Pemerintahan BJ Habibie Menepis Nepotisme

Tim Editor

Suasana di Gedung DPR tahun 1998 (Foto Reuters)

Yang kamu baca ini, adalah edisi terakhir serial super panjang dari tim redaksi era.id untuk membahas peringatan 20 tahun reformasi. Kami memang spesial menggarap 20 tahun reformasi. Sejak dari 21 April lalu, kami memulai semuanya. Karena kami percaya, kejatuhan Presiden Soeharto bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.

Ada yang kami garap harian, menulis ulang kejadian yang terjadi 20 tahun lalu setiap harinya. Mulai 7 Mei lalu, intensitas konten ditingkatkan. Ulasan seputar peristiwa Mei 98 kami garap dari berbagai sisi. Bukan cuma tulisan, tapi kami menambah juga dengan video, grafis, motion hingga podcast dengan gaya milenial.



Jakarta, era.id - Ada tren menarik yang berkembang saat Pemerintahan BJ Habibie berjalan. Saat rezim Orde Baru, semua sendi-sendi pemerintahan hampir pasti ada yang diisi dengan sosok terkait keluarga atau kerabat. Tapi kini mereka mulai malu.

26 Mei 1998, 20 tahun, sejumlah keluarga pejabat yang duduk manis di parlemen, memilih mundur. Istri ketua MPR/DPR, Sri Rochmadiyati Harmoko; istri Mendagri, P Agustini Syarwan Hamid; dan dua keluarga dekat Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita mengundurkan diri dari lembaga legislatif. Kemudian Pimpinan MPR/DPR juga mengaku telah menerima surat pengunduran diri dari keluarga Menhankam Pangab Wiranto, Rugaiya dan Amalaia Sianti dari keanggotaan MPR. 

Sementara itu dua anggota DPR yang surat mundurnya sudah diterima adalah Letjen TNI Syarwan Hamid (wakil ketua MPR/DPR) dan anggota FKP Lilik Herawati. Diperkirakan tren pengunduran diri dari kursi dewan akan terus berlanjut.

Tonton: Hafidhin Royan dan Janji yang Belum Ditepati

Baca: Mengenal Aksi Kamisan

Salah satu keluarga Ginandjar yang mengundurkan diri dari anggota MPR adalah Agus Gurlaya Kartasasmita. Anggota MPR dari Gapensi ini menyatakan mundur, namun meminta pengganti dirinya tetap diambil dari Gapensi. 

Setelah Agus Gurlaya, anak Ginandjar, Agus Gumiwang Kartasasmita mengikuti langkah pamannya untuk mundur. Dalam suratnya kepada Ketua DPD 1 Golkar Jabar H Nurhaman, dirinya meminta agar ditarik dari keanggotaan FKP MPR. Surat itu lalu didisposisikan ke DPP Golkar.

Kemudian kerabat lainnya, Gunariyah Kartasasmita tampak berkonsultasi kepada Ketua DPP Golkar Abdul Gafur yang diduga membicarakan soal pengunduran diri Gunariyah.

Baca: Jangan Sia-siakan Peristiwa 20 Tahun Lalu

Baca: Menit-menit Pergantian Presiden saat Reformasi



Cendana bertahan

Namun hal berbeda dilakukan keluarga Cendana. Saat itu, belum terlihat keinginan dari mereka untuk mengundurkan diri. Seperti diketahui, kerabat dari Presiden kedua Soeharto yang menjadi anggota MPR cukup banyak. Di antaranya, Siti Hardiyanti Rukmana (anak), Bambang Trihatmodjo (anak), Halimah Trihatmodjo (menantu), Siti Hediati Hariyadi (anak), Hutomo Mandala Putra (anak), dan Sudwikatmono (sepupu). 

Meski sedang marak tren mundur dan keinginan membersihkan nepotisme di jajaran FKP DPR, DPP Golkar tidak akan mengeluarkan surat recall anggotanya yang 'bandel'. Ketua DPP Abdul Gafur menerangkan, yang memutus penggantian posisi anggota yang mundur adalah koordinator wilayah (korwil) Golkar masing-masing.

Tag: peringatan 20 tahun reformasi

Bagikan: