ERA.id - Presiden AS Donald Trump mengaku bahwa ia tidak suka mengenakan tarif tinggi kepada China. Pengakuan itu disampaikan setelah Trump berulang kali berjanji akan menaikkan pajak besar untuk China.
Selama kampanye di pemilihan presiden, Trump berulang kali mengancam akan memberlakukan tarif pajak yang tinggi untuk setiap barang China. Namun ia akhirnya mengakui hal itu tidak ingin dilakukan olehnya.
"Kita punya satu kekuatan yang sangat besar atas China, yaitu tarif, dan mereka tidak menginginkannya, dan saya lebih memilih untuk tidak menggunakannya. Namun, itu adalah kekuatan yang luar biasa atas China," kata Trump, dikutip Fox News, Jumat (24/1/2025).
Setelah resmi dilantik sebagai presiden, Trump menekankan tarif 10 persen untuk semua produk impor dari China akan berlaku pada 1 Februari 2025. Padahal selama kampanye, ia selalu menggembar-gemborkan pungutan pajak hingga 60 persen.
Saat disinggung soal rencana kesepakatan dengan Presiden China Xi Jinping terkait Taiwan dan perdagangannya, Trump mengatakan bahwa ia bisa melakukannya.
"Saya dapat melakukannya karena kami memiliki sesuatu yang mereka inginkan, kami memiliki banyak sekali emas," jelasnya.
Di masa jabatannya yang pertama, Trump meneken kesepakatan dagang dengan Kanada dan Meksiko, Perjanjian AS-Meksiko-Kanada, dan pakta terbatas dengan China yang menguntungkan petani AS. Sejak itu, dia mengisyaratkan rencana untuk menegosiasikan kembali kedua kesepakatan dagang itu di masa jabatannya yang kedua.
Pejabat China melalui Kementerian Luar Negeri Mao Ning mengatakan bahwa pihaknya menyesalkan perbedaan mereka melalui dialog dan konsultasi.
"Kerja sama ekonomi dan perdagangan China-AS saling menguntungkan. Perang dagang dan perang tarif tidak memiliki pemenang dan tidak melayani kepentingan siapa pun atau kepentingan dunia," kata juru bicara Kemlu China Mao Ning.