Aksi Unjuk Rasa HMI di Solo Diwarnai Kemacetan di Fly Over Purwosari

| 12 Apr 2022 22:14
Gabungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Solo Raya melakukan unjuk rasa di kawasan Fly Over Manahan, Solo (Amalia Putri/era)

ERA.id - Gabungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Solo Raya melakukan unjuk rasa di kawasan Fly Over Manahan, Solo, Selasa (12/4/2024). Dalam unjuk rasa ini massa melakukan long march yang membuat kemaceran di Fly Over.

Aksi dimulai sekitar pukul 15.30 WIB. Massa berkumpul di pertigaan Panti Waluyo dan long march menuju ke Fly Over Manahan.

Massa sekitar 100 orang berjalan perlahan melintasi fly over Manahan. Separuh badan jalan di Fly Over Purwosari dipenuhi oleh massa yang berunjuk rasa. Sehingga menimbulkan kemacetan dari sisi barat maupun timur.

Sampai di timur pertigaan Robinson, massa berkumpul dan membuat lingkaran besar. Mereka kemudian secara bergantian berorasi.

Salah satu Koordinator Lapangan, Ali yang merupakan perwakilan HMI Sukoharjo mengatakan bahwa kebijakan yang diberikan pemerintah saat ini tidak memihak pada rakyat.

"Contohnya adalah kebutuhan pokok yang harganya terus mahal, seperti minyak goreng," katanya di sela aksi.

Kebijakan yang diberikan pememerintah dengan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) minyak goreng, hanya menjadi solusi sementara. "Solusi ini tidak menjawab problematika. Bisa dikatakan ini hanyalah solusi singkat," katanya.

Mereka menilai pemerintah tidak tegas dalam menangani persoalan minyak goreng ini. "Pemerintah tidak tegas pada mafia-mafia minyak goreng," katanya.

Tuntutan lainnya yang dibawa para mahasiswa yakni penolakan penundaan pemilu 2024. Meski Presiden Joko Widodo telah menolak wacana tersebht, namun mereka berjanji akan tetap mengawal janji ini.

"Kami akan mengawal hingga titik pengesahan dari KPU dan Bawaslu. Jadi kami ingin agar pemilu tetap dilaksanakan pada 2024 mendatang. Tidak ada perpanjangan atau tiga periode," katanya.

Permasalahan lainnya yang disorot yakni terkait kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

"Mungkin kenaikannya hanya satu persen, tapi berdampak pada seluruh masyarakat," katanya.

Mereka juga menuntut agar pemerintah Jawa Tengah menyelesaikan persoalan Wadas. Sebab Wadas merupakan objek pembangunan nasional yang menyengsarakan masyarakat.

"Kami juga meminta pemerintah untuk menghentikan eksploitasi tambang andesit di desa Wadas," katanya.

Aksi berlangsung hingga azan magrib. Mereka kemudian melanjutkan long march menuju kampus Universitas Batik Surakarta (UNIBA) dan berakhir di sana.

Tags : hmi
Rekomendasi