Berterimakasih pada Soekiman untuk Nikmat THR

Tim Editor

Ilustrasi (Abid Farhan Jihandoyo/era.id)

Jakarta, era.id - Masuk pekan terakhir bulan Ramadan. Bergembiralah kawan, sebab hari kemenangan segera datang. Dan berbahagialah kawan, untuk tunjangan hari raya (THR) yang segera merangsek masuk ke dompet-dompetmu yang mulai lusuh.

Di atas segala rasa syukur itu, kami ajak kamu mengenal dan menghayati perjuangan Soekiman Wirjosandjojo, sosok penting yang berada di balik nikmatnya THR. Boleh dibilang, Soekiman ini bapaknya THR. Dia adalah orang yang pertama kali mencetuskan gagasan soal THR ini.

Gagasan ini muncul dan mulai diterapkan pada masa jabatan Soekiman sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia (RI) tahun 1951 hingga 1952. Hal yang melatarbelakangi gagasan ini adalah keinginan Soekiman menyejahterakan para pamong praja, cikal bakal pegawai negeri sipil (PNS).

Akhirnya, Soekiman membentuk satu kebijakan, memberikan tunjangan di penghujung bulan Ramadan kepada para pamong praja. Jumlah uang yang dibagikan pada waktu itu mencapai Rp125 atau setara dengan US$11 sampai Rp200 atau setara US$17,5. Jika dikonversikan dengan nilai dollar saat ini, nilainya mencapai sekitar Rp1 juta hingga Rp2 jutaan.

Seiring waktu, gagasan pria kelahiran Solo, Jawa Tengah tahun 1898 itu akhirnya juga diterapkan bagi para pekerja di lingkup swasta, dan bahkan diterapkan hingga saat ini. Hasilnya, ya berkah yang kini tengah dinikmati sebagian besar pekerja di Indonesia.

Dasar hukum

Penghitungan THR ini diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 6 Tahun 2016 yang mengamanatkan bahwa karyawan yang telah memiliki masa kerja sedikitnya satu bulan berhak mendapatkan THR dengan penghitungan proporsional.

Ada dua sistem penghitungan besaran THR yang didasari pada masa kerja pekerja tersebut. Penghitungan pertama, bagi pekerja yang telah bekerja selama 12 bulan atau lebih berhak atas satu bulan upah.

Sedangkan penghitungan kedua, yang diperuntukkan bagi pekerja dengan masa kerja selama satu bulan atau lebih --di bawah satu tahun-- berhak atas besaran THR yang dihitung dengan sistem penghitungan: (masa kerja x satu bulan upah) ÷ 12.

Nah, hal penting lain yang harus kamu tahu sebagai seorang profesional --entah saat ini kamu berposisi sebagai pekerja atau pemilik perusahaan-- adalah adanya sanksi yang bisa dijeratkan pada setiap perusahaan yang lalai terhadap kewajiban membayar THR.

Setiap perusahaan yang telat membayar THR pekerjanya akan dikenai denda sebesar lima persen dari total THR yang harus dibayarkan sejak berakhirnya batas waktu pembayaran THR --tujuh hari sebelum hari raya keagamaan. Dan pengenaan denda tersebut tentu saja enggak melunturkan kewajiban perusahaan untuk tetap membayarkan THR kepada para pekerjanya.


Infografis "THR" (Arno Mahendra Aditama Putra/era.id)


Perjuangan Soekiman di Masa Kemerdekaan

Enggak cuma memberikan perhatian terhadap kesejahteraan lewat program THR yang berumur panjang hingga kini. Soekiman nyatanya juga memiliki andil besar dalam masa pergerakan dan perjuangan kemerdekaan bangsa.

Setelah lulus dari STOVIA --cikal bakal bidang kedokteran Universitas Indonesia, di usia 29 tahun, Soekiman lulus dari Universitas Amsterdam, Belanda. Di sana, Soekiman melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan.

Saat di Belanda, Soekiman dipercaya memimpin Perhimpunan Hindia Belanda (Indische Vereeniging). Kemudian dirinya mengubah organisasi tersebut menjadi Perhimpunan Indonesia (Indonesische Vereeniging).

Di zaman penjajahan, nama 'Indonesia' memang belum terlalu dikenal. Masyarakat dunia lebih mengenal bumi nusantara dengan sebutan Hindia-Belanda. Boleh dibilang, para mahasiswa Indonesia di Belanda itu --termasuk Soekiman-- adalah salah  satu pihak yang paling berjasa melestarikan nama Indonesia sebagai nama negara.

Sebab, mereka lah yang pertama kali menggunakan nama Indonesia di dalam nama organisasi mereka. Selain itu, para mahasiswa bumiputera di Belanda itu pun mengubah nama majalah organisasinya dari Hindia Poetera menjadi Indonesia Merdeka. Mereka memperkenalkan semboyan "Indonesia Merdeka, sekarang!", serta mengumumkan manifesto politik yang berisi hasrat memperjuangkan tercapainya kemerdekaan Indonesia. 

Pasca 1925, para mahasiswa nusantara di Belanda resmi melekatkan nama Indonesia untuk nama organisasinya, kemudian pada kongres tahun 1926, kata Indonesia digunakan oleh organisasi Indonesia Muda. Sekitar tahun itu juga, Jong Islamieten Bond melekatkan kata Indonesia pada nama organisasi kepanduan yang dibentuknya, Nationale Indonesische Padvendrij (Natipij).

Setelah tiga tahun kemudian, yakni pada tahun 1928, Kongres Pemuda Indonesia mengikrarkan diri berbangsa satu, bangsa Indonesia, bertanah air satu tanah air Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia, yang kemudian lebih dikenal dengan deklarasi sumpah pemuda, sebagai simbol lahirnya bangsa Indonesia.

Sekembali ke Tanah Air, Soekiman menjadi aktivis Partai Sarekat Islam, salah seorang penggagas pembentukan Sekolah Tinggi Islam (STI, kini Universitas Islam Indonesia), aktivis Persyarikatan Muhammadiyah, mendirikan dan memimpin Partai Islam Indonesia (PII), serta menjadi anggota Dokuritsu Zjunbi Tjoosakai (Badan Untuk Menyelidiki Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan) yang merumuskan konstitusi dan falsafah negara. Pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Soekiman turut mendirikan dan terpilih menjadi Ketua Umum Partai Masjumi (1945-1949), dan menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia (1951-1952).

Tag: eramadan megathrust di pulau jawa lebaran

Bagikan: