Sel Manusia Ditanam ke Embrio Monyet, Hasilnya Disebut Manusia atau Monyet?

Tim Editor

Ilustrasi penggabungan sel lintas spesies, atau disebut juga metode biomedis 'chimeric'. (Foto: Shutterstock)

ERA.id - Sebuah penelitian biomedis berbasis 'chimera', yaitu penggabungan sel induk dan embrio lintas spesies, baru-baru ini mengundang debat publik. Tim penelitian tersebut mengumumkan telah menanam sel induk manusia pada embrio monyet.

DIlansir dari BBC, dalam penelitian oleh tim ilmuwan AS-China, sebuah embrio monyet ditanami sel induk manusia, yaitu sel yang mampu berkembang menjadi banyak jaringan tubuh berbeda. Embrio tersebut lalu dibiarkan berkembang hingga 20 hari untuk dipelajari.

Setelah sampai hari ke-20, embrio chimera itu dimusnahkan.

Penelitian ini dipimpin oleh Prof Juan Carlos Izpisua Belmonte dari Salk Institute, Amerika Serikat, yang pada tahun 2017 membantu penciptaan hibrida manusia-babi pertama di dunia.

Dilansir dari BBC, Prof Juan menyatakan bahwa penelitiannya berpeluang mengatasi kelangkaan organ untuk transplantasi. Uji biomedis itu juga membantu ilmuwan untuk lebih memahami perkembangan awal manusia, perkembangan penyakit dan penuaan.

"Pendekatan chimeric ini bakal sangat berguna dalam memajukan penelitian biomedis, tidak hanya pada tahap paling awal kehidupan, tapi juga di tahap kehidupan saat ini," sebut dia.

Ia menyebut bahwa penelitian, yang laporannya telah dirilis via jurnal Cell, menaati kaidah etika dan hukum yang berlaku. Ia berdalih, pada akhirnya penelitian ini bertujuan "memahami dan meningkatkan kesehatan manusia."

Berkomentar atas penelitian ini, Dr Anna Smajdor, peneliti etika biomedis di Fakultas Kedokteran Norwich di Universitas East Anglia, mengatakan bahwa riset chimer menimbulkan "tantangan besar secara etika dan hukum."

"Para ilmuwan di balik penelitian ini meyakini ada peluang baru di embrio chimera, karena 'kita tidak bisa melakukan jenis penelitian tertentu pada manusia'. Tetapi apakah embrio ini adalah manusia atau bukan, itu juga masih dipertanyakan."

Sementara itu Prof Julian Savulescu, direktur Oxford Uehiro Center for Practical Ethics dan salah satu direktur di Wellcome Center for Ethics and Humanities di Universitas Oxford, meyakini bahwa penelitian tim ilmuwan AS-China itu "membuka kotak Pandora chimera manusia-bukan manusia."

Ia berpendapat, meski embrio chimera dalam penelitian sudah dimusnahkan di hari ke-20, tinggal menunggu waktu saja chimera manusia-non manusia benar-benar dikembangkan.

"Mungkin sebagai sumber organ manusia. Itu salah satu tujuan jangka panjang dari penelitian ini," ungkapnya.

Tag: penelitian ilmiah Sains dan Teknologi Etika

Bagikan: