Jejak Islam Nusantara: Sarung dan Simbol Melawan Penjajah

Tim Editor

    Presiden Joko Widodo (Instagram)

    Jakarta, era.id - Memasuki hari ke-11 bulan Ramadan, dan setelah kami sampaikan artikel mengenai eksistensi peci serta sejarahnya di Indonesia, kini kami sajikan artikel mengenai sejarah sarung di Indonesia.

    Di Indonesia, sarung sangat lekat dengan budaya dan masyarakat muslim. Bahan dan motifnya juga sangat beragam, hingga sulit dihitung. 

    Nyatanya, penggunaan sarung di Indonesia tidak melulu merujuk pada Islam, karena sarung juga digunakan barbagai kalangan dan suku. Secara global, sarung atau dikenal dengan sebutan sarong diartikan sebagai sepotong kain lebar yang cara memakainya dibebatkan di pinggang untuk menutup tubuh bagian bawah. Bahan dasar sarung pun bermacam-macam, mulai dari poliester, katun, hingga sutera.

    Berbicara soal fungsinya, sarung sering digunakan umat Islam di Indonesia untuk beribadah. Tapi, sarung juga bermanfaat untuk kegiatan lain, seperti acara pernikahan, hingga untuk bersantai di rumah. Banyak pakaian adat Indonesia memadukan kain sarung sebagai bawahannya. 

    Nah, bicara sejarah, dikutip dari beberapa sumber, sarung berasal dari Yaman. Di sana, sarung lebih dikenal dengan sebutan futah, berbeda dengan masyarakat Oman yang menyebutnya wizaar, lain halnya di Arab Saudi dengan nama izaar.

    Di Yaman, sarung merupakan kain putih yang dicelupkan ke pewarna berkelir hitam. Kenapa bisa sampai ke Asia Tenggara? Ternyata sama halnya dengan peci, sarung dipopulerkan oleh saudagar Timur Tengah kala itu ke daratan Asia. Diperkirakan, sarung mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-14.

    Seiring berjalannya waktu, sarung makin populer di Indonesia hingga melahirkan filosofi baru, sarung menjadi salah satu pakaian kehormatan yang menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi. Oleh karenanya, sarung sering digunakan untuk beribadah di masjid bagi laki-laki, dipadukan dengan baju koko.

    Baca Juga: Jejak Ledakan Petasan dalam Tatanan Sosial


    KH Abdul Wahab Hasbullah (tengah). (nu.or.id)

    Filosofi kesopanan serta nilai lebih menggunakan sarung ternyata sudah bergulir sejak zaman penjajahan Belanda, ketika sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat kala itu. Sejarah mencatat, bahwa kaum santrilah yang paling konsisten menggunakan sarung, gerakan tersebut diinisiasi oleh KH Abdul Wahab Hasbullah, seorang tokoh pendiri Nahdlatul Ulama.

    Saat dia menghadiri undangan Presiden Soekarno, Abdul Wahab dengan gagah menggunakan sarung yang dipadukan dengan jas, walaupun protokol kepresidenan meminta dirinya untuk berpakaian lengkap dengan jas dan dasi. Sebagai seorang pejuang di masanya yang berhasil menginspirasi kaum santri nasionalis untuk melawan penjajahan, ia dengan tegas tetap mempertahankan budaya sarung sebagai simbol pergerakannya kala itu.

    Baca Juga: Bantuan Ramadan Jangan Bermuatan Politis

    Bahkan, identitas kegagahan menggunakan sarung ditunjukkan Presiden Joko Widodo dalam berbagai kegiatan. Pada awal tahun lalu, ketika menghadiri peringatan Maulid Nabi di Pekalongan Jokowi hadir mengenakan sarung. Saat menuruni tangga pesawat kepresidenan, Jokowi terlihat gagah mengenakan jas dan peci yang dipadukan dengan sarung, disambut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. 

    Kalau kamu gimana? Sudah siap gunakan sarung ke kantor?

    Tag: eramadan sejarah nusantara

    Bagikan :