Kala Anak Nasabah Pembiayaan Ini Berkata “Orang Tua Berjuang di Sawah, Saya di Sekolah”

| 22 Jul 2026 22:04
Kala Anak Nasabah Pembiayaan Ini Berkata “Orang Tua Berjuang di Sawah, Saya di Sekolah”
Murid SD Inpres Wae Moto bersama pegawai PNM

ERA.id -  Di sudut Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, terdapat Desa Wae Moto yang berada di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Di wilayah dengan akses yang masih terbatas, sekolah bukan sekadar bangunan tempat belajar, melainkan ruang tempat harapan dipelihara. 

Bagi anak-anak Wae Moto, pendidikan menjadi jalan untuk memutus mata rantai keterbatasan sekaligus membuka kesempatan yang lebih luas di masa depan. Namun, semangat mereka selama ini masih berjalan berdampingan dengan kondisi sarana belajar yang memerlukan perhatian, mulai dari infrastruktur sekolah hingga fasilitas sanitasi dan kebersihan yang belum sepenuhnya memadai. 

Menyambut Hari Anak Nasional 2026 esok hari, yang mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, salah satu lembaga pemberdayaan ekonomi perempuan di bawah naungan Danantara yakni PNM melalui program PNM Peduli menghadirkan langkah sederhana yang berdampak besar bagi SD Inpres Wae Moto sebagai wujud kasih sayang yang diterjemahkan dalam bentuk revitalisasi sekolah.

Semangat itu tergambar dari Mariva Yankezia, seorang siswi berusia 10 tahun yang setiap hari datang ke sekolah dengan keyakinan sederhana namun begitu bermakna. 

“Saya tetap semangat sekolah karena saya tahu orang tua saya bekerja keras supaya saya bisa menimba ilmu. Saya ingin belajar sungguh-sungguh agar bisa membanggakan mereka,” tuturnya, Rabu (22/7/2026). 

Di balik kalimat sederhana tersebut tersimpan kisah banyak anak di Wae Moto yang memahami bahwa setiap langkah menuju sekolah adalah buah dari perjuangan orang tua mereka. Kesadaran itulah yang menjadikan pendidikan bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk penghormatan kepada pengorbanan keluarga.

Melalui PNM Peduli, kepedulian terhadap masa depan anak diwujudkan dengan merenovasi ruang belajar agar lebih aman dan nyaman, memperbaiki fasilitas sanitasi dan akses kebersihan sekolah, serta melengkapi sarana dan prasarana sesuai kebutuhan yang dihimpun bersama pihak sekolah.

Upaya ini lahir dari keyakinan bahwa lingkungan belajar yang layak merupakan bagian penting dalam membentuk kualitas pendidikan. Di wilayah yang masih menghadapi tantangan akses air bersih dan fasilitas sanitasi, kehadiran sarana kebersihan bukan hanya mendukung kesehatan siswa, tetapi juga menciptakan ruang belajar yang lebih manusiawi sehingga anak-anak dapat tumbuh, belajar, dan bermimpi dengan lebih percaya diri.

Kindaris, Direktur Utama PNM mengungkapkan peran penting PNM dalam memberikan pemberdayaan kepada ibu mekaar yang berimplikasi pada menjaga asa anak nasabahnya untuk hidup yang lebih sejahtera.

”Pemberdayaan bukan sekedar memberikan permodalan, tapi yang tak kalah penting pendampingan usaha sehingga manfaatnya dirasakan oleh keluarga terutama anaknya. Saya berharap 15 tahun lagi, saat mereka sudah bisa mulai menggapai cita-citanya, mereka akan ingat bahwa hari ini PNM percaya pada mimpi-mimpi mereka.” Ujar Kindaris

Bagi PNM, pemberdayaan tidak berhenti pada usaha seorang ibu, tetapi juga harus mengalir kepada masa depan anak-anaknya. Di SD Inpres Wae Moto, 14 dari 64 siswa merupakan anak nasabah PNM Mekaar. 

Melalui PNM Peduli, PNM menghadirkan ruang belajar, fasilitas sanitasi, serta sarana sekolah yang lebih layak agar anak-anak dapat belajar dengan aman, sehat, dan terus menyalakan mimpinya.

Tags : Pnm
Rekomendasi