Belajar dari Kesalahan Korea Selatan di Tengah Pandemi

ERA.id - Bulan April lalu, Korea Selatan bertabur pujian karena mampu mengontrol wabah Coronavirus DIsease (COVID-19) dengan cepat lewat pengetesan yang agresif dan metode-penelusuran-isolasi pasien yang efektif. Meski secara geografis dekat dengan China, Korsel berhasil 'menjinakkan' wabah korona bahkan tanpa sekalipun menerapkan karantina wilayah (lockdown).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah merilis panduan penanganan pandemi COVID-19 berdasarkan apa yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Moon Jae-in selama bulan-bulan pertama pandemi.

Namun, hari Minggu (13/12/2020), Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan (KDCA) melaporkan adanya 1.030 infeksi korona hari itu. Angka kasus ini sempat turun di bawah 800 kasus di hari berikutnya, fenomena yang ditengarai terpengaruh oleh turunnya jumlah tes yang dilakukan. Namun, pada Selasa, angka kasus positif meningkat jadi 880 kasus. Otoritas kesehatan Korsel memperingatkan warga bahwa angka infeksi bisa mencapai 1.200 kasus per hari, seperti diberitakan The Guardian.

Kini Korea Selatan telah melaporkan total 44.363 kasus infeksi korona, menurut data KDCA, dengan hanya 600 kasus kematian akibat infeksi virus ini. Angka ini relatif kecil - bandingkan dengan 56.000 kematian akibat COVID-19 di Inggris yang ukuran populasinya hampir sama - namun, tingkat penularan sedemikian rupa telah mengancam Korea Selatan untuk menerapkan pembatasan sosial yang paling ketat, atau mereka sebut 'level 3'.

Pembatasan sosial level 3 akan mewajibkan seluruh karyawan non-esensial untuk kerja dari rumah. Pertemuan dilarang mengundang lebih dari 10 orang. Kapasitas gerbong kereta tidak boleh lebih dari 50 persen terisi.

'Lengah'

Lalu apa yang telah terjadi di Korea Selatan selama ini?

Selasa lalu Perdana Menteri Korea Selatan, Chung Sye-kyun, mengatakan bahwa setelah hampir setahun warga memakai masker, menjaga jarak, dan melakukan isolasi mandiri (yang dipicu oleh program telusur kontak dengan pasien korona), warga Korea Selatan umumnya mulai lengah.

"Kebanyakan orang masih mau mengalah dengan ketidaknyamanan, dan tetap menaati peraturan. Namun, beberapa orang turut memperluas penularan virus dengan bersikap sembrono dan tidak bertanggung-jawab," kata Chung dalam sebuah rapat internal pemerintahan, seperti dikutip The Guardian.

Pejabat kesehatan telah mengidentifikasi beberapa kalangan yang rutin melanggar pembatasan sosial. Misalnya, sejumlah jemaat gereja dan bisnis yang bergantung pada industri hiburan malam. Kelompok Kristen konservatif di Korea Selatan terutama, justru dihujat karena kerap menghindari pengetesan. Pada awal September 2020, Reuters menyebutkan bahwa sepertiga dari 4.500 kasus COVID-19 di Kota Seoul terhubung dengan jemaat gereja dan siapapun yang hadir dalam demonstrasi anti-pemerintah pada 15 Agustus.

Otoritas setempat mengatakan bahwa penanganan wabah dihalangi oleh 650 jemaat gereja dan 7.700 demonstran yang ogah dites COVID-19. Sementara itu, di awal September lalu, 300 perkumpulan keagamaan melanggar pembatasan sosial dan tetap melakukan ibadah secara langsung.

Di luar itu, perkumpulan keluarga dan kolega dikatakan telah menyumbang seperlima dari klaster infeksi korona yang ada di Korea Selatan.

Sementara itu, beberapa orang meyakini bahwa naiknya kasus infeksi korona saat ini adalah harga yang harus dibayar pemerintah Korea Selatan karena melonggarkan aturan terlalu awal.

"Pemerintah mengubah kebijakan pada Oktober lalu, dan akhirnya mereka kini harus mengetatkan aturan ketika wabah terus meluas," kata Eom Joong-sik, seorang pakar penyakit menular di Gachon University di Incheon, kepada the Guardian.

Joong-sik memprediksi bahwa kondisi saat ini bakal membuat virus menyebar lewat komunitas-komunitas kecil dan meluas ke daerah lain.

Sempat dipuja-puja beberapa bulan lalu sehubungan dengan langkahnya mengendalikan pandemi korona, Presiden Moon Jae-in kini mendapati ratingnya anjlok. Presiden Jae-in telah meminta maaf kepada warga Korsel atas meningkatnya infeksi belakangan ini.

Pandangan warga Korea Selatan mungkin bisa diwakili oleh Lee-Seung-du, 29 tahun, yang tinggal di Kota Seoul.

"Setiap pagi saya bangun dan melihat angka kasus COVID-19 meningkat terus," kata dia.

"Beberapa pekan lalu, pemerintah menyombongkan kebijakan pembatasan sosial mereka yang telah mendapat pujian dari seluruh dunia. Namun, kini semua itu terlihat seperti lelucon. Saya tak percaya bahwa mereka bermain-main dengan nyawa warga Korea Selatan hanya demi mendapat citra positif."