1 Juta Manusia Telah Kehilangan Nyawanya Akibat COVID-19

Tim Editor

Dua tenaga kesehatan dengan alat pelindung diri (APD) lengkap mengantar satu pasien COVID-19 yang wafat.

ERA.id - Sembilan bula pasca ditemukannya wabah pneumonia akut di Wuhan, China, COVID-19 telah menular ke 33,2 juta manusia. Hari ini, Selasa (29/9/2020) setidaknya atas pencatatan John Hopkins University (JHU), tingkat kematian akibat COVID-19 melampaui satu tonggak baru, meski miris, setelah jumlah kasus kematian lampaui angka 1 juta kasus.

Pada Selasa pagi pukul 8:10, panel Coronavirus Resource Center JHU menunjukkan angka 1.000.555 sebagai total kasus kematian akibat COVID-19.

Coronavirus Resource Center
Panel Coronavirus Research Center, John Hopkins University (JHU), pada Selasa (29/9/2020).

Saat ini, seperlima dari total kematian akibat COVID-19 berada di Amerika Serikat. Brazil mengikuti dengan 149.000 kasus. India memilikii 95.000 kasus, sekaligus menjadi negara dengan pertambahan kasus positif COVID-19 harian terbanyak di dunia. India pernah mencatatkan 97.399 kasus infeksi COVID-19 baru pada 10 September lalu.

Pelaporan kasus mortalitas COVID-19 sendiri dianggap terkendala di beberapa negara, misalnya di Suriah dan Iran, karena dampak situasi politik atau karena kurangnya kapasitas sektor kesehatan. Sebaliknya, ada beberapa negara yang, berbeda dengan panduan WHO, melaporkan kematian pasien dengan COVID-19 sebagai kematian akibat COVID-19, padahal virus korona bukan menjadi penyebab pertama kematian sang pasien.

"Dalam artian tertentu, penghitungan yang akurat atas angka kematian COVID-19 rasanya hal yang mustahil," kata Gianluca Baio, profesor statistik dan ekonomi kesehatan dari University College London, seperti dikutip The Guardian. "Namun, intinya justru bahwa COVID-19 telah merenggut banyak nyawa manusia, mereka yang seharusnya bisa hidup lebih lama lagi."

Pejabat senior Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin menyebutkan bahwa angka kematian yang sesungguhnya diprediksi jauh lebih tinggi.

Berdasarkan catatan JHU, jumlah kematian akibat COVID-19 masih berada di bawah angka 100 pada awal Maret. Kesemuanya berada di China. Namun, beberapa pekan kemudian terjadi ledakan kasus mortalitas COVID-19 di Spanyol, Italia, dan Iran. Selama bulan April, di dunia terjadi rata-rata 6.400 kasus kematian akibat COVID-19 setiap hari.

Bukti-bukti medis mengenai infeksi COVID-19 belakangan ini menunjukkan semakin banyak pasien infeksi korona dengan masalah jantung, paru-paru, dan problem lainnya yang berhasil sembuh dari penyakit tersebut. Tren melemahnya virus COVID-19 pun akan terus berlanjut, seperti dikatakan oleh Mark Woolhouse, guru besar epidemi penyakit menular dari Universitas Birmingham, yang dikutip koran The Guardian.

Woolson juga menambahkan bahwa tingkat mortalitas di kalangan lansia, rentan, dan dengan penyakit bawaan, yang mencakup 10-20 persen populasi, ternyata lebih tinggi dari perkiraan WHO. Sementara itu, tingkat mortalitas di keseluruhan populasi cenderung lebih rendah dari perkiraan badan kesehatan PBB tersebut.

Seorang pejabat WHO sempat mengatakan bahwa upaya kerja sama harus terus dilakukan untuk mengerem dampak kematian akibat COVID-19. Ia memperkirakan "2 juta kasus kematian akibat COVID-19" akan terjadi sebelum vaksin bisa ditemukan dan sampai ke masyarakat luas.

Tag: covid-19 pandemi COVID-19

Bagikan: