Minim informasi, Vaksin AstraZeneca Dikhawatirkan Timbulkan Efek Samping Serius

Tim Editor

Ilustrasi vaksin COVID-19.

ERA.id - Institut Kesehatan Nasional (NIH), salah satu pusat riset medis terkemuka Amerka Serikat, mengaku "sangat khawatir" dengan efek samping vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca/Oxford yang sempat dihentikan sementara karena satu volunter mengalami gejala langka.

Uji klinis tahap akhir dari vaksin buatan AstraZeneca, yang bekerja sama dengan Universitas Oxford, pada Minggu (6/9/2020) sempat dihentikan karena satu orang volunter menunjukkan gejala pembengkakan syaraf tulang belakang, atau tranverse myelitis.

Saat itu, perusahaan farmasi yang berpusat di Cambridge, Inggris, menyatakan bahwa penghentian uji klinis adalah "hal biasa" ketika ditemukan adanya suatu gejala langka yang terjadi selama proses pengujian.

Pada Sabtu (12/9/2020), meski masih belum diketahui dengan pasti penyebab gejala pembengkakan syaraf tulang belakang ini, AstraZeneca mengumumkan akan melanjutkan uji klinis di Inggris. Perusahaan itu juga menyampaikan bahwa sang volunter yang memiliki gejala tersebut sudah keluar dari rumah sakit.

Kembali dilanjutkannya uji klinis ini, seperti dilansir Scientific American, menimbulkan kekhawatiran di antara para petinggi NIH yang sedang menginvestigasi kasus efek samping vaksin AstraZeneca tersebut.

"Semua orang berharap bahwa vaksin bisa segera ditemukan, namun, jika ada satu komplikasi berat yang muncul, semua usaha ini akan hancur berantakan," kata Dr. Avindra Nath, direktur dan pemimpin riset virus di Divisi Institut Penyakit Syaraf dan Stroke NIH.

AstraZeneca sendiri tidak mengatakan bahwa volunter tersebut mengalami pembengkakan syaraf tulang belakang, atau transverse myelitis. Namun, Nath dan koleganya memandang gejalanya mirip, yaitu pembengkakan di sekitar syaraf tulang belakang yang menimbulkan rasa sakit, otot yang melemah, dan kelumpuhan.

Nath mewanti-wanti AstraZeneca untuk lebih "mengantisipasi kemungkinan munculnya komplikasi" akibat vaksin yang mungkin akan diberikan ke jutaan orang itu.

Peneliti yang mempelajari penyakit semacam transverse myelitis menyebut bahwa penyakit ini langka, hanya terjadi satu di antara 250.000 orang, dan biasanya terjadi akibat respon sistem kekebalan tubuh terhadap virus.

Uji klinis vaksin AstraZeneca di AS masih akan menunggu sampel data untuk diinvestigasi. Pengujian mungkin bisa dilanjutkan setelah proses evaluasi yang memerlukan waktu satu bulan.

Tag: vaksin covid-19 pandemi COVID-19

Bagikan :