Sepak Terjang Greysia Polii, Pernah Didiskualifikasi Olimpiade 2012 hingga Boyong Medali Emas untuk Indonesia

Tim Editor

Pebulutangkis Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu merayakan kemenangan mereka di laga final bulu tangkis ganda putri Olimpiade Tokyo 2020, Senin, (2/8/2021). (Foto: ANTARA)

ERA.id - Nama atlet bulu tangkis Greysia Polii menghiasi judul surat kabar pada Senin, (31/7/2021), setelah bersama tandemnya, Apriyani Rahayu, menjadi juara badminton Olimpiade untuk nomor ganda putri.

Greysia dan Apriyani pun menjadi wanita ketiga dan keempat Indonesia yang berhasil meraih medali emas di Olimpiade, setelah Susi Susanti di 1992 dan Lilyana Natsir di 2016.

Meski begitu, sebagai atlet putri tertua peraih medali emas dalam sejarah Olimpiade (33 tahun, 356 hari), perjalanan karir Greysia tak bisa dibilang mulus. Ia pernah berjaya, juga pernah berada di posisi terendahnya terutama saat terkait skandal di Olimpiade London 2012.


Namun, toh, seperti kita lihat sekarang, Greysia terus bangkit dan mencetak banyak sejarah di olah raga yang ia geluti ini.

Untuk merayakan keberhasilan Greysia, dan juga Apriyani, di Olimpiade Tokyo, berikut 3 highlight karir sang atlet Greysia Polii hingga sampai ke titik penuh sejarah ini.

Tak Hanya Berlaga untuk Nomor Ganda Putri

Greysia Polii, lahir di Jakarta, 11 Agustus 1987, dan memulai kiprah bulu tangkisnya di klub Jaya Raya. Sepertinya tak sulit bagi wanita yang sudah mengenal  olah raga badminton sejak umur lima tahun ini untuk menunjukkan bakatnya, karena pada 2003 ia terpilih untuk masuk ke pelatnas di Cipayung.

Di pelatnas, ia mempertajam skill badmintonnya untuk format berpasangan. Bakat Greysia di format main berpasangan pertama kali ditemukan oleh Retno Kustijah, pelatih sang atlet saat masih berada di klub Jaya Raya.

Pencapaian Greysia dimulai saat ia masih berpasangan dengan atlet Jo Novita. Mereka berhasil memenangkan titel Grand Prix, dua medali perak ASEAN Games 2005 dan 2007, dan satu medali perunggu di Asian Championship 2005.

Namun, nomor ganda putri bukan satu-satunya nomor perlombaan yang ia geluti.

Greysia berkontribusi pada perolehan medali perak di World Junior Championship 2004 untuk nomor ganda campur bersama pebulu tangkis Muhammad Rijal.

Emas Olimpiade Tokyo 2020

Antusiasme terhadap Greysia Polii dan Apriyani Rahayu sudah terasa di Olimpiade Tokyo sejak Sabtu, (31/7/2021). Hari itu duo atlet ini mencatat sejarah sebagai ganda putri Indonesia pertama yang mencapai final Olimpiade. Mereka mengalahkan pasangan Korea Selatan Lee So Hee/Shin Seung Chan dengan set langsung 21-19, 21-17, Sabtu, (31/7/2021).

Puncaknya, pada Senin, (2/8/2021), Greysia Polii dan Apriyani Rahayu berhasil menaklukkan ganda putri nomor dua dunia asal China, Chen Qingchen/Jia Yifan.

Lewat kemenangan tersebut, Greysia/Apriani tercatat sebagai pasangan ganda putri pertama Indonesia yang meraih medali emas Olimpiade.  

Dengan kemenangan mereka berdua, lengkaplah sudah koleksi medali emas Indonesia di 5 cabang badminton Olimpiade.

Tiga Kali Jatuh Bangun dan Skandal London 2012

Karier badminton Greysia Polii tak mulus belaka, bahkan pernah terciderai sebuah skandal cukup besar. Pada Olimpiade London 2012, masih berpasangan dengan pebulutangkis Meiliana Jauhari, ia pernah didiskualifikasi karena dianggap bermain dengan tidak etis.

Dalam alasan diskualifikasi, pihak penyelenggara Olimpiade menilai Greysia dan Meiliana "tidak menunjukkan usaha terbaik mereka untuk memenangkan pertandingan", melansir Jakarta Globe. Belakangan satu warga China dan dua orang Korea Selatan juga didiskualifikasi terkait skandal tersebut.



Namun, Greysia tak berhenti di situ. Ia lolos kualifikasi Olimpiade Rio 2016, kali ini berpasangan dengan Nitya Krishina Maheswari. Mereka berhasil melaju ke babak perempatfinal sebelum takluk oleh pasangan asal China.

Deraan cedera terus menerus, ditambah pensiunnya Nitya dari olahraga badminton pasca Olimpiade Rio, hampir menyelesaikan langkah Greysia di olahraga bulu tangkis. Kepada World Badminton Federation, Greysia mengaku sudah hampir menyatakan pensiun di 2017.

Namun, di usia 33 tahun, ternyata masih dipercaya oleh Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) untuk berada di pelatnas dan mendampingi atlet yuniornya. Langkah ini yang membawa ia dipasangkan dengan Apriyani. Keduanya pun berhasil menjuarai Korea Open dan Thailand Open. Dari situ, ia berpikir untuk bertahan selama empat tahun, hingga akhirnya mencapai momen puncak di Olimpiade Toky o2021.

Greysia mengaku bahwa peristiwa London menjadi "titik terendah" dalam hidupnya.

"Menurut saya, Olimpiade London mengajarkan untuk tidak putus asa atas mimpi Anda. Dan saya tahu, saya tidak hanya mengucapkannya, saya menjalaninya setiap hari. Ini hanya kado dari Tuhan bahwa saya bisa berada di sini di final Olimpiade, di tahun 2021," ucap Greysia, dikutip oleh Badminton World Federation.

Peringkat bulu tangkis tertinggi Greysia Polii adalah rangking 2 dunia, saat masih bersama Nitya Krishinda Maheswara.

Greysia Polii dan Apriyani Rahayu tertinggi mencapai rangking 3 dunia pada 20 September 2018. Kini mereka duduk di rangking 6 dunia untuk kelas ganda putri.

Tag: badminton medali emas Olimpiade Tokyo Tim Badminton Indonesia Greysia Polii/Apriani Rahayu

Bagikan: