Istana Dinginkan Polemik Panas soal Prabowo dan Gibran Duduk Berjauhan

| 22 Jul 2026 05:24
Istana Dinginkan Polemik Panas soal Prabowo dan Gibran Duduk Berjauhan
Posisi Presiden Prabowo Subianto duduk berjauhan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) pada 20 Juli silam. (BPMI Setpres/Rusman)

ERA.id - Posisi Presiden Prabowo Subianto duduk berjauhan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka jadi bahan pergunjingan. Gestur tersebut dianggap sebagai sinyal keretakan dalam pemerintahan.

Bagaimana tidak, Gibran duduk berderet dengan menteri, tepatnya di sebelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Fotonya tersebar luas dan terbukti momen itu terjadi pada 20 Juli silam dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP). Di media sosial itu dikritisi dengan pertanyaan ada agenda apa foto itu diunggah ulang lalu diberikan narasi perpecahan?

Kadung menjadi polemik, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi langsung menjelaskan. Katanya pengaturan tempat duduk tersebut berkaitan dengan kebutuhan Prabowo saat memaparkan materi yang didukung berbagai data dan penggunaan alat bantu teleprompter.

"Karena beliau (Presiden Prabowo) ingin menjelaskan banyak sekali program, maka kalau saudara-saudara perhatikan, banyaknya program itu juga harus diikuti atau didukung dengan data-data. Karena itu, kemarin beliau menggunakan alat bantu berupa teleprompter. Itulah yang kemudian menjawab pertanyaan mengenai lay out," ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa kemarin.

"Kalau saudara-saudara perhatikan, Bapak Presiden berada di tengah-tengah. Kalau yang dipertanyakan adalah posisi Bapak Wakil Presiden, menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata," imbuhnya.

Menurut dia, tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan. "Kami pada posisi sekarang sedang kompak-kompaknya," tegas Pras.

Prasetyo juga menyampaikan bahwa SKP merupakan sidang rutin pertengahan tahun atau setelah berakhirnya semester pertama. Adapun sidang kabinet paripurna sebelumnya dilaksanakan pada 13 Maret 2026, atau sekitar empat bulan lalu.

"Yang paling penting justru bagaimana secara substantif apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden kepada seluruh jajaran," kata Pras lagi.

Rekomendasi