Inilah Standar Ketampanan Cowok Korea, Beda dengan Zaman Dulu

| 11 Mar 2023 20:05
Inilah Standar Ketampanan Cowok Korea, Beda dengan Zaman Dulu
Ilustrasi cowok tampan Korea, Jungkook (Twitter @Jungkook_SNS)

ERA.id - Bagi perempuan Indonesia, salah satu daya tarik Korea Selatan adalah para artis berwajah tampan—sebagian orang menyebutnya “pria cantik”. Ini bukan hal yang mengherankan sebab melambungnya industri seni peran dan tarik suara negeri tersebut memang tidak terlepas dari keindahan fisik artis-artisnya, terutama wajah.

Sebagian orang bahkan menjalani prosedur operasi plastik demi mendapatkan bentuk wajah sempurna berdasarkan standar ketampanan cowok Korea. Hal ini menunjukkan bahwa operasi plastik tidak lagi melulu berhubungan dengan kaum perempuan.  

Orang-orang tersebut ingin tampil menawan seperti para aktor drama Korea, film, dan penyanyi K-pop. Mereka ingin punya wajah yang putih, mulus, tampak muda, manis, dan terkesan androgini, tetapi tubuh tetap jantan.

Standar Ketampanan Cowok Korea

Selera penampilan pria Korea yang menjadi lebih feminin ada penyebabnya. Hal tersebut diketahui berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan Joy Kang, CEO Eunogo—klinik operasi plastik Korea di Singapura.

Artis Korea Selatan, Jimin (Twitter @JiminGlobal)

"Saya pikir standar ketampanan pria Korea memang berbeda akhir-akhir ini. Jika seorang pria Korea terlihat 'cantik' itu berarti dia tampan. Bagi pria Korea, mereka sebenarnya ingin tampil lebih feminin dibanding orang budaya lain," ungkap Joy Kang, dikutip Era.id dari nextshark.

Orang di Korea disebut tampan saat memiliki bentung rahang V dengan kulit yang mulus layaknya perempuan. Terkait hal tersebut, warna kulit putih kekuningan tetap menjadi primadona.

"Ketika kamu melihat bintang K-pop, mereka semua memiliki rahang berbentuk V dengan kulit mulus dan bertubuh maskulin tanpa cela sedikitpun, sempurna," tambah Kang.

Tak berbeda jauh dengan perempuan, laki-laki di Korea Selatan dinilai sebagai orang yang tampan saat wajahnya tetap terlihat muda atau imut.

"Bagi wanita, orang Korea punya istilah 'bagel girl', yang berarti wanita bewajah baby face, terlihat sangat muda tapi memiliki tubuh seksi," terang Kang.

"Sedangkan untuk pria, kita punya konsep yang sama, yaitu 'jimsung-dol', seorang pria muda berwajah imut dengan tubuh berotot dan sangat kencang," lanjutnya.

Pergeseran Standar Ketampanan Corok Korea Selatan

Menurut Kepala ahli bedah dari Banobagi Plastic Surgery, Lee Hyun-taek, terjadi pergeseran tren terkait wajah tampan di Korea Selatan. Dahulu, pria Korea melakukan operasi plastis untuk mendapatkan wajah yang tampak lebih maskulin. Namun, saat ini semakin banyak orang yang ingin tampil dengan wajah yang “cantik”.

"Dulu, pria Korea biasa melakukan operasi plastik untuk menjadi lebih maskulin, tapi sekarang banyak pria tertarik pada kosmetik dan perawatan tubuh," terang Lee.

Ada beberapa bagian wajah yang biasanya mengalami pengubahan dalam prosedur operasi plastik, seperti hidung, kelopak mata, kontur wajah, dan kontur tubuh. Ini merupakan jenis operasi yang paling umum dipilih oleh laki-laki Korea demi menjadi “pria cantik”.

Pengubahan fisik tidak berhenti pada bagian wajah. Kang dari Eunogo mengatakan, sebagian besar klien laki-lakinya menginginkan penyedotan payudara dan operasi untuk mendapatkan perut six pack. Dengan demikian, tubuh tampak atletis meski wajahnya cantik.

Selain itu, kepala ahli bedah Klinik Chaum, Jin Seok-in, mengatakan bahwa prosedur antipenuaan sangat populer akhir-akhir ini.

"Beberapa tahun yang lalu, kebanyakan pria hanya ingin menghilangkan bekas jerawat. Saat ini, pria lebih fokus pada keriput dan peremajaan. Pria ingin membuat wajah mereka tampak lebih muda. Botox dan filler adalah perawatan yang paling umum untuk pria karena murah dan cepat," terang Jin.

Uniknya, standar ketampanan cowok Korea Selatan tidak hanya diminati oleh laki-laki Korea Selatan. Perwakilan Klinik Chaum mengatakan, sekitar 70% klien mereka  adalah pasien dalam negeri, seangkan 30% adalah orang asing. Terkait total klien asing, 35% berasal dari China, 35% dari Kazakhstan, 20% dari Mongolia, sisanya dari AS, Jepang, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.

Rekomendasi