Pohon Palsu yang Bikin Gaduh

| 05 Jun 2018 08:36
 Pohon Palsu yang Bikin Gaduh
Pohon palsu. (Leo/era.id)
Jakarta, era.id - Pohon palsu yang dipasang di beberapa titik strategis Ibu Kota menimbulkan kegaduhan, khususnya di media sosial. Warganet menilai kebijakan Pemprov DKI ini hanya buang-buang anggaran hingga Rp8,1 miliar. Selain itu, penanaman pohon dituding menganggu tata kota yang sudah baik.

Salah satu warganet bernama @aryprasetyo85 menulis dalam Twitter-nya menulis, "Gileeeee bener 2xlipat harganya booo.... halo @KPK_RI jangan tutup mata, harga pohon palsu di toko online seharga Rp4 juta, Pemprov DKI membeli pohon palsu seharga Rp8 juta," seperti dilihat tim era.id, Selasa (5/6/2018).

Kepala Bidang Pencahayaan Kota Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta, Syamsul Bahri membenarkan jika harga pohon tersebut Rp8 juta per buah. Namun, dia mengatakan, perlu diketahui perbedaan harga antara yang dijual di toko online dengan milik Dinas PE. Sebab, kedua pohon memiliki spesifikasi yang berbeda. Di mana pohon Dinas PE dapat digunakan di outdoor dan lebih kokoh, dibanding yang dijual di online.

"Jadi ada spesifikasinya (beda). Ada ketinggian 1,2 meter, kita outdoor, jauh beda spek. Yang itu (dijual di toko online) buat indoor," kata Syamsul di Kantor Dinas PE, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (4/6/2018).

Syamsul menyayangkan tentang informasi miring yang beredar di media sosial mengenai pohon palsu ini. Dia pun merasa dirugikan dengan informasi tersebut.

Meski begitu, Syamsul tidak berpikir untuk mengadukan para penyebar informasi simpang siur tadi ke pihak berwajib. Dia berdalih, masalah hukum ini bukan tupoksinya.

"Saya tidak dalam kapasitas tuntut menuntut, mungkin ada dinas lain," imbuh Syamsul.

Syamsul menerangkan, pengadaan pohon tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2017 lalu, atau lebih tepatnya pada saat Basuki Tjahja Purnama atau Ahok menjabat sebagai Gubernur. Pengadaan tersebut juga sudah melalui pemeriksaan BPK dan tidak ditemukan ada masalah saat itu.

"(Pembelian pohon) 22 Juni 2017. Siapa itu? Masih (dianggarkan oleh) Ahok kan? Ya sudah itu. Itu kan 2017, itu di BPK sudah masuk itu," kata Syamsul.

Nah, pohon yang barang pengadaannya di era Ahok ini ditanggapi Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Pada akun Twitternya, dia menulis tentang dukungan kepada KPK membersihkan korupsi dan warisan korupsi.

"Nah thd yg "fiktif" tapi bisa menangkan lelang pohon palsu dan "kabarnya" sering dapat proyek pd zaman Ahok&Jarot, @KPK_RI penting unt turun ke lapangan, sbgmn diusulkn kemaren. Agar clear, dan Pemprov DKI betul2 bersih dari korupsi, termasuk bersih dari warisan korupsi," tulis Hidayat diakunnya @hnurwahid

Dibully dan dicabut

Belakangan, Pohon palsu ini dicabut dan disimpan di gudang. Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta Yuli Hartono mengungkapkan, dicabutnya 63 pohon palsu di Jakarta karena Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kerap dibully di media sosial. Kata dia, pencabutan ini dilakukan supaya tidak memperkeruh suasana.

"Saya tanya (ke bawahan), 'barang kapan?' 'Tahun lalu, pak, enggak ada pengadaan tahun ini.' 'Ya sudah setop dulu, kasihan pak Gubernur di-bully di medsos, di Twitter'," kata Yuli.

Yuli menerangkan, pohon yang dicabut tadi karena adanya kesalahan pemasangan di dua titik. Kedua titik itu memang mengganggu akses pejalan kaki di trotoar. 

"Ada satu titik pohon yang menghalangi pejalan kaki, yang warna hijau itu di BI . Dan ada satu jalur warna putih yang menghalangi jalan difabel," jelasnya.

Di sisi lain, Yuli mengatakan, banyak pihak yang menyayangkan dicabutnya pohon-pohon plastik tersebut. Karena sejumlah orang menilai keberadaan pohon palsu mempercantik Ibu Kota. Atas dasar itu, Yuli berencana akan memasang kembali pohon palsu itu sebelum Idul Fitri dan Asian Games. Dengan catatan, tidak mengganggu pejalan kaki

"Saya sudah merencanakan ulang, tidak berjejer dan tidak mengganggu pedestrian. Jujur aja ya warga di perkantoran-perkantoran minta loh di Jalan Thamrin di Jalan Merdeka. Iya ada evaluasi, kalau begitu kita taruh di tempat yang aman deh. Mungkin saya taruh di Patung Kuda, yang enggak ada lalu lalangnya (pejalan kaki)," kata Yuli.

Dalam keterangan pers dari Suku Dinas PE Jakarta Pusat dijelaskan anggaran pengadaan 63 lampu hias pohon jenis mayang sebesar Rp 573.259.995. Untuk harga satu set lampu sebesar Rp 8.272.150 yang tercantum dalam dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) pengadaan lampu hias pencahayaan kota tahun 2017.

63 pohon palsu tersebut tersebar di beberapa wilayah Jakarta Pusat seperti di Jalan MH Thamrin, Jalan Medan Merdeka Barat, Halaman Gedung Balai Kota, dan Halaman Gedung DPRD DKI. Pohon-pohon tersebut rencananya dipasang dalam event-event tertentu seperti Asian Games, Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.

Rekomendasi