Mengapa di Beberapa Hotel Berbintang Tidak Disediakan Bantal Guling?

Tim Editor

Sabrina Panam Hotel Pekanbaru (Pegipegi)

ERA.id - Jika di hotel kelas melati kita kerap menemukan bantal guling, maka berbeda di beberapa hotel berbintang dengan standar internasional yang tidak menyediakan bantal guling.

Mengapa demikian? Alasannya, hotel tersebut mengikuti budaya pengunjung yang ia jadikan target pasar yakni orang Eropa. Di Eropa sendiri, bantal guling tidaklah begitu akrab dikenal.

JR Herjunto, seorang yang berposisi sebagai manajemen di sebuah hotel mengaku, beberapa hotel-hotel berbintang kebanyakan memang tidak menyediakan bantal guling, sebab para tamu yang dulu mayoritas tamu-tamu asing, tidak familiar dengan bantal guling.

Sejarahnya begini, Dutch wife sebutan Belanda atau bantal guling diperkenalkan masuk ke Indonesia, karena dibawa oleh orang Belanda itu sendiri pada masa kolonial. Saat itu, orang Belanda terkenal pelit dan jarang pulang ke negara asalnya.

Untuk memenuhi hasrat biologisnya karena pelit itu, maka dibuatlah bantal guling sebagai pengganti istri di tempat tidur, makanya disebut Dutch wife (istri Belanda). Di Eropa dan beberapa negara Barat pun tidak mengenal bantal guling.

Dilansir Historia.id, guling juga terdapat di negara lain di Asia Tenggara. Sementara di Asia Timur dinamakan “istri bambu”, jukbuin, chikufujin, atau zhufuren yang terbuat dari anyaman bambu. Varian itulah, yang mungkin memengaruhi Dutch wife, karena keberadaan jukbuin sudah jauh sebelumnya.

Budaya Hotel di Indonesia pun masuk dan masih terinspirasi kebudayaan Barat yang memang tidak mengenal bantal guling. "Beberapa hotel di Indonesia ada kok fasilitas bantal guling yang disediakan di dalam kamar, tentunya tergantung kebijakan masing-masing hotel juga," beber Junto.

Tag: yang unik hotel

Bagikan: