Kembangkan Transmigrasi Modern, Menteri Desa Abdul Halim: Transmigran Tak Lagi Bawa Cangkul dan Sabit

| 20 May 2022 11:05
Kembangkan Transmigrasi Modern, Menteri Desa Abdul Halim: Transmigran Tak Lagi Bawa Cangkul dan Sabit
Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar saat memberikan kuliah umum di UGM, Kamis (19/5). Dok. UGM

ERA.id - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) Abdul Halim Iskandar mengatakan pihaknya tengah mengembangkan gagasan pembangunan transmigrasi modern.

Pemberangkatan transmigran dengan simbol cangkul dan sabit pun dirasa sudah tidak tepat.

Hal ini disampaikan Halim saat menjadi pembicara dalam 'Minister Lecture: Pembangunan Desa Berkelanjutan dan Kebangkitan Trans Modern untuk Kemajuan Bangsa', di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (19/5/2022).

“Kalau saya istilahkan dulu transmigrasi warga yang dibawakan sabit dan cangkul simbolisasinya. Hari ini tidak boleh mengizinkan memberangkatkan warga transmigrasi dengan bekal cangkul dan sabit, tetapi sudah harus traktor,” paparnya.

Hal ini bagian dari konsep baru transmigrasi yakni dengan mengembangkan transpolitan. Pengembangan kawasan transpolitan ini telah dirintis melalui kegiatan kolaboratif Kementerian Desa PDTT dengan UGM melalui Fakultas Geografi.

Halim menyatakan transmigrasi di masa kini tidak bisa lagi dilakukan seperti masa sebelumnya. Transmigrasi harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, warga transmigran saat ini harus dibekali dengan berbagai teknologi terkini. Hal itu perlu dilakukan untuk pembangunan di kawasan transmigrasi.

Ia menuturkan bahwa konsep transpolitan rumusan kementerian dan UGM tersebut akan masuk ke Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2025-2045. Dengan begitu, model transmigrasi di Tanah Air dapat berjalan lebih maju. “Dalam artian, (maju) penanganannya, warga yang dikirim, tata ruangnya, maupun tampilannya,” jelasnya.

Misalnya dalam mengembangkan atau membangun rumah hunian warga transmigrasi. Pembangunan hunian transmigrasi berusaha mengikuti model hunian di kawasan tersebut.

Rumah hunian warga tansmigran nantinya tidak boleh model RSSS, tapi mengikuti model adat setempat. Di mana daerah transmigrasi maka model rumahnya mengikuti kawasan itu sehingga tidak terkesan tampil beda,” katanya.

Kawasan atau lahan dengan konsep kepemilikan lahan komunal atau sertifikat komunitas juga dikembangkan. Selain itu, pengelolaan lahan komunal untuk pertanian bersama-sama dan menyediakan fasilitas publik seperti sarana kesehatan, pendidikan, serta penyiapan sumber daya manusia.

"Ada kebangkitan baru dalam membangun kawasan transmigrasi. Bersamaan dengan peringatan Harkitnas 2022 saya berharap dapat bangkit menuju transmigrasi modern menuju tahun 2023 dan seterusnya," kata dia.

Politisi PKB ini berharap program ini memajukan kawasan transmigrasi. "Mudah-mudahan percepatan kawasan transmigrasi dalam pendekatan yang lebih modern, pendekatan teknologi berbasis potensi segera bisa diwujudkan,” pungkasnya.

Rekomendasi