Deathgasm II: Goremageddon, Band Metal Paling Sial di Selandia Baru Bangkit Lagi

| 22 Sep 2026 23:22
Deathgasm II: Goremageddon, Band Metal Paling Sial di Selandia Baru Bangkit Lagi
ILUSTRASI Deathgasm II: Goremageddon

ERA.id - Ada film horor yang ingin membuat Anda takut, dan ada film horor yang ingin membuat Anda mengangkat tangan membentuk tanda metal sambil tertawa melihat darah muncrat. Deathgasm jelas masuk golongan kedua.

Sepuluh tahun setelah film pertamanya menjadi tontonan kultus, sekuelnya akhirnya tiba. Deathgasm II: Goremageddon tayang dalam satu malam khusus di jaringan bioskop Alamo Drafthouse di Amerika Serikat pada 29 September 2026, lalu rilis digital pada 13 Oktober 2026.

Sedikit kilas balik

Deathgasm (2015) adalah film Selandia Baru karya Jason Lei Howden tentang Brodie, remaja penggemar metal yang tanpa sengaja memanggil iblis dengan memainkan lagu dari partitur kuno bernama The Black Hymn. Hasilnya adalah kiamat kecil di kota kecil, lengkap dengan gergaji, mainan dewasa yang dipakai sebagai senjata, dan banyak sekali darah. Film itu tidak pernah menjadi hit besar, tapi penggemar horor-komedi merawatnya seperti kaset langka.

Howden kemudian menyutradarai Guns Akimbo (2019) bersama Daniel Radcliffe, lalu kembali ke dunia yang ia ciptakan untuk menulis dan menyutradarai sekuel ini.

Kalau Anda ingin menontonnya, versi digitalnya bisa disewa atau dibeli di Prime Video dan toko digital lain, sementara Movie Box, Netflix, HBO, dan layanan sejenis tetap layak dipantau untuk horor-komedi serupa.

Ceritanya: reuni band dari alam kubur

Beberapa tahun setelah menggagalkan kiamat iblis, hidup Brodie berantakan. Ia tidak punya pekerjaan, tidak punya uang, dan terjebak di kota kecil yang terasa seperti api penyucian.

Lalu datang kabar bahwa NoizeQuest, kompetisi adu band, akan digelar di kotanya. Brodie melihat peluang untuk menebus diri dan mungkin juga mendapat kesempatan kedua dengan Medina, mantannya.

Ada satu masalah: drummernya kehilangan satu lengan, dan anggota band lainnya... sudah mati. Untungnya Brodie masih menyimpan halaman-halaman The Black Hymn. Membangkitkan teman-teman bandnya dari alam baka cukup dengan memainkan satu riff.

Demi streaming yang lebih lancar, silakan kunjungi Prime Video, Movies Box, Netflix, HBO, atau platform serupa di negara Anda.

Pemain lama dan wajah baru

Milo Cawthorne kembali sebagai Brodie, pahlawan yang sebenarnya tidak ingin jadi pahlawan. Kimberley Crossman kembali sebagai Medina. James Joshua Blake, Sam Berkley, dan Daniel Cresswell juga kembali dari film pertama.

Pemain baru termasuk Kieran Charnock, Harrison Keefe, dan Maggie Nicole Robertson. Nama yang paling mengejutkan adalah Adam Scherr, yang lebih dikenal penggemar gulat sebagai Braun Strowman, mantan bintang WWE. Dalam film seperti ini, kehadiran pegulat bertubuh raksasa jelas bukan untuk drama yang halus.

Jalan panjang lewat festival

Goremageddon bukan film baru bagi penggemar festival. Film ini tayang perdana dunia di kompetisi Fantastic Fest 2025, lalu berkeliling ke Sitges, FrightFest di Inggris, Screamfest, Monster Fest, Telluride Horror Show, dan festival horor lain.

Produksinya adalah kerja sama Selandia Baru dan Kanada, dan distribusinya di Amerika Serikat dan Kanada ditangani Raven Banner Releasing.

Jadwal rilis dan ketersediaan per wilayah

Urutan rilisnya di Amerika Utara cukup jelas: 

-       29 September 2026: pemutaran satu malam di bioskop Alamo Drafthouse di berbagai kota Amerika.

-       13 Oktober 2026: rilis digital untuk disewa atau dibeli, termasuk di Prime Video, iTunes, Google Play, Fandango at Home, dan Xfinity.

-       Akhir Oktober 2026: rilis Blu-ray dan 4K Ultra HD.

Perlu dicatat, rilis digital itu adalah sewa atau beli per judul, bukan bagian dari langganan streaming. Jadwal di atas juga berlaku untuk Amerika Utara. Di luar wilayah itu, termasuk Indonesia, ketersediaannya bergantung pada distributor lokal masing-masing, jadi cek toko digital resmi di negara Anda.

Metal dan horor, pasangan yang sudah lama akur

Musik metal dan film horor sudah lama berbagi penggemar. Sampul album yang penuh tengkorak, lirik tentang iblis, dan citra panggung yang teatrikal membuat keduanya terasa seperti saudara jauh. Deathgasm memanfaatkan kedekatan itu, tapi dengan cara yang menertawakan diri sendiri.

Lelucon dalam film pertamanya bukan menertawakan penggemar metal, melainkan tertawa bersama mereka. Brodie adalah anak muda canggung yang menemukan identitas lewat musik keras, dan banyak penonton mengenali diri mereka di situ.

Premis sekuelnya, yaitu kompetisi adu band, memberi alasan yang pas untuk lebih banyak musik, lebih banyak panggung, dan tentu saja lebih banyak kekacauan. Judul Goremageddon sendiri sudah memberi tahu seberapa jauh film ini siap melangkah.

Untuk siapa film ini

Jika Anda suka Evil Dead 2, Braindead karya Peter Jackson (film horor-komedi Selandia Baru legendaris lainnya), atau apa pun yang memadukan riff gitar dengan efek praktis yang menjijikkan, Goremageddon dibuat untuk Anda.

Jika Anda tidak tahan darah, atau tidak suka humor kasar, sebaiknya lewati saja. Film ini tidak berusaha menyenangkan semua orang, dan justru itu daya tariknya.

Layak ditonton?

Sekuel film kultus sering gagal karena mencoba menjadi lebih besar dan kehilangan rasa kecil yang membuat film aslinya disukai. Tanda awalnya bagus: pemain lama kembali, sutradara aslinya memegang kendali, dan premisnya tetap sekonyol yang seharusnya.

Kalau Anda termasuk penggemar yang menunggu satu dekade, bersiaplah. Brodie dan bandnya kembali, dan kali ini beberapa di antaranya sudah jadi mayat.

Tags : deathgasm film
Rekomendasi