Jangan Sia-siakan Peristiwa 20 Tahun Lalu

Tim Editor

Ilustrasi (Abid/era.id)

Jakarta, era.id - Pukul 09.00 WIB, 20 tahun lalu, rezim negeri ini berganti. Demokrasi Indonesia berjalan ke arah baru. Ditandai dengan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan.

Peristiwa kejatuhan Soeharto bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Ada sejumlah rangkaian peristiwa yang melatarbelakangi Soeharto terpaksa harus lengser setelah 32 tahun memimpin negeri ini. Dan itu terjadi jauh sebelum peristiwa Mei 1998.

Ambruknya perekonomian negeri, pengekangan arus demokrasi, hilangnya sejumlah aktivis hingga kematian empat mahasiswa Trisakti adalah segelintir pemantik. Belum lagi peristiwa kerusuhan berujung kasus pemerkosaan massal yang mengarah ke rasial. Semua itu menjadi sebuah kolaborasi ciamik melahirkan gerakan sosial yang akhirnya bisa menjatuhkan sebuah rezim.

Baca juga: "Amien Rais Bukan Bapak Reformasi"

Baca juga: 20 Tahun Reformasi dan Kerugian Negara Saat Kerusuhan


Setelah 20 tahun berlalu, Indonesia tak henti berbenah. Sejumlah perubahan terus bergulir, mulai dari kehidupan berdemokrasi, politik, hingga ekonomi. 'Harga mahal' yang dikorbankan untuk mengibarkan bendera reformasi tak cukup dibayarkan oleh generasi lama saja. Tapi semangat reformasi harus juga ditumbuhkan di benak kaum muda.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto menyebut, seperti halnya pada saat Indonesia merdeka, pasca Orde Baru, generasi penerus harus mampu mengisi hasil kegigihan pejuang reformasi. Hal ini penting untuk menciptakan kehidupan yang aman, tenteram, damai, dan terbebas dari konflik internal maupun gangguan dari pihak luar.


Momen saat Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya (Foto: Reuters)

"Agar 'harga mahal' perjuangan reformasi ini tidak sia sia, maka kaum muda harus mampu 'membeli' dengan berjuang menciptakan suasana yang lebih baik dibanding zaman orde baru, dalam hal kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik, maupun agama," kata Suprapto saat dihubungi era.id pekan lalu.

Selain itu, Suprapto menyebut, generasi muda juga harus menjaga pluralisme bangsa. Apalagi, sejak dulu Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk. Kata Suprapto, generasi muda sebaiknya berpegang teguh pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan Sumpah Pemuda. Realisasinya, kaum muda harus mampu bekerja dalam keberagaman. 

"Generasi muda harus mampu bekerja secara sistemik dalam keragaman, mau dan mampu saling mengisi dan memberi fungsi secara pas sesuai kebutuhan," ujar Suprapto.

"Generasi muda harus mau dan mampu saling menutup kekurangan, bukan saling menunjuk kekurangan," imbuhnya. 


Gelombang reformasi yang dimulai dari gerakan mahasiswa (Foto: Reuters)


Perbedaan yang ada di Indonesia, kata Suprapto, bijaknya dijadikan sumber kerja sama dan saling toleransi, bukan sumber konflik atau permusuhan. 

"Bangsa kita harus menyeimbangkan kualitas kognitif, afektif, dan psikomotor. Artinya, bahwa dalam keragaman tingkat pendidikan, pengetahuan dan bidang ilmu, serta keragaman budaya, agama dan lain lain, jangan dijadikan sumber konflik atau permusuhan, tapi justru dijadikan sumber kerja sama dan saling bertoleransi," jelas Suprapto.

Menurut dia, hal ini sejalan dengan tingkatan atau level kecerdasan emosional. Level 1 mampu memahami diri sendiri, level 2 mampu mengendalikan diri sendiri, level 3 mampu memahami orang lain termasuk mampu bertoleransi, dan level 4 mampu mengendalikan orang lain yang salah jalan.

Tonton motion Badai Moneter yang Runtuhkan Orde Baru

Pesta demokrasi dan anak muda

Sementara itu, menyikapi 20 tahun reformasi, Direktur Amnesty Internasional Indonesia yang juga aktivis HAM, Usman Hamid mendorong anak muda untuk terjun ke politik. Pasalnya, kata Usman, tanpa peran anak muda di kancah politik, demokrasi tidak akan pernah betul-betul berdiri.

Andai tak terjun langsung pun, Usman mendorong anak muda untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi lima tahunan, pemilu. Demi mengamalkan semangat demokrasi, anak muda tak bisa lagi abai dengan pemilu.

"Kalau misalnya, katakanlah ingin menjadi pemimpin di partai politik, gabunglah dengan partai yang benar-benar memperjuangan masyarakat," kata Usman.



Supaya kamu tahu, era.id sudah mengulik lengkap tentang 20 tahun reformasi dari berbagai sisi sejak 21 April lalu. Kalau ketinggalan, kamu bisa tinggal klik di sini. Kami jelaskan siapa yang 'paling sibuk' menangkal kasus aktivis hilang. Ada juga hasil wawancara kami dengan salah satu ibu dari mahasiswa Trisakti yang tertembak, Hafidhin Royan. Tidak ketinggalan juga motion ciamik dari tim grafis kami. Termasuk juga siapa tokoh-tokoh saat 1998 yang masih eksis hingga sekarang.  

Tag: peringatan 20 tahun reformasi

Bagikan: