomor satu di Indonesia itu ikut goyang tidak lama setelah dia memutuskan mundur sebagai presiden.

Seiring waktu, pihak-pihak yang dulu menjadi kawan politik, berpaling dari Soeharto. Teman-teman pengusaha yang selama ini hidup dan menikmati kebijakan keluarga Cendana secara perlahan pergi menyelamatkan diri.

Baca Juga: Peringatan 20 Tahun Reformasi

Seorang pengusaha yang menarik disimak ceritanya adalah bos Salim Group, Sudono Salim. Sudono boleh dibilang mampu menjaga hubungan baik dengan keluarga Cendana. Bisnis Salim Group pada masa Orde Baru disebut diistimewakan.

Tak heran, Sudono terkenal sebagai salah satu orang tajir masa Orde Baru. Bahkan sampai hari ini, bisnisnya masih bertahan, salah satunya adalah PT Indofood yang memproduksi berbagai makanan di Indonesia.

Kala reformasi menggeliat, Sudono turut menjadi sasaran amuk massa. Rumahnya yang berada di Gunung Sahari, Jakarta Pusat, dirusak, kemudian dibakar, setelah barang-barang berharganya dijarah warga.

Bagaimana dengan Sudono? Well, dia lebih memilih meninggalkan Indonesia dan menetap di Singapura. Otoritasnya terhadap Salim Group berpindah tangan kepada anak bungsunya, Anthony Salim, yang kini menjabat sebagai CEO di sejumlah perusahaan ayahnya itu.

Bagaimanan sebenarnya hubungan antara Soeharto dan Sudono? Hal itu dapat dilacak pada sejumlah pemberitaan tahun 2006. Kala itu, menjelang akhir tahun 2006, Soeharto dan Sudono sempat bertemu. Kondisi keduanya yang renta tak menyurutkan rencana reuni.

Tawa dan haru menyelimuti pembicaraan mereka. Dijelaskan dalam buku biografi Sudono yang berjudul Liem Sioe Liong's Salim Group: The Business Pillar of Suharto's Indonesia (2014), saat dirinya akan meninggalkan rumah Cendana, Soeharto menangis.

"Kami mengucapkan selamat tinggal di pintu rumahnya, dan Pak Harto menangis," tulis Sudono mengisahkan kembali peristiwa di masa lalu itu.

Baca Juga: Peringatan 20 Tahun Reformasi: Mengenal Neo Cendana

Sudono dan Soeharto sejatinya memiliki beberapa kesamaan, terutama ketertarikan menghasilkan uang dan membangun kerajaan ekonomi yang solid. Relasi antara kekayaan dan kekuatan telah membuat pemerintahan Soeharto berjalan stabil. 

Sudono hadir sebagai sponsor atas pemerintahan tersebut. Singkatnya, Sudono butuh dukungan pemerintah agar bisnisnya berjalan lancar, sementara Soeharto perlu sokongan dana untuk berbagai agenda kampanye maupun memuluskan kebijakan.

Sudono boleh dikata hampir selalu hadir saat Soeharto membutuhkan dana untuk kebutuhan politik atau pribadi. Kedua pria tersebut dianggap memiliki peran penting untuk membangun ekonomi negara yang rusak pasca peralihan kuasa dari Orde Lama menuju Orde Baru. 

Selama Orde Baru berjalan, selama itu pula Sudono memperkaya dirinya, dan selama itu pula Salim Group membantu menjaga stabilitas pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun.

Sudono mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Soeharto. Saat perang kemerdekaan di Jawa Tengah, tentara rakyat berjuang di belantara hutan untuk melawan tentara kolonial Belanda yang berusaha mengambil kembali wilayah Indonesia pascaperang dunia kedua. 

Saat itu Sudono adalah salah satu pemuda keturunan China yang membantu tentara memasok kebutuhan dasar para tentara. Salah satu pemimpin tentara itu adalah Soeharto.

Usai perang, perkenalan mereka berdua berlanjut saat Soeharto ditetapkan sebagai komandan pasukan divisi di Semarang. Kepercayaan Soeharto terhadap Sudono terbangun saat ajudan Soeharto menjembatani hubungan mereka berdua, terutama terkait kerja sama bisnis.

Saking kuatnya hubungan mereka, Sudono pernah berkata bahwa dia siap menyiapkan dana apabila Soeharto membutuhkannya. Kebijakan represif pada keturunan china saat awal Soeharto memimpin Orde Baru adalah anomali dari persahabatannya dengan Sudono. 



Kerja sama Salim Group-Keluarga Cendana

Orde Baru telah menciptakan banyak permasalahan struktural. Selain permasalahan politik dan keamanan, Orde Baru meninggalkan warisan buruk bagi kondisi ekonomi ideal, yaitu kapitalisme kroni keluarga Cendana.

Sejumlah kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang menggerogoti ekonomi Indonesia saat Orde Baru dikaitkan dengan keluarga Cendana. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia dalam Laporan Nomor 12 Maret 2007 dengan judul Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi di Indonesia: Menuntut agar Soeharto Diadili tanpa Menuntut Anthony Salim: Bagai Sayur tanpa Garam menyatakan bahwa kapitalisme kroni keluarga Cendana dilakukan dengan cara memberikan keistimewaan kesempatan dan segala macam fasilitas untuk keluarga serta teman-teman bisnis dari keluarga Cendana. 

Hal ini termasuk bentuk hubungan koruptif dengan asumsi menyalahgunakan kekuasaan lembaga-lembaga negara untuk mendapatkan keuntungan dari usaha di bidang ekonomi.

Baca Juga: Cara Soeharto Berantas Jokowi

Salim Gorup memiliki peran cukup besar dalam konglomerasi yang dibangun keluarga Cendana. Sebagai contoh, Salim Group memiliki saham perkebunan tebu PT Gunung Madu Plantations dan pabrik gula PT Gula Putih Mataram, di Lampung, yang dikelola Bambang Trihadmodjo (putra Soeharto) melalui Grup Bimantara miliknya. 

Selain itu, Salim Group juga memiliki saham mayoritas pada PT Bogasari Flour Mills. Sudono selaku pemimpin Salim Group mendapatkan keuntungan dari ongkos giling gandum yang didapat dari Bulog sebesar 116 dolar per ton, lebih mahal 40 dolar dari kilang-kilang gandum lainnya di dunia. Selain Salim Group, saham PT Bogasari juga dimiliki keluarga Soeharto.

Yayasan Harapan Kita dan Trikora yang diketuai oleh Tien Soeharto menjadikan PT Bogasari sebagai pemasukan utamanya. PT Bogasari didirikan Sudono Salim dan Sudwikatmono (sepupu Soeharto) pada 1971 untuk mengolah bantuan pangan dari Amerika Serikat berupa gandum.

PT Bogasari menjadi besar saat pemerintah memonopoli terigu impor untuk memperkaya Yayasan Harapan Kita. Dengan monopoli tersebut, Sudono enteng saja mengalihkan pasokan gandum dan olahannya pada PT Indofood Sukses Makmur, salah satu anak usahanya di Salim Group yang memproduksi mi instan.

Kala itu, Indofood sempat menguasai 90 persen pangsa pasar mi instan di Indonesia. Indofood menjadi 'pemain dominan' di area itu dan mengalahkan pesaing lainnya. 

Tak berhenti sampai di situ, beberapa perusahaan bersama milik Salim Group dan Kroni Cendana antara lain adalah: PT Indocement Tunggal Perkasa, Yayasan Dakab, Dharmais, dan Supersemar, BCA, dan PT Kodeco Batulicin Plywood (bersama Tommy Soeharto).

Tag: peringatan 20 tahun reformasi presiden soeharto

Bagikan: