Seandainya Denjaka Ikut Berantas Terorisme

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi Koopssusgab (era.id)

Jakarta, era.id - Wacana menghidupkan kembali Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab) TNI berpeluang terealisasi dengan disahkannya perubahan atas UU Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Perppu Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme atau UU Anti-terorisme. 

TNI bisa terlibat dalam pemberantasan terorisme karena terdapat frasa mengganggu keamanan negara dalam definisi terorisme selain soal ideologi dan politik. Wacana menghidupkan Koopssusgab didukung Presiden Joko Widodo dengan pertimbangan aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini. 

Dalam Pasal 1 UU Anti-terorisme, tertulis definisi terorisme "adalah perbuatan yang menimbulkan kerusakan dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.” 

Frasa gangguan keamanan ini luas maknanya, menimbulkan pertanyaan tentang keamanan apa yang dimaksud pasal tersebut. Adapun TNI bisa bergerak saat keamanan dan kedaulatan negara terganggu sesuai UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.

Dalam Pasal 7 ayat 1 tertulis: Tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Di Indonesia, keamanan nasional dikategorikan keselamatan bangsa, pertahanan negara, penegakan hukum, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat. 

Baca Juga: Panglima TNI Minta PP untuk Koopssusgab



Terkait Koopssusgab, pasukan khusus anti-teror ini diresmikan pada 9 Juni 2015, yang beranggotakan prajurit terbaik dari tiga pasukan elite TNI, yaitu Gultor Komando TNI AD, Detasemen Jalamangkara (Denjaka) TNI AL, dan Satbravo 90 Komando Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU. 

Namanya juga pasukan elite, operasi hingga identitasnya pun sangat dirahasiakan. Seleksi ketat dan panjang harus dilewati hingga seorang prajurit TNI bisa terpilih mengemban tugas rahasia. 

Baca Juga: Pengaktifan Koopssusgab adalah Kewajaran

Pada bagian ini, tim riset era.id berusaha mengupas kekuatan Denjaka, pasukan anti-teror yang aktivitasnya sangat dirahasiakan. Lalu membayangkan, bagaimana kira-kira sepak terjang pasukan elite nan senyap ini jika jadi menangani terorisme.

Denjaka dibentuk berdasarkan instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir dengan surat No Isn.01/P/IV/1984 tanggal 13 November 1984. Detasemen penanggulangan teror aspek laut ini memiliki beberapa peran, di antaranya anti-bajak kapal laut, anti-bajak pesawat udara, segala bentuk teror aspek laut/darat/udara, perang kota/hutan/pantai/laut, sabotase dan intelijen serta kontra-intelijen. 

Soal personel, jumlahnya sangat dirahasiakan apalagi identitasnya. Denjaka merupakan satuan gabungan antara prajurit terbaik jebolan Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (YonTaifib) TNI AL. 

Prajurit yang terpilih mengikuti seleksi wajib menyelesaikan pendidikan penanggulangan teror aspek laut (PTAL) selama enam bulan, dari situ mereka akan disaring hingga akhirnya resmi jadi pasukan Denjaka. 

Rentetan pendidikan Denjaka tidak main-main, setiap pasukannya harus mampu melewati tingkatan pelatihan di Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan. Ternyata pendidikan teori hanya berbobot 20 persen saja, selebihnya diemban di lapangan, seperti hutan, laut, dan udara. 

Bukan cuma fisik yang ditempa, setiap prajurit diwajibkan memiliki IQ tinggi untuk menghadapi masalah dalam berbagai kondisi.

Kawah Candradimuka Situbondo dipilih menjadi tempat pelatihan fisik para calon personel Denjaka. Sejatinya mereka dituntut mampu menyusup dengan terjun payung, bergerak lincah di laut dengan daya tahan tinggi, serta bertahan di darat. 

Pendidikan ganas dilakukan salah satunya di laut Banyuwangi, ombak ganas yang sering menggulung perahu nelayan tersebut dijadikan arena berlatih bagi Denjaka.

Tunggu dulu, mereka tidak mengandalkan perahu untuk bertahan di laut Banyuwangi. Bayangkan, tangan dan kaki calon personel Denjaka diikat, lalu dibuang ke laut untuk bertahan dan menyelamatkan diri dari ganasnya ombak laut Banyuwangi. 

Tujuannya, apabila pasukan trimedia (menguasai medan darat, laut, dan udara) dibuang ke laut dalam keadaan terikat oleh musuh, mereka akan mampu bertahan dan menyelamatkan diri. Bukan main.



Selanjutnya, pelatihan ketahanan darat yang dilakukan di belantara hutan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Calon personel Denjaka akan dilepas di hutan tanpa perbekalan apapun, kecuali garam. 

Ketahanan fisik dan kemampuan individu menjadi modal terbesar mereka untuk bertahan dari liarnya hutan Alas Purwo. Minimal, calon anggota Denjaka dilepas di hutan selama tiga hari tiga malam, buasnya binatang pada malam hari bukan menjadi halangan bagi mereka yang bertahan.

Lain halnya pendidikan medan udara yang mereka lakukan. Normalnya dalam terjun tempur, tak lama keluar dari pesawat, parasut sudah dibentangkan. Tapi ini tidak berlaku bagi Denjaka, simulasi keadaan perang ketika melakukan penyusupan yang dapat dilakukan kapanpun, tak mengenal siang dan malam wajib dikuasai. 

Terjun bebas yang mereka lakukan, lompat dari ketinggian di luar radar musuh, parasut dibentangkan dari jarak terendah titik pendaratan. Dengan ini mereka akan mampu menyusup ke markas musuh tanpa terdeteksi.

Kerasnya tahapan pelatihan yang terkadang membuat para calon prajurit Denjaka ini mengundurkan diri atau gagal melanjutkan seleksi. Terlepas dari tahapan pelatihan, para prajurit yang berhasil akan dilantik menjadi pasukan Denjaka. 

Prosesi pelantikan atau dikenal dengan pembaretan, dilakukan setelah berjalan kaki siang dan malam, dari Banyuwangi ke Surabaya, kurang lebih berjarak 304 km.

Normalnya jarak ini dapat ditempuh dengan mobil selama kurang lebih tujuh jam, sedangkan Denjaka harus berjalan kaki selama 59 jam.

Gimana, masih berani meragukan kekuatan Denjaka?

Tag: ruu anti-terorisme koopssusgab teroris

Bagikan: