Kembali Gelar Grebeg Besar pada 1443 H, Ternyata Ini Filosofi yang Percaya Warga Keraton Surakarta

| 10 Jul 2022 19:26
Kembali Gelar Grebeg Besar pada 1443 H, Ternyata Ini Filosofi yang Percaya Warga Keraton Surakarta
Rombongan abdi dalem membawa Gunung Jaler dan Estri dari Keraton Surakarta (Dok. Antara)

ERA.id - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Grebeg Besar Idul Adha 1443 H pada tahun 2022 ini setelah dua tahun terhenti akibat pandemi COVID-19.

Pengulu Tafsir Anom KRAT Muh Mukhtarom Pujonagoro di sela Grebeg Besar di Solo, Minggu, mengatakan filosofi dari kegiatan tersebut merupakan bagian dari wujud syukur manusia kepada Tuhan.

"Ada sedekah berupa makanan yang dibawa dari keraton ke Masjid Agung kemudian dibagikan kepada masyarakat umum. Siapapun bisa mendapatkan itu," katanya.

Ia mengatakan ditiadakannya Grebeg Besar selama dua tahun terakhir perayaan Idul Adha karena dikhawatirkan akan menciptakan kerumunan orang.

"Secara teknis kan grebeg ini tempat berkumpulnya banyak orang, makanya keraton tidak menyelenggarakan. Hanya syukuran atau selametan di dalam keraton. Ini kondisinya membaik (sehingga diselenggarakan kembali), bagian dari tradisi keraton yang harus dilestarikan," katanya.

Selain itu, melalui Grebeg Besar tersebut diharapkan manusia mampu memahami makna dari Idul Adha.

"Yang jelas kita sebagai manusia tentunya di dalam Idul Kurban harus juga mengurbankan, ada jiwa pengurbanan kita. Menanggalkan sifat kehewanan kita, meningkatkan sifat humanisme kita. Kedua, syukur tadi kan wujudnya juga sama, dalam rangka mempertebal jiwa humanisme," katanya.

Sementara itu, dikatakannya, dimulainya grebeg ditandai dengan keluarnya drumband Prajurit Keraton Surakarta dari Kori Kamandungan yang membawa panji dan bendera logo Kasunanan Surakarta.

Selanjutnya, diikuti oleh abdi dalem yang membawa tandu berisi berbagai makanan tradisional dan di belakangnya ada dua gunungan yang dinamakan Gunungan Jaler dan Estri. Rombongan berjalan dari Keraton Surakarta menuju Masjid Agung Surakarta.

Usai didoakan di dalam masjid, berbagai hasil bumi pada Gunungan Estri langsung ludes diperebutkan warga dan Gunungan Jaler dibawa kembali ke keraton untuk dibagikan warga di sana.

Rekomendasi